• Home
  • Sumatera
    • Aceh
    • Sumatera Utara
    • Sumatera Barat
    • Riau dan Kepri
    • Sumatera Selatan
    • Jambi
    • Bengkulu
    • Bangka Belitung
    • Lampung
  • Jawa
    • DKI Jakarta
    • Banten
    • Jawa Barat
    • Yogyakarta
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
  • Kalimantan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
    • Kalimantan Utara
    • Kalimantan Timur
  • Sulawesi
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Bali NTB NTT
    • Bali
    • Lombok
    • Sumba
    • Flores
  • Maluku dan Papua
    • Maluku
    • Papua
instagram Email

dodonulis

blog catatan perjalanan

landmark mamuju city

Provinsi Sulawesi Barat merupakan Provinsi termuda kedua di Indonesia setelah Kalimantan Utara. Secara resmi berpisah dari Sulawesi Selatan dan membentuk daerah otonom baru pada tahun 2004. Provinsi ke 33 Indonesia ini pemerintahannya berpusat di Mamuju, mempunyai destinasi wisata alam yang indah seperti Pulau Karampuang. Penulis berangkat ke Mamuju pada tanggal 5 April 2021, sendirian atau solo traveling menggunakan bus Damri.

Setelah mengexplore keindahan Kota Palu dan Donggala (baca selengkapnya di : Solo Traveling ke Palu dan Donggala). Penulis berangkat ke Terminal Tipo Palu, lalu bergegas menuju loket Damri untuk memesan tiket tujuan Mamuju, harganya yaitu Rp 180.000. Jadwal keberangkatan pukul sembilan pagi, akan tetapi molor setengah jam. 

loket damri di terminal tipo palu

Komposisi kursi bus damri yang penulis tumpangi adalah 2-2,  jarak antar tempat duduk sama seperti bus damri pada umumnya, tidak terlalu luas. Mungkin akan ada yang bertanya kenapa tidak memakai bus Khatulistiwa Trans atau Borlindo? alasannya karena biaya Damri lebih murah, penulis juga ingin mencoba banyak tipe bus tidak sebatas satu PO saja.  

Ada satu hal yang membuat penulis bergumam sebal, di tengah perjalanan bus berhenti dan menaikkan penumpang beserta barang bawaannya, kemudian tercium aroma durian. Argghh, membuat perut pusing dan kepala mual, eh kebalik :D. 

Berapa lama perjalanan dari Palu menuju Mamuju? normalnya 10 jam, di google maps juga sekitar itu. Tetapi Penulis tiba di Kota Mamuju pada pukul sembilan malam. Hotel yang penulis pesan di Mamuju adalah Hotel Yaki, lokasinya berada di dekat jalan besar yang dilalui oleh bus. Tarifnya Rp 110.000 saja dengan fasilitas AC, kamar mandi dengan air hangat, dan Televisi. 

hotel yaki di mamuju

Ketika penulis datang rupanya terjadi kesalahan sistem antar tiket.com dan sistem hotel, tipe kamar yang penulis pesan telah penuh padahal pembayarannya berhasil di aplikasi tiket.com. Sempat berdebat dengan petugas hotel dan akhirnya berhasil check in dengan kamar yang tersisa tanpa ada biaya tambahan apapun. Keesokan harinya penulis ditelepon oleh pihak tiket.com dan mereka meminta maaf atas kejadian yang dialami oleh Penulis.

Pagi hari pada tanggal 6 April 2021, Kota Mamuju dilanda hujan lebat dan angin kencang. Baru reda sekitar pukul delapan pagi. Penulis lantas mencari sarapan di dekat hotel dan menemukan warung makan nasi kuning. Tidak jauh dari tempat sarapan terdapat apotik Kimia Farma, setelah sarapan penulis langsung ke sana untuk melakukan Swab Antigen. Persiapan untuk terbang ke Jakarta esok harinya, jadi tidak perlu lagi repot-repot mencari tempat swab di Makassar. 

Pukul sebelas siang, Penulis memesan ojek menuju landmark "Mamuju City" yang terletak di bukit Anjoro Pitu. Tarifnya Rp 15.000, driver nya setuju untuk mengantar kembali Penulis ke kota, tarifnya dikalikan dua menjadi Rp 30.000. 

Landmark Mamuju City

mamuju city

Pemandangan yang menjadi perhatian penulis ketika tiba di kota ini adalah sebuah tulisan besar "Mamuju City" yang berada di perbukitan. Terlihat dari pusat kota dan ketika malam hari warna lampunya benderang terang. 

pemandangan kota mamuju dan pulau karampuang

Kalian harus datang ke sini jika berkunjung ke Mamuju, karena pemandangan yang tersaji dari lokasi ini keren banget. Pemandangan kota Mamuju yang berhadapan dengan laut, beserta pulau kecil bernama Karampuang dapat terlihat dari Bukit Anjoro Pitu ini. Landmark "Mamuju City" juga tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai landmark dengan tulisan terpanjang di Indonesia. 

