• Home
  • Sumatera
    • Aceh
    • Sumatera Utara
    • Sumatera Barat
    • Riau dan Kepri
    • Sumatera Selatan
    • Jambi
    • Bengkulu
    • Bangka Belitung
    • Lampung
  • Jawa
    • DKI Jakarta
    • Banten
    • Jawa Barat
    • Yogyakarta
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
  • Kalimantan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
    • Kalimantan Utara
    • Kalimantan Timur
  • Sulawesi
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Bali NTB NTT
    • Bali
    • Lombok
    • Sumba
    • Flores
  • Maluku dan Papua
    • Maluku
    • Papua
instagram Email

dodonulis

blog catatan perjalanan

kawasan malioboro jogja

Jogja selalu punya cerita yang membuat banyak orang terkesan dan punya berjuta alasan untuk kembali. Kawasan Malioboro mungkin bisa dikatakan sangat lekat dan merepresentasikan Jogja secara keseluruhan. Keramahan warganya, beragam seni dan kerajinannya, dan kesyahduan suasananya. Kawasan yang tidak pernah pudar pesonanya meski saban hari makin banyak tempat populer lain yang bermunculan. 

Wajah baru Malioboro semakin rapi, meski kehilangan sedikit sajian khasnya.

Hari kedua di Jogja, cerita sebelumnya dapat dibaca di : kembali ke jogja yang selalu punya cerita. Edu Hostel tempat penulis menginap terdiri dari lima lantai dan terdapat fasilitas kolam renang yang sayangnya sedang direnovasi. Hostel ini menyediakan sarapan gratis bagi peghuninya. Menu yang ditawarkan berganti setiap harinya, misal hari ini nasi goreng, besoknya nasi kuning. 

view jogja city

Dari rooftop hostel dapat melihat pemandangan 360 derajat Jogja dari ketinggian. Nampak Gunung Merapi yang tak pernah pudar keindahannya, juga Gunung Merbabu yang terletak di Magelang. Kami sarapan sambil berdiskusi ringan, menentukan rencana perjalanan hari itu. Intinya tidak perlu banyak-banyak tempat yang didatangi, lebih fokus ke kulinerannya saja.

tempo gelato kaliurang

Tujuan pertama kami adalah tempat makan es krim mainstream di jogja. Yup betul, Tempo Gelato :D Kami mendatangi cabang di Kaliurang yang searah dengan tujuan kami berikutnya. Kalian tim cone atau cup? Penulis pribadi lebih menyukai cone karena wafernya lebih banyak untuk dicemil haha... Jujurly penulis selalu kebingungan memilih varian rasa es krimnya karena saking banyaknya pilihan.

Selepas nyemil es krim, tujuan Penulis selanjutnya adalah Kopi Klotok untuk makan siang. Jogja memang surganya pecinta kuliner, ada yang sudah melegenda namanya dan ada yang baru-baru ini terkenal karena konsepnya. Kopi Klotok ini berkonsep klasik, bangunan rumah berbentuk joglo limasan yang menghadap ke persawahan yang menghijau. 

kopi klotok jogja

Kursi dan meja kayu di dalamnya membawa suasana lawas yang disertai dengan lampu strongking di dalam rumah. Selain itu pengunjung juga bisa makan di luar rumah, sudah disediakan lesehan beralaskan tikar untuk pengunjung yang ingin makan sambil melihat areal persawahan. 

kopi klotok

Menu yang disajikan berupa telor dadar, sayur lodeh, tempe goreng, dan bermacam lauk lainnya. Namanya Kopi Klotok ya minumannya kopi dong, tapi hal itu tak berlaku bagi penulis yang saat ini berhenti minum kopi karena menghindari naiknya asam lambung. Jadilah hanya memesan teh manis saja :D. 

svarga bumi magelang

Selepas makan siang, Kami beranjak menuju ke arah Magelang. Tujuan selanjutnya adalah Svarga Bumi yang letaknya berdekatan dengan kawasan Candi Borobudur. Bahkan dari lokasi ini dapat terlihat puncak Candi Borobudur dari kejauhan. Svarga Bumi ini kawasan persawahan yang disulap menjadi tempat wisata yang menyediakan spot foto instagenik.  

wajah baru kawasan malioboro

Pulang dari Magelang, Kami menuju ke Kawasan Malioboro dan memarkirkan kendaraan di Jl. Sosrowijayan. Wajah baru Malioboro jauh lebih rapi setelah direvitalisasi. Jalur pedestrian diperlebar dan semakin nyaman bagi pejalan kaki. 

Pemandangan yang jauh berubah adalah tidak adanya lagi PKL yang berjualan di sepanjang Malioboro. Menurut informasi yang beredar para pedagang kaki lima sudah direlokasi ke kawasan yang dinamai Teras 1 dan 2. 

titik nol jogja malam hari

Penulis sangat menikmati wajah baru Malioboro, sesekali melemparkan senyum takzim kepada pemandu delman yang menawarkan jasanya "Maaf pak, saya mau jalan saja :)".  Lampu jalan yang dipugar nampak lebih fresh. Kami pun berjalan sampai di kawasan titik 0 jogja, lalu mencari warkop terdekat untuk mengobrol ringan sebelum kembali ke hostel. Semakin malam obrolannya kian menarik, tak terasa sudah mendekati pukul sebelas malam. Mas-mas warungnya mengingatkan dengan sopan kalau mereka akan tutup sebentar lagi.

Keesokan harinya kembali ke Jakarta dengan Kereta Api Progo, lagi-lagi dengan kelas ekonomi. Syukurnya tempat duduk lebih lengang dan bisa berselenjor kaki. Sepanjang perjalanan mendengarkan musik-musik studio ghibli, film-film animenya sangat bagus meski tidak setenar disney dkk. Menyentuh, imajinatif, dan menguras emosi penonton. 

