Walking Tour Muntok, Hunting Foto Bangunan Tua di Bangka Barat

by - 9/18/2026 10:35:00 AM

museum_timah_muntok

Wisatawan yang berkunjung ke Pulau Bangka pada dasarnya dapat dikelompokkan berdasarkan preferensi liburan mereka. Bagi yang menyukai pantai saya rasa pergi ke daerah Sungai Liat adalah opsi yang tepat, di sana banyak pantai-pantai dengan pasir putih, bebatuan granit besar, dan laut yang jernih (meski tidak selalu, kadang-kadang keruh). 

Jika yang dominan menyukai tempat-tempat estetik dan unik di sebuah daerah,  berkunjung ke Daerah Koba adalah pilihan yang tepat. Karena di sana terdapat Danau Kaolin yang berwarna biru, terbentuk akibat bekas penambangan timah yang menjadi kawasan wisata. Selain itu tidak jauh dari sana terdapat juga Danau Pading yang tenang dan (agak) teduh.

Sementara traveler yang menyukai aktivitas city tour dan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah di Pulau Bangka, saya rasa lebih cocok ke Pangkalpinang dan Muntok. Di sana banyak bangunan bersejarah dan cagar budaya. Termasuk museum timah. Karena sedari dulu kedua daerah itu sangat vital bagi perdagangan timah, sejak zaman kolonial.

Tiga opsi itu sekedar pilihan yang saya berikan jika para traveler hanya mempunyai waktu yang singkat, satu atau dua hari saja di Pulau Bangka. Nah, bila punya waktu lebih lama, kunjungi saja semuanya. Termasuk daerah Toboali di Bangka Selatan, kalian bisa naik bianglala. Lalu melihat perkebunan Lada Bangka, salah satu komoditas perkebunan unggulan di pulau ini.

Saya rasa sudah banyak yang mengulas keindahan alam berupa pantai, danau, serta tempat-tempat wisata di Bangka. Saya juga sempat mengulasnya di postingan terdahulu. Kali ini saya akan fokus bercerita tentang Muntok saja. Pernah di suatu hari saya berjalan kaki, mengitari tengah kota. Saya takjub dengan bangunan-bangunan tua di sana, lalu mencoba mengulik beberapa arsip foto di kitlv, lantas membayangkan betapa bergeliatnya kota ini di masa lalu.

Muntok, Bangka Barat

jalan_taman_kota_muntok

Muntok di Kabupaten Bangka Barat adalah pintu gerbang utama penyeberangan laut yang menghubungkan Pulau Bangka (Pelabuhan Tanjung Kalian) dan Pulau Sumatera (Pelabuhan Tanjung Api-api). Kapal feri secara reguler beroperasi sebanyak empat hingga delapan kali sehari untuk mendukung arus penumpang dan logistik keluar masuk Pulau Bangka berjalan lancar.

Jarak Pangkalpinang-Muntok sekitar 142 KM atau sekitar tiga jam berkendara, jauh dari Bandara Depati Amir Pangkalpinang, sehingga terkadang membuat beberapa traveler enggan datang ke Muntok. Padahal ada sisi yang menarik untuk dikunjungi. Apa itu? Jawabannya adalah wisata sejarah. 

Tiga Destinasi yang menurut saya paling ramai dan terkenal adalah Museum Timah, Pesanggarahan Menumbing, dan Wisma Ranggam. Saya akan menyajikan ulasan ketiga tempat itu, saya selipkan beberapa tempat lain yang menurut saya potensial dan dapat menjadi daya tarik tersendiri untuk para pelancong, namun sayangnya belum diperhatikan secara optimal. Kota Tua Muntok.

Panduan Rute Jalan Kaki (Walking Tour) di Kota Muntok

Seperti daerah pesisir pada umumnya, suhu udara Muntok terbilang panas. Waktu terbaik untuk berjalan kaki adalah sekitar pukul tujuh hingga sembilan pagi, agar terhindar dari panas teriknya matahari.