Pantai Manakarra dan Gong Perdamaian Mamuju

gong perdamaian nusantara di mamuju
 

Anjungan pantai Manakarra merupakan sebuah ruang publik yang ramai dikunjungi oleh warga, terutama saat hari libur dan menjelang sunset. Beragam aktivitas warga di anjungan pantai ini seperti berolahraga, bermain dengan keluarga, atau sekedar nongkrong dan menikmati kuliner yang dijajalkan di sekitar pantai. 

Selain di Palu, Gong Perdamaian Nusantara juga terdapat di Kota Mamuju.  Gongnya dikelilingi pilar-pilar yang bertuliskan enam nama daerah di Sulawesi Barat. Karakteristik gongnya hampir sama, mempunyai gambar peta Indonesia di titik tengah. Terdapat juga lima simbol agama serta logo provinsi dan kabupaten di Indonesia.  

Mall Maleo dan Bekas Gempa

mall maleo town square

Mamuju dan Majene sempat dilanda gempa dahsyat pada bulan januari 2021 yang lalu, menimbulkan korban jiwa dan bangunan yang roboh. Salah satu bangunan yang rusak adalah Mall Maleo yang penulis lewati ketika menuju Anjungan Pantai Manakarra. 

Pulau Karampuang

perahu pulau karampuang

Penulis berjalan kaki ke arah pelabuhan, lalu tiba di sebuah dermaga kecil tempat perahu kayu bersandar. Tujuan penulis adalah Pulau Karampuang, pulau kecil yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Kota Mamuju. Setibanya di dermaga, penulis menghampiri pemilik perahu dan berkata ingin ke Pulau Karampuang. 

Lalu penulis ditanya oleh Pemilik perahu  "Mau ke Dermaga Desa Karampuang 1 apa ke Dermaga wisata Ujung Bulo dek?" Penulis bingung, karena belum pernah mencari informasi kalau di Pulau Karampuang ada dua dermaga. Lalu penulis melihat perahu yang telah terisi penuh lalu bertanya "Ini perahu ke mana Pak?". "Perahu ke Desa Karampuang dek" jawabnya. 

Akhirnya penulis ikut perahu tersebut dengan tarif Rp 10.000, lama perjalanan sekitar 20 menit. Arus ombak cukup tenang dan terlihat hutan mangrove tumbuh subur di sisi terluar pulau. Setelah tiba, penulis kaget karena tampilan dermaganya tidak sama seperti foto yang ada di internet. 

dermaga pulau karampuang

Lalu penulis menunjukkan foto dermaga yang ingin penulis datangi kepada pemilik perahu, rupanya penulis keliru naik. Harusnya tujuan penulis adalah ke Dermaga wisata Ujung Bulo :D. Meskipun begitu, Dermaga Desa Karampuang 1 juga menyuguhkan pemandangan yang indah. 

keindahan pulau karampuang
 

Anak-anak ramai bermain di sekitar dermaga, ada juga yang sedang memancing ikan. Penulis bertemu dengan seorang Ibu yang sedang bertugas menjadi Pendamping Desa di Karampuang, dari ibu inilah penulis banyak mendapatkan informasi tentang pulau ini. 

tugu selamat datang desa karampuang

Ada 11 dusun di pulau ini dan jumlah penduduknya sebanyak tiga ribuan jiwa. Pulau ini hanya terdapat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Jika ingin bersekolah SMA, harus menyeberang ke Mamuju dan akses ke sana yaitu perahu mesin yang penulis tumpangi tadi. 

Tidak jauh dari dermaga terdapat Sumur Jodoh yang konon katanya kalau meminum airnya maka akan mendapatkan jodoh. Tetapi kondisi dinding sumurnya berlumut, penulis tidak tertarik untuk meminumnya. Penulis lalu berkenalan dengan pemuda bernama Anji, orang yang mengantarkan penulis menuju Dermaga Ujung Bulo yang merupakan tujuan utama penulis di pulau ini.  Jalan di Pulau Karampuang hanya muat untuk sepeda motor saja, tidak ada sama sekali mobil di pulau ini. 

jalan di pulau karampuang

Tibalah Penulis di Dermaga Ujung Bulo, Anji pun pamit kembali ke dusunnya. Sebetulnya dia tidak meminta imbalan namun penulis tetap memberikan Rp 20.000 karena kebaikannya. Kondisi air laut sedang pasang, pantai dan ayunan di dekat dermaga direndam air laut. Memang pemandangannya lebih indah dibanding dengan dermaga sebelumnya. 

dermaga ujung bulo karampuang

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, tetapi tak satupun perahu yang ada di dermaga. Penulis mulai khawatir kalau tidak ada lagi perahu yang akan menyeberang ke Mamuju. Bisa berantakan rencana kalau harus menginap di sana, karena bus ke Makassar berangkat pada malam itu juga. 

Penulis bertanya kepada rombongan anak kecil yang sedang bermain di dermaga, lantas seorang anak membimbing penulis ke sebuah rumah. Meski tidak terlalu jelas apa yang dikatakan anak kecil itu, penulis bisa mencerna satu hal "Bapak anak kecil ini seorang pemilik perahu dan akan menyeberang ke Mamuju sore itu juga". Syukurlah Penulis tidak harus bermalam di pulau ini.