Salah satu film berjudul graves of the fireflies yang menceritakan efek domino perang dunia kedua, dua orang anak yang hidup terkatung-katung setelah kehilangan ayah dan ibunya. Percayalah, menonton film ini akan menguras emosi kalian sembari berharap redanya ketegangan yang terjadi antara Ukrania dan Rusia.

perjalanan kereta jogja jakarta

Terima kasih Jogja, semoga akan ada kunjungan berikutnya di lain waktu.

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
pantai slili gunung kidul

Jogja selalu punya cerita, banyak alasan yang membuat banyak orang jatuh cinta dengan kota ini. Kota yang menawarkan kenyamanan dan kedamaian yang membangunkan karsa untuk terus berkarya. Jogja bisa menjadi tempat menyegarkan pikiran yang sedang terhimpit stres karena pekerjaan, percintaan, atau persoalan rumit lainnya.

Tempat duduk nampak penuh malam itu, hanya satu-dua celah kursi yang kosong. Bisa jadi karena penumpang yang mengurungkan niat berangkat, atau penumpang yang telat karena masih di perempatan Salemba saat pluit petugas ditiup (tanda keberangkatan kereta). 

stasiun pasar senen jakarta pusat
Stasiun Pasar Senen

Penulis bersama kelima teman lain menggunakan kereta api Progo menuju jogja malam itu. Duduk di kursi kelas ekonomi, you know lah bagaimana posisi duduknya. Nyaman-nyaman saja sih karena sudah sering naik ekonomi sejak dulu, asal jangan bandingkan dengan reclining atau rotary seat seperti kelas bisnis dan eksekutif :D 

Mata tidak bisa terlelap, tidur-tidur ayam sepanjang perjalanan yaitu ketika mata terpejam tapi masih bisa mendengarkan obrolan teman sebelah. Guyonan dan tawa terbahak membuat Kami mendapat somasi malam itu, kondektur datang lalu menjelaskan dengan sopan bahwa ada penumpang lain yang melapor karena terganggu :) 

Pukul tujuh pagi, kereta berhenti sempurna di stasiun terakhir. Fisik yang kelelahan kadangkala membuat konsentrasi berkurang, Penulis kebingungan melihat kondisi stasiun yang nampak berbeda dibandingkan dengan dua tahun yang lalu saat terakhir kali ke Jogja. Setelah memperhatikan dengan lamat nampak tulisan Lempuyangan di dekat peron. Ya, kereta Progo rupanya tidak berhenti di Stasiun Tugu melainkan di Lempuyangan. 

stasiun lempuyangan di jogja
Stasiun Lempuyangan

Tidak ada itinerary kali ini, semua serba fleksibel karena niatnya memang mau bersantai tanpa tergesa-gesa mendatangi destinasi. Untuk mempermudah mobilitas kami menyewa mobil selama dua hari, tujuan pertama langsung menjajal kuliner Soto Kadipiro yang terkenal lezat. Pengunjung lain sudah ramai berdatangan meski warungnya baru buka pukul delapan pagi. 

warung soto kadipiro
belum buka udah ramai

Setelah makan, kami beranjak menuju ke Edu Hostel di Jl. Letjen Suprapto No.17, Ngampilan. Lokasinya di mana tuh? penjelasan simpelnya tidak terlalu jauh dari kawasan Malioboro, paling sekitar dua kilo saja. Edu hostel menyediakan tipe dorm room dengan ranjang bertingkat. Karena check in baru bisa pukul 12,  kami pun menunggu di ruang santai edu hostel yang agak luas. Di sana terdapat sofa panjang, karena kebetulan lagi sepi jadi kami gunakan untuk rebahan. 

Tujuan Kami selanjutnya adalah menuju Gunung Kidul yang terkenal dengan keindahan pantainya. Ada banyak pantai yang menarik dan rekomen untuk didatangi, namun pilihan kami adalah Pantai Slili yang letaknya bersebelahan dengan Pantai Krakal. Hujan turun deras, jarak pandang memendek sehingga harus lebih konsentrasi menyetir mobil. 

Kami memecah suara hujan dengan guyonan bagai gayung bersambut. Satu persatu mencoba mengeluarkan punchline terbaiknya.  Penulis yang notabene seorang introvert mencoba menyumbangkan lawakan ringan nan garing "Krik-krik dan gaje"... Intinya sih bagaimana suasana di dalam mobil harus ramai, tidak boleh ada yang mengantuk. 

pantai slili gunung kidul jogja

Kami tiba di Pantai Slili sekitar jam 15.30 WIB dan langsung menuju Cafe De Slili yang baru dibuka awal tahun 2021. Menurut penulis pribadi, cafe ini worth it untuk tempat nongkrong rame-rame meski harganya agak costly. Banyak spot menarik untuk koleksi foto potrait seperti panorama pantai Slili yang diapit oleh tebing-tebing karang di kanan dan kirinya. Pemandangan pulau karang juga terlihat jelas dari cafe ini. 

sunset di pantai slili gunung kidul

Langit perlahan berwarna keemasan di sebelah barat. Penulis berjalan menyusuri tepi pantai yang berpasir lembut, memotret satu-dua objek foto yang menarik. Pemandangan sunset yang mengagumkan di kala perjalanan itu bonus, melengkapi cerita-cerita yang hadir di setiap jejak kaki. 