1. Museum Timah

Hoofdbureau_Banka_Tinwinning_Muntok

Hoofdbureau - Banka Tinwinning, nama bangunan yang tertulis tegak di sisi depan bangunan khas kolonial yang berada di jantung Kota Muntok. Anno 1915 menjadi penanda bahwa bangunan ini sudah berusia 111 tahun pada tahun 2026. Jendela-jendela tinggi dan lebar membuat sirkulasi udara di dalamnya lebih lega, seperti bangunan-bangunan cagar budaya bekas kolonial pada umumnya.

Banka Tinwinning masih ada, namun saat ini sudah bertransformasi menjadi PT Timah Indonesia, salah satu perusahaan BUMN besar yang fokus pada perdagangan dan pertambangan timah. Dulu pada awal 1950-an,  nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing sangat gencar dilakukan sebagai proses dekolonisasi ekonomi pasca kemerdekaan. 

Berdirinya Hoofdbureau - Banka Tinwinning di Kota Muntok, Bangka Barat adalah legitimasi bahwa daerah ini menjadi denyut nadi dan sangat penting bagi perusahaan timah legendaris itu. Hingga kini, Muntok masih menjadi tumpuan,  seperti bongkar muat aktivitas perdagangan dan pengelolahan biji timah di Pulau Bangka.

Mengunjungi museum dan bangunan bersejarah adalah salah satu cara untuk mengenal tradisi, budaya, dan belajar identitas sebuah daerah. Jika kalian berkunjung ke Pulau Bangka dan suka berkunjung ke museum, saya rasa wajib memasukkan Museum Timah dalam daftar itinerary. Di sana menyimpan koleksi galeri tentang sejarah, edukasi timah, dan dilengkapi perpustakaan.

Nah, setelah mengunjungi museum timah. Saran saya, jangan langsung berpindah tempat ke Pesanggarahan Muntok dan Wisma Ranggam. Cobalah jalan kaki sebentar, menyisiri alun-alun, taman kota, kawasan pelabuhan, dan pasar. Tidak perlu jauh-jauh, sekitar lima ribu langkah saja atau sekitar 45 menit. 

Saya mengabadikan aktivitas walking tour yang saya lakukan waktu itu, senang berkesempatan melihat lanskap kota ini. Sudah terbilang lama saya tidak melakukan aktivitas city tour dengan berjalan kaki, melihat aktivitas masyarakat lokal lebih dekat, merasakan suasana kehidupan di daerah yang masih asing.

2. Alun-alun, Taman Kota, dan Rumah Cluster Khas Eropa

rumah_cluster_eropa_muntok

rumah_jabatan_bupati_muntok_bangka_barat

Bangunan rumah cluster bergaya khas eropa masih berdiri megah di sekitaran alun-alun dan taman kota yang teduh, pepohonan besar membuat suasana terasa rindang di tengah sengat matahari yang terik.  Masih di area tersebut, terdapat rumah dinas jabatan bupati Bangka Barat yang sudah lama berdiri dan menjadi salah satu bangunan cagar budaya. 

3. Menara Tua dan Jangkar Dinding

menara_jembatan_di_muntok

Saya beranjak menuju ke kawasan pasar. Saya berhenti sejenak untuk memotret sebuah menara tua dan bangunan-bangunan di sekitarnya yang direkatkan dengan jangkar dinding, pelat penahan yang terbuat dari besi untuk memperkuat struktur bangunan yang banyak ditemukan pada bangunan arsitektur lawas. Kota Tua Muntok masih sangat lekat dan jejak peninggalannya masih banyak tersisa, meski sebagian tidak terawat. 

4. Sungai Arang-arang atau Sungai Ulu

sungai-arang-arang-muntok

sungai_muntok

Jejak sebuah kota atau daerah selalu beriringan dengan arus sungai yang mengalir di dekatnya. Demikian juga di Muntok, Sungai Arang-arang bertepikan bangunan rumah dan ruko-roko yang padat. Ramai dan riuh, sepeda motor sibuk lalu-lalang, pedagang terlihat sibuk di pagi hari. 

5. Masjid Jami dan Kelenteng Kong Fuk Miau

masjid_kelenteng_berdekatan_di_muntok

Pemandangan yang menyejukkan mata adalah ketika melihat tempat beribadah berdiri berdekatan. Seperti masjid dan kelenteng yang menjadi simbol toleransi umat beragama. Lebih spesial lagi, kedua bangunan ini sudah tua. Masjid Jami dibangun tahun 1883 Masehi, sedangkan kelenteng dibangun lebih awal pada tahun 1820.  