Bus Piposs Mamuju ke Makassar

Setelah tiba kembali di Mamuju, penulis masih sempat untuk salat maghrib sebentar di masjid yang ada di dekat anjungan Pantai Manakarra. Kemudian penulis memesan ojek menuju terminal Simbuang dan langsung menuju loket Bus Piposs untuk mengkonfirmasi tiket yang telah dipesan lewat traveloka. 

bus piposs mamuju makassar

Biayanya Rp 190.000, komposisi kursi 2-2 dan kaki bisa selonjoran. Penumpang juga diberikan selimut tebal dan bantal kecil. Hordeng di jendela bus juga ada. Jadwal keberangkatan bus adalah pukul 20.00 WITA dengan lama perjalanan sembilan jam. Penulis tiba di Kota Makassar pada pukul lima pagi keesokan harinya.


 

 

 


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
tugu dan gong perdamaian di palu

Sudah lama Penulis merencanakan Solo Traveling ke Palu dan Donggala, ingin mencoba naik bus melewati jalan trans Sulawesi. Berangkat sendirian tidak mengapa, tidak ada host atau teman/keluarga di sana juga bukan masalah. 

Seorang teman bertanya kepada Penulis, lancar tidak road trip kemarin? Jawabannya adalah Alhamdulillah bisa dibilang lancar, tetapi tetap saja ada satu-dua kejadian yang menghambat. Biarlah hambatan itu menjadi bumbu perjalanan, tak sedap rasanya jika tidak ada dalam cerita.

Rasa cemas selama solo traveling tentu ada, Namun Penulis selalu berusaha berpikir positif semua akan baik-baik saja, all izz well. Rasa puas membuncah ketika satu persatu daftar itinerary dijalankan, senang bisa survive di tempat yang belum pernah didatangi.

Penulis tiba di Kota Palu pada pukul lima sore dan bermalam di Hotel Samrat (cerita lengkapnya dapat dibaca di : Road trip Makassar Palu dengan bus Khatulistiwa Trans) . Penulis belum juga mendapatkan rental motor, karena dari tiga kontak rental yang Penulis hubungi mereka hanya menyediakan sewa untuk minimal dua hari, bahkan ada yang minimal penyewaan satu minggu. "Ah sudahlah, besok pagi sajalah dipikirkan kembali, Saatnya istirahat dulu."

Keesokan harinya pada tanggal 4 April 2021. Karena tak kunjung mendapatkan rental motor, Penulis memesan ojol dengan tujuan Tugu Perdamaian Palu, biayanya Rp 22.000. Berjarak 10 km dan waktu tempuhnya adalah 20 menit. Lumayan jauh dan terletak di perbukitan, Penulis khawatir cara kembali ke hotel karena pasti sulit mendapatkan ojol yang mau mengambil orderan di Tugu Perdamaian. 

Penulis menawarkan kepada Driver ojolnya untuk menunggu dan nantinya mengantar Penulis kembali ke hotel. Tarifnya dikalikan dua saja dari ongkos berangkat, namun sayangnya tawaran itu ditolak. "Kalau lima menit saja saya tungguin dek" katanya. "Ya kali pak, saya mau menikmati view-nya juga bukan sekedar foto-foto saja" 

Syukurlah di sana Penulis bertemu dengan tiga orang perempuan bernama Tamara, Tara, dan Ririn yang sedang menikmati hari libur mereka dengan hunting foto di Tugu Perdamaian. Lantas penulis bercerita layaknya orang yang baru kenal, menceritakan asal, sejak kapan di Palu, alasan mengapa jauh-jauh ke Palu, dan kesulitan mendapatkan sewa motor. 

"Nanti ikut kita aja kak, kita antar ke hotel" ujar Tamara. Tidak hanya itu Penulis juga diberikan kontak penyewaan motor oleh Tamara. Wah beruntung sekali, Terima kasih ya Tamara dkk :)

Tugu dan Gong Perdamaian Nusantara 

tugu perdamaian palu

Tugu dan Gong Perdamaian Nusantara berada di perbukitan kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. Dalam bahasa daerah disebut dengan Nosarara Nosabatutu, yang memiliki arti bersaudara dan bersatu. 

Provinsi Sulawesi tengah mempunyai memori kelam karena konflik komunal yang terjadi di Poso. Tugu ini dibuat Sebagai simbol persatuan, persaudaraan, dan perdamaian masyarakat Sulawesi Tengah.  Agar peristiwa seperti itu tidak terjadi lagi dan masyarakat hidup damai dan rukun, semoga intoleransi segera lenyap dari Nusantara.  

teluk palu

Tugu dan Gong Perdamaian Nusantara diresmikan pada tahun 2014 yang lalu, menjadi salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi di Kota Palu.  Dari Tugu Perdamaian dapat terlihat pemandangan kota serta Teluk Palu. 

Bangunan tugu perdamaian terdiri dari tiga tingkat yang merepresentasikan  tiga keseimbangan hidup, yaitu hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, hubungan antara manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya.  

gong perdamaian kota palu

Perhatian Penulis tertuju dengan sebuah gong besar berwarna keemasan. Pada bagian tengah gong terdapat gambar peta Indonesia yang dikelilingi oleh lima simbol agama yang ada di Indonesia yaitu Islam, Buddha, Kristen, Katolik, dan Hindu.