Kami kembali ke Kota Jogja selepas salat Maghrib. Malam minggu jalanan kota terlihat ramai, warung tongkrongan nyaris tidak ada yang sepi.  Mungkin dari Kami berenam  hanya Penulis yang belum tau mengenai Menoewa Cafe. Saat masuk, penulis setengah kaget melihat pengunjung yang memenuhi tempat duduk di kursi panjang maupun lesehan tikar. Mata Kami memencar mencari tempat duduk kosong yang sulit sekali didapatkan, harus mengantri dulu.

menoewa cafe jogja

Apa yang membuat Menoewa Cafe begitu ramai didatangi? tidak hanya muda-mudi saja, rombongan keluarga juga ada. Duduk dan nongkrong di cafe ini bagai nonton konser sambil menghirup kopi dan jajanan ringan. Rupanya musisi yang sedang naik daun yaitu Tri Suaka sesekali tampil di cafe ini.  Sayangnya malam itu ybs tidak hadir, namun kolega yang tampil juga tidak kalah merdu suaranya. Lembut seperti ubin masjid :)

Sulit untuk melupakan Jogja yang selalu punya cerita. *semua foto di artikel ini diambil menggunakan kamera handphone, untuk menulis blog perjalanan tidak mesti menggunakan kamera dslr atau mirrorless :) 

- Gunung Kidul, 19 Februari 2022.

Bersambung di : pesona Malioboro yang tidak pernah pudar

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

kampung gajeboh baduy luar

Di tengah arus kemajuan teknologi, Suku Baduy Dalam masih mempertahankan kearifan lokalnya.  Memegang erat tanpa goyah, meskipun tidak jauh dari tempat mereka tinggal menawarkan kehidupan modern yang serba canggih. Mereka tidak tertarik dengan bangunan berbahan semen dan beton, produk tekstil bermacam rupa, dan pembaharuan teknologi yang melesat cepat. Mereka memilih untuk menampik segala tawaran kemewahan itu, hidup bersahaja berdampingan dengan alam dan menjaganya tetap lestari.

Penulis tersenyum takzim, perjalanan yang melelahkan terbayar tuntas dengan apa yang telah didapatkan sepulang dari Baduy Dalam. Nilai-nilai prinsip kehidupan yang dipegang erat Suku Baduy adalah salah satu alasan mengapa mereka masih tetap eksis di tengah kemajuan zaman. 

Ajakan dari Apri langsung penulis "iya" kan dua minggu yang lalu, teman dekat penulis ini mengajak ke Baduy, tempat yang memang masuk dalam bucket list Penulis. Sayangnya dua hari sebelum keberangkatan Apri mengabari kalau Ia tidak jadi ikut karena ada keluarga dari kampung datang, tak mengapa pikir Penulis karena sudah terbiasa juga jalan sendirian. Toh nantinya juga bakal bertemu dengan kenalan baru di jalan, bertukar cerita yang bisa di share satu sama lain.

Cara menuju Baduy

Untuk menuju Baduy, jaraknya tidak jauh dari Jakarta dan aksesnya juga tidak sulit. Penulis menggunakan KRL dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Rangkas Bitung dengan waktu tempuh dua jam. Setelah tiba di Rangkas, Penulis sudah ditunggu Tour Guide yaitu Bang Agung dan Bang Indra, kali ini Penulis menggunakan jasa open trip (OT). Penulis tidak mau ribet mencari angkot/elf ke Ciboleger, lalu belum tau bagaimana mencari tempat menginap di Baduy Dalam. Harga paket open trip yaitu Rp 200.000 rupiah, sudah termasuk dua kali makan di Baduy Dalam serta transportasi ke Ciboleger.

tugu baduy di ciboleger

Sebenarnya bisa kalau mau solo backpacker ke Baduy, dari Stasiun Rangkasbitung sobat harus mencari angkot tujuan terminal Aweh dulu. Lalu dari sana dilanjutkan naik mobil elf menuju Desa Ciboleger atau titik awal treking menuju Baduy Dalam. Landmark selamat datang di Ciboleger sangat terkenal di kalangan wisatawan. Menampilkan patung sebuah keluarga baduy yang lengkap dengan pakaian tradisional mereka.

Sebelum treking kami makan siang terlebih dahulu, karena tentunya membutuhkan asupan energi untuk turun naik bukit. Suku Baduy ada dua golongan yaitu Suku Baduy Luar dan Dalam, perbedaannya yaitu kehidupan Warga Baduy Dalam masih memegang erat aturan adatnya sedangkan Baduy Luar sebaliknya, kehidupan sosialnya telah terpengaruh zaman modern.

Dari Desa Ciboleger menuju Baduy Luar membutuhkan 1-2 jam perjalanan, tergantung kemampuan masing-masing individu. Kalau warga lokal pasti lebih cepat, bisa kurang dari satu jam saja. Dalam kelompok OT ini terbagi menjadi dua kelompok, yang pertama hanya sampai Baduy Luar tepatnya di kampung Gajeboh saja. Lalu kelompok kedua menuju Baduy Dalam tepatnya di Kampung Cibeo, waktu trekingnya lebih lama bisa sampai empat jam jalan kaki :D.

Jika ditanya alasan memilih treking sampai Baduy Dalam, jawabannya adalah karena ingin tahu lebih dekat kehidupan warga Baduy Dalam. Di sana sangat dilarang mengambil foto, video, bahkan merekam suara di Baduy Dalam. Sudah "dilarang" pakai kata "sangat" lagi, sudah jelas kan aturannya. Foto-foto Kampung Baduy yang tersebar di internet dapat dipastikan diambil di Baduy Luar. 

Penulis sebetulnya tidak terlalu siap untuk treking kali ini, karena sudah jarang sekali olahraga. Terakhir renang satu minggu sebelumnya, itupun hanya sebentar. Bagi sobat yang ingin treking Baduy Dalam disarankan olahraga kecil-kecilan ya, apalagi untuk yang benar-benar pemula (belum pernah treking).

warga baduy banten

Kenalkan, beliau adalah Pak Naldi dan anaknya Ardiman. host/ tuan rumah yang akan kami inapi di Baduy Dalam. Dari Beliau Penulis mendapat informasi tentang Suku Baduy, mulai dari Ikat Kepala yang mereka gunakan dengan sebutan "telekung", warna pakaian yang hanya putih dan hitam, dan kepercayaan Sunda Wiwitan yang mereka yakini.