6. Rumah Mayor China

rumah_mayor_china_muntok

Berjalan ke arah pelabuhan, kita akan melihat sebuah mangunan megah dan besar bernama Rumah Mayor China yang diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda untuk megatur etnis China dalam berdagang, menambang timah, tenaga kerja, dan sebagainya. 

7. Kantor Eks Syahbandar di Muntok

kantor_eks_syahbandar_muntok

Nafas perdagangan di sebuah daerah kepulauan pada zaman kolonial adalah pelabuhan dan dermaga. Maka tak heran, setiap kawasan kota tua seperti di Fatahilah Jakarta, Kota Tua Semarang, dll selalu berada di pinggir laut, berdekatan dengan area pelabuhan.

Salah satu bangunan cagar budaya yang berada di dekat pelabuhan lama Muntok adalah bangunan kantor eks syahbandar dan bangunan lain di sekitarnya yang merupakan tempat berlangsungnya proses perizinan dan administrasi ekspor impor serta lalu lintas kapal pada masa lampau.

8. Kopi Tungku dan Kota Seribu Kue

pasar_tradisional_muntok

kota_seribu_kue_muntok

Dari area pelabuhan, terdapat jembatan di atas Sungai Arang-arang yang dapat menembus pasar tradisional dan tempat pelelangan ikan. Selain itu di ujung pasanya kita dapat melihat aliran sungai yang bermuara langsung ke laut. 

Pasar tradisional Muntok sangat sibuk di pagi hari, aroma khas jajanan pasar dan kopi tungku menguar. Muntok juga mendapatkan julukan kota seribu kue.

Baiklah, tempat-tempat yang saya ulas di atas dapat kita kunjungi dengan berjalan kaki karena jaraknya saling berdekatan dan searah. Selanjutnya untuk Wisma Menumbing dan Wisma Ranggam, saya sarankan menggunakan kendaraan bermotor karena lokasinya terbilang jauh untuk jalan kaki.

Destinasi sejarah kemerdekaan RI (dengan kendaraan bermotor)

1. Pesanggarahan Menumbing Muntok

Bangunan bergaya artistektur kolonial ini terletak di atas bukit dan memiliki nilai historis bagi negara ini karena menjadi tempat pengasingan para pemimpin Republik indonesia pada masa agresi militer II (1948-1949) termasuk wakil presiden Mohammad Hatta.

Jalan menuju pesanggarahan menumbing memiliki tanjakan yang curam dan berkelok-kelok karena lokasinya yang berada di atas bukit. Karena jalannya sempit, terdapat pos pengamanan yang difungsikan untuk saluran komunikasi agar kendaraan dapat naik dan turun secara bergantian.

2. Wisma Ranggam

Jika Hatta tinggal di Pesanggarahan Menumbing, berbeda dengan tempat pengasingan Presiden pertama RI yaitu Soekarno yang berada di Wisma Ranggam pada masa agresi militer II (1948-1949). Lokasinya masih berada di jantung kota, sehingga masih memungkinkan jika berjalan kaki ke sana sekaligus bisa melewati taman wilhelmina yang telah menjadi lapangan sepakbola.

Saya tidak akan membahas panjang lebar tentang sejarah bangunan dan historis perjuangan pasca kemerdekaan seperti diplomasi, perundingan, dan sebagainya. Kalian bisa mencari informasi tersebut melalui laman web lain atau bisa langsung membacanya ketika berada di kedua wisma tersebut.

Penutup

Saya yakin pemerintah setempat sudah melakukan banyak hal untuk menyelamatkan dan menjaga cagar budaya dan bangunan tua lainnya di Muntok, Bangka Barat. Besar harapannya identitas sejarah di sini dapat terjaga dan revitalisasi dapat dilakukan berkelanjutan agar Kota Tua Muntok dapat sejajar dan menarik wisatawan datang seperti Kota Tua di kota-kota lainnya di Indonesia. 


You May Also Like

0 komentar