Pada bagian sisi terluar terdapat logo Provinsi dan Kabupaten yang ada di Indonesia. Namun sayangnya beberapa logo telah terkelupas, entah karena terkelupas alami atau karena ulah jahil pengunjung. 

tugu perdamaian palu

Ada banyak tempat menarik yang bisa dijadikan lokasi foto, seperti taman-taman yang terawat dan bunga Bugenvil yang sedang mekar. Karena berada di perbukitan, dari lokasi ini Penulis dapat melihat pemandangan kota Palu beserta teluk Palu.

Pusentasi Donggala

Setelah diantar ke Hotel oleh Tamara dkk, Penulis langsung bersiap-siap untuk menuju ke rumah yang menyewakan motor,  terletak di Jalan Bantilan-Palu Barat. Tarifnya 150 ribu untuk satu hari, sebagai jaminan Penulis menyerahkan KTP. 

Perjalanan menuju Pusentasi pun dimulai, namun baru berjalan sekitar 15 menit motor yang penulis kendarai mengalami masalah. Ban belakangnya bocor dan harus diganti, yang membuat masalah lebih serius adalah sulitnya mencari tempat tampal ban. Jarak Penulis dari Kota Palu sudah cukup jauh.

Setelah bertemu tempat tampal ban rupanya ban luar dan dalam harus diganti, amsyong dah. Untungnya membawa uang yang cukup untuk mengganti ban, ini pentingnya cash in hand dalam perjalanan karena belum tentu mudah menemukan atm di sekitar sana.

Setelah ban selesai diganti, Penulis melanjutkan perjalanan menuju Pusentasi atau Pusat Laut Donggala yang terletak di Banawa Tengah, Kabupaten Donggala. Jaraknya dari kota Palu sekitar 45 km, dengan waktu tempuh sekitar satu jam (jika tidak ada kendala seperti ban bocor). 

pusentasi donggala

Biaya masuk ke tempat wisata ini hanya Rp 2.500 saja loh, ditambah dengan uang parkir dua ribu saja. Pusentasi adalah sumur raksasa yang terbentuk secara alami yang dikelilingi bebatuan besar. Untuk mempercantik kawasan Pusentasi dibangunlah dinding-dinding yang mengelilingi area sumur.

Airnya jernih, bahkan bebatuan yang ada di dasar sumur dapat terlihat dari atas. Kalau sudah berkunjung di sini harus nyobain loncat dari atas bebatuan ke dalam sumur. Kedalaman Pusentasi serkitar 5 meter dan bisa berubah-ubah tergantung kondisi pasang-surut air laut. Sedangkan lebar atau diameter Pusentasi 10 meter. Rasa air di Pusentasi asin, dikarenakan letaknya yang berdekatan dengan pantai.

Pantai di dekat Pusentasi

pantai di dekat pusentasi donggala

Pantai yang berada di dekat Pusentasi juga tidak kalah indahnya. Air laut yang jernih dan pasir putih yang menghampar menarik perhatian pengunjung untuk datang. Bahkan ada yang mendirikan tenda dan bermalam di pantai ini. 

pantai pusentasi donggala
 

Di sekitar pantai terdapat penginapan, namun Penulis lupa menanyakan tarifnya. Fasilitas lain berupa warung dan kamar bilas, cukup lengkap namun yang kurang adalah tempat penitipan barang bawaan. Kejadian tidak menyenangkan dialami oleh salah seorang pengunjung, tas jinjing miliknya hilang karena keasikan bermain di pantai. 

Pantai Tanjung Karang

pantai tanjung karang donggala

Karena masih ada pantai yang ingin didatangi, Penulis pun bergegas ke parkiran dan memacu motor ke destinasi berikutnya. Pantai Tanjung Karang namanya, tempat favorit wisata keluarga. Pasir putih, air laut yang jernih, dan permainan banana boat ada di pantai ini. 

Di dekat pantai Tanjung Karang terdapat spot diving dan snorkeling, namun untuk menuju ke sana harus menyewa kapal. Teriknya matahari tidak menyurutkan semangat anak-anak yang berlarian dan bermain pasir di sekitar pantai, begitu juga dengan sekelompok komunitas gereja yang sedang menyelenggarakan kegiatan keagamaan di pantai.

 Masjid Apung Palu dan bekas tsunami

masjid apung palu

28 September 2018, bencana gempa dan tsunami melanda Palu, Donggala, dan sekitarnya. Membuat duka mendalam bagi warga. Kehilangan keluarga dan kerabat yang meninggal, kehilangan rumah beserta harta benda, rasa trauma yang masih dialami seperti yang dirasakan Pak Ikhwan (driver ojol di part sebelumnya).

jembatan kuning palu yang putus

Kini sudah hampir tiga tahun berlalu, bekas tsunami masih tersisa terutama di sepanjang pantai Talise. ruko-ruko dan mall yang rusak, rumah-rumah yang ambruk, Jembatan kuning Palu IV yang putus, dan Masjid Apung yang kini tidak terapung lagi. 