Langkah kaki Pak Naldi layaknya berjalan tanpa beban di pundak, padahal sebaliknya dua buah tas milik peserta trip dibawakan olehnya. Pak Naldi dengan senang hati membawakannya, tentunya peserta yang menitipkan tas juga memberikan upah. Si gemes Ardiman, anak bungsu dari pak Naldi turut mengantar kami menuju rumahnya yang ada di Baduy Dalam. Raut muka polosnya terpancar, sambil membawa tas koja miliknya, juga sebilah golok kecil yang dipasang di pinggangnya. 

"Pak, mau nanya. Ardiman sudah membawa golok kecil fungsinya untuk apa" tanya Penulis ke Pak Naldi. "Untuk tugas yang kecil seperti membelah-belah daun pisang saja" ujar Pak Naldi. Bahasa yang digunakan keseharian warga Baduy adalah Bahasa Sunda, tetapi banyak warga Baduy yang bisa menggunakan Bahasa Indonesia meski sedikit kikuk.

Foto-foto yang Penulis bagikan di blog ini diambil di Baduy Luar saja, karena setelah tiba di perbatasan Baduy Luar dan Dalam kamera dalam posisi dimatikan. Sebagai tamu yang sopan kita haruslah menghormati aturan tuan rumah, bijaklah dalam bertamu, toh Kita sudah disambut mereka dengan ramah. Tidak hanya menyoal tentang kamera saja, aturan di Baduy Dalam ada juga larangan memakai segala jenis sabun. Satu hari sebelum keberangkatan Penulis sudah diingatkan oleh tour guide. 

Suasana Baduy Luar 

suasana di baduy luar

Jumlah kampung yang ada di Baduy Luar lebih dari enam puluhan, Penulis tidak terlalu ingat jumlah yang disebutkan Pak Naldi, kisaran 60 an pokoknya. Kehidupan warga Baduy Luar sendiri sudah terpengaruh dengan lingkungan modern saat ini. Ciri yang Penulis lihat adalah bangunan rumah yang sudah menggunakan paku, pakaian warganya yang tidak hanya hitam putih, dan penggunaan Handphone. Kata Bang Indra, kaum muda Baduy Luar bahkan ada yang mengenal sosmed :D.

Rumah-rumah warga Baduy Luar mirip semua bentuknya, dindingnya terbuat dari anyaman rotan dan bambu. Atapnya terbuat dari  ijuk yang dikeringkan. Daun Pintunya sudah nampak modern atau sama seperti daun pintu rumah pada umumnya. Beberapa perempuan Baduy Luar terlihat memakai perhiasan kalung emas.

"Warga Baduy Luar jika ingin ke Baduy Dalam juga dianggap sebagai tamu, mereka sama seperti kita bang. Tidak boleh menginap lebih dari satu malam." Ujar Indra, guide trip kami saat itu. Warga Baduy mayoritas berprofesi sebagai petani, di perjalanan banyak ditemui lumbung padi. 

lumbung padi di baduy luar

Penulis heran kenapa ada begitu banyak lumbung padi tetapi tidak ada sawah, rupanya warga Baduy menamai padi ini dengan "Huma" atau padi musiman sebagai pemenuhan pangan warganya. Warga Baduy Luar juga mempunyai keahlian dalam menenun kain, hasil kerajinan tangannya dijual dan dipajang di beberapa rumah. Harganya bervariasi sesuai ukuran kain. 

menenun kain khas baduy

Satu jam perjalanan Kami tiba di Kampung Gajeboh Baduy Luar, lalu Kami meniti anak tangga yang terbuat dari bambu dan diujung jembatan ada sebuah pohon besar yang berdaun rimbun. Kelompok trip pertama (hanya sampai baduy luar) berhenti di sini, lalu mereka menikmati waktu santai dengan bermain air di sungai yang berwarna kehijauan dan jernih. 

jembatan di kampung gajeboh baduy luar

Sementara Penulis beserta kelompok 2 melanjutkan perjalanan menuju Baduy Dalam. Oh iya, di desa Gajeboh ini masih diperbolehkan memotret foto atau video dengan HP dan Kamera karena perbatasan Baduy Luar dan Dalam masih jauh. "ini baru seperempatnya perjalanan bang" ujar Indra, kalimat yang membuat Penulis menghela nafas panjang.

Trek Naik Turun Bukit Menuju Baduy Dalam

pohon durian di baduy

Penulis pernah menjajal trek Bukit Penyesalan di Gunung Rinjani, terasa berat dan melelahkan sekali ditambah dengan suhu dingin yang melingkupi tubuh. Saat itu Penulis rutin lari dan renang satu bulan sebelum pendakian. Trek Baduy Dalam juga tidak kalah melelahkannya, mungkin karena faktor tidak pernah olahraga lagi sehingga membuat langkah kaki menjadi lebih berat.  Beruntungnya cuaca saat treking ke Baduy Dalam sedang galau alias mendung, jadinya tidak terlalu panas dan membuat cairan di tubuh tidak terhidrasi dengan cepat. 

sungai kecil dan jembatan bambu baduy

Sepanjang jalan menuju Baduy Dalam banyak dijumpai pohon-pohon durian yang menjulang tinggi, lalu diselingi pohon mangga dan jengkol.  Cuaca yang mendung dan rimbunnya pohon-pohon menjadi berkah tersendiri selama treking kali itu. Gemericik aliran sungai kecil mengiringi langkah Kami, suara tonggeret nyaring terdengar dengan nada khas dan iramanya yang berulang. Sering terlihat ayam peliharaan masyarakat Baduy yang dilepas begitu saja di kebun, mereka seolah sudah hafal jalan pulang yaitu pondokan milik warga, jadi tidak perlu dikurung dikandang. 

perbatasan baduy luar dan baduy dalam

Singkat cerita tibalah kami di sebuah jembatan yang terbuat dari bambu, ini merupakan batas antara Baduy Luar dan Dalam. Penulis memotret beberapa foto terlebih dahulu sebelum HP dan Kamera dimatikan. Saatnya "tanpa gadget" dan "tanpa listrik", ah teringat kejadian agustus 2019 yang lalu saat listrik padam melanda Jakarta berjam-jam. Masyarakat termasuk Penulis memenuhi pusat perbelanjaan dan rumah makan yang menggunakan UPS atau genset. Itu baru sebentar saja loh tanpa listrik, Mereka warga Baduy setiap harinya tanpa listrik :).

Menginap di Kampung Cibeo Baduy Dalam

Kami tiba di Kampung Cibeo pukul 17.42 WIB, mulai dari sini Penulis tidak memasukkan gambar apapun sampai pada akhir postingan. Mudah-mudahan cerita Penulis dapat menggambarkan pengalaman selama menginap di sana. Oh iya Penulis sempat iseng bertanya kepada Pak Naldi perkara gambar. "Pak, punten. Foto, Video, sama merekam suara kan gak boleh gimana kalau gambar/ngelukis pak? boleh gak" tanya penulis sopan. 

Pak Naldi menjawab dengan bahasa "campur" (antara Sunda dan Indonesia). Penulis tidak terlalu paham namun bisa menangkap intinya yaitu "Gak boleh". Setelah dipikir-pikir kembali, kan hasil lukisan/gambar juga membangun efek dua dimensi sama seperti foto HP dan Kamera haha. 

Terdapat tiga kampung di Baduy Dalam yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik.  Penulis berkunjung ke Kampung Cibeo saja, pertanda tiba di Cibeo adalah melewati jembatan yang lagi-lagi terbuat dari bambu. Dibawahnya mengalir sungai yang sangat vital dalam kehidupan masyarakat Cibeo sehari-hari. 

Bentuk rumah warga Cibeo kalau dibandingkan dengan rumah di Baduy Luar mempunyai kemiripan.  Terbuat dari kayu, anyaman bambu atau rotan, dan atapnya dari ijuk yang dikeringkan. Yang membedakannya adalah tidak ada sama sekali paku yang digunakan, jadi untuk menguatkan struktur rumah warga mengikatnya dengan anyaman dan menggunakan pasak sebagai penopang. Daun pintu yang digunakan juga sangat tradisional tidak menggunakan engsel.

Bang Indra mengajak Penulis untuk mandi di sungai, Penulis tentunya sangat mau karena badan sudah lengket dengan keringat. Untuk tamu laki-laki semuanya mandi di sungai, untuk tamu perempuan tersedia sebuah bilik air mancur sebagai tempat mandi. Karena segala jenis sabun tidak diperbolehkan jadinya mandi ala kadarnya, yang penting basah dan airnya segar :)

Pada malam hari suasana desa nampak gelap karena tidak ada listrik, Kegiatan diisi dengan makan malam dan bertanya-tanya tentang kehidupan di Suku Baduy, narasumbernya Pak Naldi tentunya. Kampung di Baduy Dalam mempunyai tetua adat yang dikenal dengan pu'un yang dibantu oleh wakilnya yaitu Jaro. Jika warga Baduy Dalam melanggar ketentuan adat hukumannya bisa sampai dikeluarkan dari Baduy Dalam. Cerai adalah salah satu hal yang tidak dibolehkan, sama seperti menikah dengan orang di luar Baduy Dalam. 

Penulis menginap bersama sembilan tamu yang lain di rumah Pak Naldi, enam diantaranya perempuan. Untuk posisi tidur, meski di dalam satu rumah tetap dibuat terpisah antara laki-laki dan perempuan, ada jaraknya :) Suhu di malam hari cukup dingin, jadi disarankan membawa sarung, selimut, dan lebih dianjurkan membawa sleeping bag jika ada. 

Keesokan harinya Penulis memilih tetap mandi meski suhu dingin, pengalaman mandi di Baduy Dalam sangat sayang untuk dilewatkan haha. Setelah sarapan pagi kami beranjak pulang menuju Ciboleger lagi. Kali ini dengan melewati rute yang berbeda, waktu tempuhnya lebih cepat akan tetapi treknya lebih terjal haha.

Sepertinya Penulis harus menarik kalimat tidak memasukkan foto lagi sampai di akhir postingan, karena Kami singgah di sebuah Danau yang ada di Baduy Luar sebelum tiba di Ciboleger. Penulis tidak terlalu tertarik untuk berenang, tetapi refleksi pohon yang memantul ke air membuat panorama yang menarik untuk difoto. 

danau di baduy luar

Penulis tiba di Ciboleger pukul satu siang, tak lama berselang hujan turun dengan derasnya. Wah syukurlah awan masih berkenan menahan hujan tidak tumpak selama treking, terima kasih Tuhan :)





Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
pulau peucang ujung kulon

Taman Nasional Ujung Kulon (TN Ujung Kulon) terletak di ujung barat Pulau Jawa dan termasuk dalam wilayah Provinsi Banten. Taman nasional ini terkenal sebagai habitat Badak Jawa bercula satu yang tergolong sebagai hewan langka. Selain itu terdapat pantai-pantai yang menyuguhkan keindahan pasir putih dan pemandangan bawah laut yang indah. Pada perjalanan menuju Ujung Kulon kali ini, Penulis berangkat bersama komunitas Bacpacker Jakarta. 