Tiang-tiang penyangga di Masjid Apung sudah roboh, badan masjid langsung menempel dengan karang dan air laut. Kini masjid sudah tidak difungsikan lagi sebagai tempat ibadah, hanya sebagai monumental pengingat kejadian 28 September 2018 yang lalu.

Pukul lima sore Penulis kembali ke hotel. Mandi, makan malam, dan packing untuk persiapan berangkat keesokan harinya menuju Mamuju. 

Cerita perjalanan di Mamuju dapat dibaca pada : Solo Traveling ke Mamuju


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

bus khatulistiwa trans makassar menuju palu

Penulis telah melakukan riset sana-sini, mengunjungi blog yang satu dan yang lainnya untuk mencari informasi sedetail mungkin supaya rencana road trip Makassar menuju Palu ini berjalan lancar. Perjalanan ini akan Penulis lakukan seorang diri alias solo traveling, jadinya persiapan harus matang. Lantas mengapa memilih untuk naik bus? padahal bisa menggunakan Pesawat direct dari Jakarta atau transit Pesawat Makassar-Palu, lebih menghemat waktu dan tenaga.

Kurang lebih 800 km jarak dari Kota Makassar menuju Kota Palu, jika menggunakan pesawat hanya memerlukan waktu satu jam saja. Jika menggunakan bus maka waktu yang diperlukan adalah 22 jam, what? ya hampir satu hari perjalanan. 

Selain alasan menghemat budget, alasan lain menggunakan bus adalah mencari pengalaman baru. Sungguh kenangan melewati jalanan trans Sulawesi tidak akan terlupakan bagi penulis. Pemandangan Selat Sulawesi terihat dari balik kaca jendela bus.

Sudah sejak lama Penulis mengikuti akun Instagram @celebesbislovers (Bis Mania Sulawesi), akun komunitas yang secara aktif membagikan informasi mengenai bus-bus yang ada di Sulawesi. Foto-foto bus yang terlihat mewah, elegan, beserta kursi-kursinya lapang menarik minat Penulis untuk mencobanya. 

Ada beberapa pilihan armada Bus yang menyediakan trayek Makassar menuju Palu, seperti Khatulistiwa Trans, Borlindo, Damri, dan PO lainnya. Penulis memilih naik Khatulistiwa Trans dan membeli tiketnya melalui Traveloka dengan biaya Rp 300.000.

Cerita perjalanan dimulai dari keberangkatan dari Jakarta menuju Makassar dengan pesawat Sriwijaya Air pada tanggal 2 April 2021. Cuaca di langit Makassar sedang tidak bersahabat saat itu, beberapa kali turbulensi terjadi, kilat menyala membuat ngeri, dan bulir air hujan terlihat di bagian jendela luar pesawat. 

pesawat sriwijaya air jakarta makassar

Alhamdulillah diberikan keselamatan selama penerbangan, pesawat mendarat sekitar pukul empat pagi di tengah guyuran hujan lebat. Karena tidak memakai garbarata, penumpang pun diantar menggunakan bus menuju ruang kedatangan.

Hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, malah semakin deras dan angin bertiup kencang. Suasana Bandara Sultan Hasanudin yang sedang dalam proses renovasi terlihat ramai.  Namun sedikit sekali kursi yang disediakan di dekat pintu kedatangan, beberapa orang duduk di lantai termasuk Penulis. Terjebak tidak bisa keluar bandara karena hujan.  

Tujuan Penulis selanjutnya seharusnya adalah menuju Rammang-Rammang dan Leang-leang yang ada di Maros, namun karena hujan tak kunjung mereda akhirnya batal. Penulis memutuskan menuju ke Kota dengan menggunakan Bus Damri. 

Biayanya hanya Rp 25.000 saja, jauh lebih murah dibanding naik taksi bandara maupun ojol sekalipun. Namun harus sabar menunggu karena baru tersedia pada pukul delapan pagi, itupun tidak langsung berangkat melainkan menunggu penumpang terisi penuh. Saat itu Penulis menunggu sampai jam sembilan baru berangkat :D.

masjid 99 kubah makassar

Hujan deras mulai mereda meski masih menyisakan rintik-rintik. Penulis turun di halte bus di depan Pantai Losari, memotret kawasan anjungan pantai yang tidak banyak berubah sejak kunjungan terakhir april 2019 yang lalu. Masjid 99 kubah masih belum selesai pengerjaannya. Pemandangan yang baru Penulis lihat adalah gambar-gambar mural di tulisan "City Of Makassar" yang terlihat artistik. 