 

Rinai hujan membungkus langit Jakarta malam itu, semua peserta telah berkumpul di meeting point yang telah disepakati yaitu sekretariat Backpacker Jakarta.  Pada pukul sepuluh malam mobil bus yang kami tumpangi bergerak membelah jalanan yang basah. Mulanya penulis hanya kenal dengan satu orang teman bernama Berlian, pada akhirnya lingkar membaur dengan peserta lainnya meski sedikit canggung. 

bus menuju ujung kulon

Untuk menuju Kawasan TN Ujung Kulon, Kami harus menuju ke Pelabuhan yang ada di Kecamatan Sumur terlebih dahulu. Kecamatan ini terletak di Kabupaten Pandeglang, Banten. Lama perjalanan menggunakan bus adalah tujuh jam perjalanan, penulis memilih untuk tertidur meski tidak terlalu lelap. Pukul lima pagi, tibalah kami di Sumur. Teman-teman yang muslim dipersilahkan untuk Salat Shubuh terlebih dahulu di masjid terdekat.

pelabuhan sumur

 
kapal kayu di ujung kulon

Matahari mulai menyeruakkan cahayanya, pukul enam Kami memulai perjalanan laut dengan kapal kayu menuju Pulau Handeuleum selama kurang lebih dua jam. Perut pun bergejolak untuk segera diisi, Nasi uduk yang telah disediakan pun dimakan dengan lahap.

pantai di pulau handeuleum

Pukul delapan tibalah Penulis di Pulau Handeuleum, menurut website resmi TN Ujung Kulon, Luas Pulau Handeleum kurang lebih 220 Ha. Pulau ini mempunyai keindahan alam berupa Sungai Cigenter dengan pemandangan pepohonan bakau dan nipah yang tumbuh lebat di kedua sisi sungai. 

sungai cigenter di ujung kulon

Kami menyusuri Sungai Cigenter dengan perahu kecil yang muat hingga 10 orang, untuk menggerakkan perahu harus mengibaskan dayung. Arus sungai ini tenang sekali dan airnya berwarna hijau, kami diingatkan oleh Bapak Pemilik perahu untuk berhati-hati karena di sungai ini dihuni oleh buaya dan ular meski jarang terlihat.

Pukul sepuluh pagi, Kami beranjak kembali ke Kapal Kayu. Tujuan selanjutnya adalah menuju spot snorkeling di perairan TN Ujung Kulon. Terumbu Karang dan Ikan bermacam warna menjadi pesona yang memanjakan mata. Pukul satu siang, Kapal kami bersandar di dermaga Pulau Peucang.  

pulau peucang di taman nasional ujung kulon

Pulau Peucang mempunyai luas kurang lebih 450 Ha, pantai di pulau ini mempunyai pasir yang putih dan air yang jernih. Langit saat itu sedang cerah, dihiasi dengan awan putih bak kapas yang mengambang. Kami berada di pulau ini sampai pukul tiga sore, aktivitas yang dilakukan adalah berfoto ria, ada yang bermain pasir pantai, dan ada juga yang hanya duduk-duduk di pondokan. Rusa, Monyet, biawak, bahkan babi hutan dapat dijumpai di pulau ini. namun kawanan hewan liar itu tidak menganggu, sepertinya sudah terbiasa dengan kehadiran wisatawan :D.

Selanjutnya kapal kayu menuju Pulau Panaitan, tempat kami mendirikan tenda untuk menginap. Kesan pertama saat kapal akan bersandar adalah rasa kecewa karena banyak sampah yang mengambang di perairan dan bibir pantai. Padahal air lautnya sangat indah beserta dengan gulungan ombak yang sangat cocok untuk aktivitas surfing. Ini merupakan pengingat bagi penulis pribadi untuk dapat menjaga kelestarian lingkungan dari hal-hal kecil seperti tidak membuang sampah plastik sembarangan.

pulau panaitan

 

Mendirikan tenda bagi penulis adalah salah satu hal yang rumit :D, harus diakui penulis tidak pandai dalam hal ini. Beruntunglah dua teman yang lain bisa dan membantu untuk mendirikannya. Setelah tenda berhasil berdiri, teman-teman yang lain bergegas bersih-bersih (mandi). Penulis berjalan ke arah pantai, memotret langit jingga dari Pulau Panaitan.

sunset di pulau panaitan

 

Pada malam harinya setelah selesai makan malam, penulis memilih untuk tidur di saat teman-teman yang lain ada yang memasak indomie dan bermain kartu. Untuk "Kalian" Maaf ya saat itu tidak bergabung karena saya letih (lemah ya wkwk). 

Sekitar pukul tiga dini hari cuaca mulai tidak bersahabat, hujan turun dengan deras dan awet hingga pukul tujuh pagi. Rencana kami menuju Karang Copong dan Pulau Oar harus dibatalkan. Tetapi tetap penulis bersyukur karena diberikan cuaca yang sangat cerah di hari sebelumnya. 

Pukul sembilan pagi kapal kayu meninggalkan dermaga Pulau Panaitan, Kami pun menuju Pelabuhan Sumur dengan ombak yang cukup tinggi dan hujan. Beberapa peserta termasuk penulis mengalami mabuk laut, perjalanan menuju Sumur terasa lebih lama karena harus melawan ombak. Kami pun tiba di Sumur pukul tiga sore, lalu menumpang kamar mandi umum untuk bersih-bersih dan berganti pakaian.

Pukul lima sore, mobil bus menuju Jakarta dan perjalanan pun berakhir.




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
pelabuhan sunda kelapa
Pelabuhan Sunda Kelapa, dulunya dikenal sebagai pelabuhan yang sangat ramai dan menjadi akses perdagangan sejak zaman kerajaan hingga masa VOC yang menduduki Batavia. Tersohor di kalangan saudagar yang ada di dataran seberang seperti negeri China, India, Arab, dan Eropa. Pada abad ke-19 peran penting Pelabuhan Sunda Kelapa mulai tergantikan oleh Pelabuhan Tanjung Priok yang saat ini menjadi pelabuhan paling sibuk di Indonesia. 

suasana pelabuhan sunda kelapa
 

Lalu bagaimana kabar Pelabuhan Sunda Kelapa saat ini? jawabannya masih tetap beroperasi, meski peruntukannya berbeda seperti masa lalu. Suasananya juga tidak seramai dan sesibuk pada masa jayanya. Suasana pelabuhan yang klasik menjadi daya tarik tersendiri. Kapal-kapal kayu yang berukuran besar terlihat bersandar, truk-truk yang berlalu lalang, hingga para pekerja yang sedang sibuk memindahkan muatan dari kapal ke truk.

para pekerja di pelabuhan sunda kelapa

Penulis pun penasaran datang ke tempat ini, berulang kali merencankan akhirnya terlaksana juga pada bulan juli 2019. Berangkat bersama Bang Zein yang belum pernah mengunjungi tempat ini, meski sudah lama bertugas di Jakarta.  Kami pun berboncengan dengan sepeda motor menuju lokasi ini, berbekal google maps sebagai penunjuk arah.