Pukul sebelas siang,  Penulis makan di sebuah warung coto yang sudah terkenal di Makassar, yaitu Coto Nusantara. Karena hanya berjarak satu kilometer saja dari pantai Losari penulis memilih berjalan kaki saja. Melewati bangunan bersejarah Fort Rotterdam dan Kawasan pelabuhan Pelindo IV Makassar.

coto nusantara di makassar

Semangkuk Coto dibandrol Rp 25.000 rupiah dan satu buah ketupat seharga Rp 2.000 rupiah. Ada banyak pilihan wisata kuliner lain yang sama lezatnya, seperti Coto Gagak, Pallubasa Serigala, dan Konro Karebosi. 

masjid amirul mukminin atau masjid terapung makassar

Penulis Salat Jumat di masjid Amirul Mukminin, atau yang lebih dikenal dengan sebutan masjid terapung. lokasinya masih berada di sekitar kawasan Pantai Losari. Selesai salat Penulis tidur-tiduran di dalam masjid, bermain gawai, dan membuka buku yang sengaja dibawa untuk mengisi waktu luang selama perjalanan. 

terminal daya makassar

Barulah selepas salat Ashar, Penulis memesan ojol menuju Terminal Daya Makassar. Setibanya di terminal, Penulis langsung menuju loket Khatulistiwa Trans untuk mengkonfirmasi tiket bus yang dipesan lewat traveloka, karena E-tiket belum ada keterangan nomor kursi.  "Mba, saya pilihin kursi di dekat jendela ya. Kalau bisa agak depanan, tapi jangan yang paling depan" Ujar Penulis kepada petugas loket.

nomor telepon loket bus khatulistiwa trans

Suasana Terminal Daya Makassar sudah ramai oleh para penumpang. Namun sayangnya kondisi terminal menurut penulis kurang terawat, lantainya kotor, cat sudah pudar, dan sampah plastik ada yang berserak. Tetapi syukurlah terminal ini benar-benar bermanfaat, karena di kampung halaman Penulis terdapat terminal besar namun saat ini terbengkalai bertahun-tahun. Hampir tidak ada aktivitas di sana, sepi sekali.

kursi bus khatulistiwa trans

fasilitas bus khatulistiwa trans

Penulis masuk ke dalam Bus, komposisi tempat duduknya adalah 2-2 dan agak lapang sehingga kaki bisa selonjoran. Pada tiap-tiap kursi diberikan selimut dan bantal, namun sayangnya di jendela tidak dipasang hordeng saat itu. Toilet? tidak ada di dalam bus ini, kalau mau "setoran" saat bus berhenti di warung makan atau masjid.

Semua bus dari Makassar menuju Palu berangkatnya malam hari dari terminal daya. Pukul 18.30 bus bergerak keluar dari terminal, kursi penumpang terisi penuh. Di sebelah Penulis ada pria 30 tahunan yang baru selesai melaksanakan tugas dinas di Makassar.

Penulis belum mengantuk, bingung juga mau melakukan apalagi selain bermain gawai. Penulis memutuskan untuk menonton pertandingan live IBL lewat youtube lalu mulai merasakan kantuk. Penulis menyelimuti kepala hingga kaki dengan selimut dan tidur. 

Semburat warna keemasan matahari terlihat mengagumkan di pagi hari. Saat melihat google maps rupanya posisi bus sudah melewati Kota Mamuju. Bus berhenti di sebuah warung makan pukul 09.30 WITA. Kota Palu masih jauh :). 

pemandangan jalan makassar palu

Bus kembali melesat cepat, mata penulis terbuka dan melempar pandangan ke arah jendela. Di pinggir jalan berjejer pohon sawit dan kelapa. Hamparan laut Selat Makassar terlihat mengagumkan ketika bus melewati kontur jalan yang berbukit. 

terminal tipo palu

Bus tiba di Terminal Tipo Palu pada pukul 17.00 WITA. Perbukitan hijau menjadi pemandangan di belakang terminal, lalu di seberang jalan terminal langsung menghadap ke laut. Penulis memesan ojek online menuju hotel Samrat.  Driver bernama Pak Ikhwan meminta Penulis untuk keluar  dan berjalan menjauh sekitar 50 meter dari terminal. "Menghormati teman-teman ojek yang mangkal di dalam dek" katanya.

Jarak dari Hotel Samrat dengan Pantai Talise cukup dekat, sekitar 3 km. Penulis berpikir ulang mending mampir dulu ke pantai, lalu memfoto sunset. "Pak, saya boleh minta diantar ke pantai Talise saja, mau foto sunset" Pinta Penulis. "Wah, saya antar langsung ke hotel saja ya dek" Pak Ikhwan menolak. "Jaraknya kan deketan pak, nanti ongkosnya saya tambahin deh" Penulis menawarkan. 

"Bukannya gimana ya dek, saya inget kejadian tsunami kalo ke Talise sore-sore kayak gini. Saat itu kejadiannya menjelang maghrib. Saya kalau diajak makan gratis ke sana aja gak mau sore-sore kayak gini" Pak Ikhwan lanjut bercerita, beliau juga terseret arus saat tanggal 28 September 2018 yang lalu. Atas izin Tuhan, beliau selamat meski banyak luka di bagian kaki.

hotel samrat palu

Penulis tiba di hotel lalu mandi dan berganti pakaian. Harga kamar yang penulis pesan adalah Rp 150.000, memiliki fasilitas ranjang Single bed, AC, dan Televisi. Di samping hotel terdapat warung makan nasi kuning yang murah dan enak. Hingga malam itu, penulis belum juga mendapatkan sewa motor untuk berkeliling kota Palu keesokan harinya.

Bersambung ke bagian berikutnya : Solo Traveling ke Palu dan Donggala.

Catatan :

1. Tiket bus bisa dibeli lewat aplikasi traveloka, redbus, ataupun melalui loket resmi. Nomor HP loket bus khatulistiwa trans terdapat di foto yang penulis upload. Harga saat itu Rp 300.000 (bisa berubah sewaktu-waktu)

2. Siapkan cemilan selama di bus, membawa headset, buku, atau barang lain yang dapat digunakan untuk memanfaatkan waktu luang selama perjalanan panjang.

Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
keindahan desa kete kesu tana toraja

Pada perjalanan kali ini penulis berangkat bersama lima teman yang lainnya, salah satunya adalah Faliq, teman penulis yang sudah sering berangkat bersama. Perjalanan menuju Tana Toraja ditempuh selama tujuh jam perjalanan. Kami berangkat pada pukul 01.30 dini hari dari Bandara Hasanuddin Makasar, menyewa mobil dan seorang sopir yang akan menemani perjalanan ini selama dua hari satu malam.

Sepanjang perjalanan, penulis lebih banyak tertidur dan menempelkan kepala ke kaca jendela, terkadang sesekali berbincang dengan sopir yang asli Makassar. Barulah di saat matahari mulai menapaki langit penulis terbangun, mengamati dengan takjub pemandangan sisi kanan dan kiri  di sisa perjalanan.

Penulis hanya mempunyai waktu dua hari satu malam untuk menjelajah Tana Toraja saat itu, lebih tepatnya saat akhir pekan pada tanggal 13 s.d. 14 April 2019. Dua hari saja? apa tidak terlalu lelah? Memang terasa melelahkan berperjalanan jauh, tetapi bisa diantisipasi dengan istirahat yang cukup saat traveling. Begadang adalah hal yang harus dihindari, sebisa mungkin tidur sebelum jam sepuluh malam, supaya keesokan paginya badan terasa segar dan siap beraktivitas. 

Tempat apa saja yang penulis kunjungi saat itu? berikut ulasannya, selamat menyimak :

Negeri di Atas Awan Lolai To'tombi
negeri di atas awan lolai totombi di tana toraja
"Bang, buka saja jendelanya biar udara sejuknya dapat dirasakan langsung" usul salah satu teman kepada sopir. Setelah dibuka, benar saja udara yang sejuk seketika dapat dirasakan. Suasananya bisa mendamaikan pikiran dan hati. Pemandangannya juga sangat indah, meski kabut menggelayut menutupi perbukitan.
rumah tongkonan di lolai totombi
Mobil pun berhenti, tiba di tempat pertama yang disambangi, yaitu Negeri di Atas Awan Lolai To'tombi. Dari tempat parkiran, penulis masuk dan melihat deretan rumah tongkonan yang berdiri berhadapan. Lalu penulis menuju ke menara pandang untuk melihat perbukitan, namun sayang saat itu masih sangat pagi sehingga kabut masih menggelayut menutupi bukit.

Jika beruntung sobat dapat melihat hamparan samudera awan yang terbentang luas di sini,  namun terkadang harapan tidak sesuai dengan realita. Tempat ini sepertinya bisa dijadikan tempat untuk berkemah, penulis melihat beberapa tenda yang berdiri.

Desa Kete' Kesu

desa kete kesu tana toraja
Di Desa ini terdapat rumah adat Provinsi Sulawesi Selatan yaitu Tongkonan. Keunikan rumah adat ini adalah bentuk atapnya yang mirip seperti perahu. Rumah-rumah di desa ini saling berhadapan dan berjejer, di tengah-tengahnya terdapat sebuah pelataran yang memisahkan antar kedua sisi.
rumah tongkonan
Hal yang unik lainnya dari rumah adat ini adalah tanduk kerbau yang dipasang dibagian tiang penyanggah depan rumah. Semakin banyak tanduk yang dipajang menandakan semakin tinggi derajat sosial pemilik rumah tersebut di kalangan masyarakat adat.
pemandangan desa kete kesu di tana toraja
Desa ini sering dijadikan sebagai tempat upacara adat yang telah turun temurun dilakukan seperti dalam rangka pernikahan dan kematian warga suku Tana Toraja. Biaya upacaranya cukup mahal, menghabiskan hingga ratusan juta rupiah. 

Di lokasi ini penulis melihat kerbau yang dipelihara oleh masyarakat sekitar, bentuknya cukup besar. Bagi masyarakat suku Tana Toraja, kerbau memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Perkuburan Londa
kerbau albino atau bule di tana toraja
Setelah tiba di parkiran, penulis melihat seekor kerbau yang sedang diikat dengan tali di sebuah pohon. Warna albino yang unik sekali, baru kali ini penulis melihat kerbau seperti ini.

Tempat ini dijadikan pemakaman yang berada di tebing bebatuan dan terdapat gua di dalamnya. Jujur saja, penulis agak merinding masuk ke dalam kawasan ini. Antara takut dan penasaran, baiklah penulis memberanikan diri, tentunya dengan berjalan berdekatan dengan guide dan teman yang lain. 
perkuburan londa di tana toraja
Banyak peti dan tengkorak manusia yang ada di dalam perkuburan ini, bahkan ada kondisi petinya sudah lapuk. Bulu kuduk merinding ketika Penulis berada di dalam gua, tidak berani mengambil banyak foto di lokasi ini. Setelah memotret bagian depan tebing,  kamera tersimpan rapi di dalam tas. 