Setibanya di lokasi pelabuhan dan memarkirkan sepeda motor, seorang Bapak berusia kisaran 40 tahunan datang menghampiri penulis, menawarkan jasa menyusuri perairan pelabuhan dengan perahu. Tarifnya saat itu lima puluh ribu rupiah dengan rute tujuan akhir mercusuar yang berwarna hijau. Naik perahu ini patut dicoba, sobat bisa melihat aktivitas dan suasana pelabuhan dari sudut lain dibanding berjalan kaki. Kurang lebih 15 menit perahu yang penulis tumpangi pun kembali bersandar.

kapal sedang bersandar di pelabuhan sunda kelapa

menara mercusuar di pelabuhan sunda kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa yang bersejarah saat ini juga terkenal sebagai salah satu tempat "hunting" foto di Jakarta. Bagi penyuka fotografi, cobalah datang saat menjelang sunset. Semburat warna jingga di langit menjadi penghias suasana Pelabuhan Sunda Kelapa dengan kapal-kapal besar yang sedang bersandar.

Penulis saat itu berkunjung ke Pelabuhan Sunda Kelapa pada pukul tiga sore, waktu yang kurang pas untuk berkunjung karena matahari begitu terik. Di dekat pelabuhan terdapat Museum Bahari yang bisa menjadi pilihan untuk dikunjungi, lalu ada juga Museum Menara Syahbandar yang bersejarah. Penulis pernah berkunjung ke kedua museum ini, tetapi lupa menyimpan koleksi foto-fotonya. Sepertinya tertarik untuk mengunjunginya kembali, mengisi waktu libur akhir pekan di Jakarta.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
puncak gunung gede di jawa barat
Pendakian Gunung Gede ini sudah lama sekali dilaksanakan yaitu tanggal 15-16 Juli 2017 yang lalu. Namun kenangannya masih teringat hingga sekarang. Cuaca selama dua hari pendakian saat itu sangat bersahabat, Bunga-bunga Edelweis sedang mekar dan menghampar luas di sekitaran Alun-alun Surya Kencana.  Gunung Gede terkenal mistis, tetapi syukur alhamdulillah penulis dan 12 teman yang lain tidak mengalami hal-hal ganjil selama pendakian.
 
Apa sih alasan orang-orang menyukai kegiatan mendaki ke atas gunung? Banyak orang-orang berkata mendaki gunung mengajarkan kita banyak hal seperti tentang kesabaran, mengenal diri sendiri, pantang menyerah, bersyukur atas ciptaan tuhan,  dan melawan sifat tidak mau mengalah atau keras kepala.

Mendaki gunung juga menuntut sang pendaki untuk siap menghadapi berbagai situasi. Seperti hujan lebat di saat pendakian, kebelet buang hajat di tengah pendakian, memikul carrier yang beratnya puluhan kilo, Kabut menggelayut saat di puncak, hingga tidak bisa menghubungi gebetan/pacar selama pendakian karena tidak ada sinyal.

Penulis pribadi masih tergolong pendaki pemula dan amatiran. Dalam catatan penulis tidak lebih dari lima gunung yang telah didaki, itupun semuanya masih di bawah 3000 Mdpl. Ada dua tempat di gunung yang ingin penulis datangi yaitu Ranu Kumbolo di Semeru dan Danau Sagara Anak Gunung Rinjani di Lombok. Entah kapan realisasinya, masih dalam angan-angan (Sembari mencari info jika sedang ada travel fair atau tiket diskon).

Kembali ke topik awal ya, Gunung Gede memiliki ketinggian 2958 Mdpl. Gunung ini secara administratif termasuk dalam tiga wilayah kabupaten yang ada di Jawa Barat (Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi). Jalur pendakiannya ada di tiga tempat juga, yaitu :

1. Gunung Putri di Kabupaten Bogor;

2.Cibodas di Kabupaten Cianjur;

3. Selabintana di Kabupaten Sukabumi.

 Untuk mendaki gunung ini para pendaki mendaftar terlebih dahulu di website www.gedepangrango.org. Di sana tertulis lengkap syarat dan aturan yang wajib dilaksanakan oleh pendaki, termasuk memilih rencana mendaki lewat jalur mana dan biaya SIMAKSI yang harus dibayar.

Perjalanan ke Basecamp

Perjalanan dari Jakarta dimulai pada Jumat malam, penulis dan 12 teman yang lain menggunakan Bus Marita dari kampung Rambutan dengan biaya Rp 30.000/orang. Sepanjang perjalanan alunan musik dangdut keroncong mengudara di ruangan bus, seperti menimang para penumpang untuk tidur lelap. 

Tibalah penulis di daerah Gunung putri pada pukul tiga dini hari. Saat keluar dari bus dan memikul tas carrier, para sopir angkot langsung menawarkan untuk mengantar kami menuju basecamp. Setelah kata sepakat, kami pun diantar.
 
Setelah tiba di basecamp kami pun mencari masjid untuk persiapan salat, setelah itu mencari warung makan terdekat untuk sarapan pagi. Suhu yang dingin menggoda penulis untuk memesan satu gelas teh hangat, sambil berbincang dengan teman yang lain. Menunggu langit lebih terang untuk memulai pendakian.