Saat masuk penulis hanya memperhatikan guide yang membawa kami menjelaskan beberapa hal. Salah satu hal yang penting diingat, Kita tidak boleh sembarangan memegang apalagi memindahkan tengkorak dan peti tersebut.

Patung Yesus Buntu Burake
patung yesus di tana toraja
Lokasi patung ini berada di ketinggian sekitar 1700 mdpl, tinggi badan patungnya mencapai 45 meter. Penduduk daerah Tana Toraja mayoritas beragama Nasrani, namun semua wisatawan dapat bebas masuk ke dalam tempat wisata ini tanpa memandang agama. 
patung yesus buntu burake di tana toraja
Penulis terkagum melihat lanskap alam di tempat ini, Sorot mata penulis tertuju ke arah gugusan pegunungan dan tebing bebatuan yang terlihat indah. Ada sebuah jembatan kaca yang tembus pandang ke arah bawah, jika sobat takut ketinggian jangan mendekat di jembatan ini ya.
bukit di dekat patung yesus tana toraja


bebatuan yang ada di bukit dekat patung yesus tana toraja
Setelah mengunjungi lokasi ini, penulis dkk menuju ke penginapan untuk beristirahat dan makan malam. Oh ya, jika berkunjung ke Tana Toraja jangan lupa untuk menikmati kopi khasnya yang termasyhur kenikmatannya.

Bukit Nona Enrekang
bukit nona enrekang
Hujan membalut daerah Tana Toraja di pagi hari, suhu udara menjadi dingin dan membuat penulis enggan beranjak dari kasur. Tetapi di hari kedua ini penulis harus kembali ke Makassar untuk terbang ke Jakarta pada pukul lima sore.
pemandangan di sekitar bukit nona enrekang
Di tengah perjalanan, penulis diajak singgah oleh sopir di sebuah tempat bernama Bukit Nona Enrekang. Bukit Nona ini secara administratif masuk ke wilayah Kabupaten Enrekang. Lokasinya berada di pinggir jalan raya, jadi tidak terlalu sulit akses mencapai lokasi ini.
keindahan perbukitan di bukit nona enrekang
Setelah tiba Penulis memandang takzim keindahan ciptaan tuhan. Gugusan perbukitan menghampar hijau, awan-awan tumpah menghiasi langit yang biru,  menambah keindahannya. Sungguh, pagi yang sempurna kala itu. Semoga semua titipan Tuhan ini tetap lestari, terjaga dan tidak rusak karena ulah manusia.

Cuaca serasa sejuk sebagaimana mestinya di ketinggian. Ah sayangnya waktu penulis tidak terlalu banyak, harus segera mengakhiri kunjungan ini tanpa meminum segelas kopi pun di lokasi ini. 

Penulis tiba di Makassar sekitar pukul dua siang, sebelum menuju ke bandara penulis menikmati Coto Makassar terlebih dahulu. Penulis pernah memposting tulisan tentang catatan perjalanan satu hari di Kota Makassar, silahkan dibaca jika sobat tertarik.

Besar harapan penulis semoga suatu saat bisa kembali ke Sulawesi. Melanjutkan perjalanan ke Kota lain di Sulawesi seperti Mamuju, Palu, Gorontalo, dan Manado. Semoga suatu saat bisa terwujud.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Buku Menulis Cerita Perjalanan

Buku Menulis Cerita Perjalanan
Pada tahun 2023, buku pertama saya berjudul Menulis Cerita Perjalanan resmi diterbitkan oleh Penerbit Jejak. Melalui buku ini saya menceritakan perjalanan selama berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Saya ingin perjalanan-perjalanan tersebut, tidak menguap begitu saja tidak ada bekas dan jejaknya. Jika para pembaca tertarik membacanya dapat klik gambar buku atau melalui link berikut : Shopee : https://id.shp.ee/hXGJwGT dan Toko Buku Jejak : https://tokobukujejak.com/detail/menulis-cerita-perjalanan-FCONM.html

Popular Posts

  • Kolam Renang Bojana Tirta, Murah dan Nyaman
  • Perjalanan ke Banda Neira Dengan Pesawat Sam Air
  • Pertama Kali Tektok Gunung Gede Via Putri
  • Sleeper Bus Palembang Jakarta, Memangnya Ada?
  • Road Trip Jakarta ke Palembang dengan Bus Epa Star

Tentang Penulis

Halo para pembaca, penulis adalah seorang pemuda kelahiran tahun ’97. isi blog ini seputar cerita dan catatan penulis ketika berkunjung di beberapa provinsi di Indonesia, tujuan membuat blog ini supaya dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama yang mempunyai hobi traveling. penulis dapat dihubungi dengan berkirim email ke dodonulis1@gmail.com

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

recent posts

    Pages

    • Privacy Policy
    • About Me
    • Disclaimer
    • Contact

    BloggerHub

    BloggerHub Indonesia

    Created with by ThemeXpose