Pos-pos Pendakian

pos satu pendakian gunung gede
Pukul enam pagi, penulis dan rombongan telah siap mendaki. Sebelum berangkat kami diperiksa oleh petugas, mereka mengecek benda terlarang yang tidak boleh dibawa seperti odol, sabun, shampoo, dan barang lain yang dianggap bisa mencemari sumber air. Jika terlanjut membawa barang-barang tersebut tidak usah risau, titipkan saja ke petugas nanti ambilnya pas pulang.

Ladang perkebunan milik warga yang menghampar terlihat di awal mendaki. kontur jalannya masih cenderung datar, belum banyak tanjakan. sekitar satu jam dari basecamp, tibalah di Pos 1 yang dikenal dengan Pos Legok Leunca (pos selamat datang). 

Kami pun beristrihat sebentar di pos satu, tidak tergesa-gesa untuk sampai di camp area karena di dalam rombongan Kami terdapat dua orang perempuan yang perlu dijaga. Setelah istirahat dirasa cukup, perjalanan pun di lanjutkan menuju pos selanjutnya yaitu Buntut Lutung dengan kontur yang mulai menanjak tetapi masih ada jalur datarnya (bonus).

Pos selanjutnya adalah Lawang Sekateng dan Pos Simpang Malaber, bagian yang terberat karena jalur semakin menanjak dan jarang ada bonusnya. Larik cahaya menyembul di antara sela-sela daun-daun pohon yang rimbun.  Kami beristirahat lebih lama di sebuah warung kecil yang menyediakan minuman hangat dan menjual gorengan.

Alun-alun Surya Kencana

tenda di alun alun surya kencana gunung gede
Penulis tiba di alun-alun Surya Kencana sekitar pukul 13.00 WIB, bisa dibilang tempat ini mahkotanya gunung Gede. Hamparan padang rumput yang luas (di beberapa web menyebut sekitar 50 hektare). Tanaman edelweis banyak dijumpai di tempat ini. Beruntungnya penulis saat itu bunga-bunganya sedang mekar. Tempat ini mengingatkan penulis dengan tempat bernama Tegal Alun di gunung Papandayan di bulan Februari 2017, tempat penulis berkenalan pertama kali dengan Edelweis. 
bunga edelweis di alun alun surya kencana
Penulis dan rombongan pun mendirikan tenda dan segera mengeluarkan peralatan masak. Setelah itu Kami mengganti pakaian yang dipakai dengan pakaian kering di dalam tas. Siang itu kami tidak langsung menuju puncak gunung, hanya menyusuri alun-alun saja sambil berfoto ria. Malam harinya kami beristirahat dan makan malam, mengumpulkan energi untuk summit keesokan paginya.

Puncak Gunung Gede

Summit Attack dilangsungkan keesokan paginya. Kami berangkat pukul lima pagi setelah salat shubuh. Udara dingin terasa menusuk meski sudah memakai jaket. Headlamp menjadi penerangan kami saat menapaki jalan yang menanjak. Pohon Cantigi tumbuh rimbun di sebelah kanan dan kiri jalan setapak. Langit mulai terang dan larik cahaya mulai terlihat. Perhitungan kami salah, harusnya berangkat lebih awal jika tidak ingin momen sunrise terlewat.
sunrise gunung gede
Salah satu teman penulis bernama Faliq setengah berlari untuk menuju puncak lebih awal. Penulis pun menyusul di belakangnya. Pukul 5.45 WIB, Alhamdulillah syukur kepada tuhan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melihat keindahan ciptaannya di ketinggian 2958 Mdpl. 

Di puncak sudah ramai oleh pendaki lain, ada rombongan yang terlihat memakai seragam komunitas pendaki, mapala, hingga sebuah rombongan yang mengobrol bahasa palembang. Penjual gorengan sedang sibuk membuat adonan baru karena banyaknya yang memesan termasuk penulis.
gunung pangrango dilihat dari gunung gede
Dari atas puncak terlihat gagahnya tetangga Gunung Gede yaitu gunung Pangrango. Pemandangan kawah terlihat mengeluarkan kepul asap belerang. Kami pun kembali ke tenda dan berkemas untuk menuju ke basecamp. Alhamdulillah tiba di Jakarta dengan selamat dan sehat.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Buku Menulis Cerita Perjalanan

Buku Menulis Cerita Perjalanan
Pada tahun 2023, buku pertama saya berjudul Menulis Cerita Perjalanan resmi diterbitkan oleh Penerbit Jejak. Melalui buku ini saya menceritakan perjalanan selama berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Saya ingin perjalanan-perjalanan tersebut, tidak menguap begitu saja tidak ada bekas dan jejaknya. Jika para pembaca tertarik membacanya dapat klik gambar buku atau melalui link berikut : Shopee : https://id.shp.ee/hXGJwGT dan Toko Buku Jejak : https://tokobukujejak.com/detail/menulis-cerita-perjalanan-FCONM.html

Popular Posts

  • Naik Motor ke Pik 2, Memang Bisa?
  • Kolam Renang Bojana Tirta, Murah dan Nyaman
  • Jasa Antar Jemput ke Basecamp Gunung Dempo, CZ Trip and Tour Pagaralam
  • Solo Traveling ke Bandung (Part 2 : Motoran Sendirian ke Ciwidey)
  • Solo Traveling ke Lahat Dengan Kereta Api

Tentang Penulis

Halo para pembaca, penulis adalah seorang pemuda kelahiran tahun ’97. isi blog ini seputar cerita dan catatan penulis ketika berkunjung di beberapa provinsi di Indonesia, tujuan membuat blog ini supaya dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama yang mempunyai hobi traveling. penulis dapat dihubungi dengan berkirim email ke dodonulis1@gmail.com

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

recent posts

    Pages

    • Privacy Policy
    • About Me
    • Disclaimer
    • Contact

    BloggerHub

    BloggerHub Indonesia

    Created with by ThemeXpose