• Home
  • Sumatera
    • Aceh
    • Sumatera Utara
    • Sumatera Barat
    • Riau dan Kepri
    • Sumatera Selatan
    • Jambi
    • Bengkulu
    • Bangka Belitung
    • Lampung
  • Jawa
    • DKI Jakarta
    • Banten
    • Jawa Barat
    • Yogyakarta
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
  • Kalimantan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
    • Kalimantan Utara
    • Kalimantan Timur
  • Sulawesi
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Bali NTB NTT
    • Bali
    • Lombok
    • Sumba
    • Flores
  • Maluku dan Papua
    • Maluku
    • Papua
instagram Email

dodonulis

blog catatan perjalanan

masjid islamic center tarakan

Penulis pernah mengulas mengenai keindahan Kepulauan Derawan, sebut saja Danau Labuan Cermin, Pulau Maratua, Danau Kakaban, dan Perairan Talisayan (tempat melihat whaleshark). Sedikit flashback perjalanan waktu itu, jasa open trip Derawan memberikan opsi dua tempat meeting point yaitu dari Tarakan atau Berau. Kebetulan saat itu Pesawat Sriwijaya Air masih mempunyai rute dari Jakarta menuju kedua bandara di kota itu. 

bandara juwata tarakan

Penulis akhirnya memilih meeting point di Tarakan saja, alasannya karena punya kenalan teman kantor yang bertugas di sana. Singkat cerita 7 September 2018 pukul tujuh malam penulis tiba di Bandara Juwata Tarakan.  Teman penulis bernama Aji, sudah menunggu di ruang tunggu kedatangan dan kami pun langsung melaju menuju pusat kota.

"Bro, kamu bawa baju kemeja gak?" ujar Aji. Pertanyaan yang agak aneh memang, rupanya malam itu juga temannya Aji melangsungkan resepsi pernikahan. Jadilah penulis berganti pakaian dan merapikan rambut ikal yang sudah kusut. Pengalaman yang unik, baru sebentar mata memencar melihat bandara Juwata tiba-tiba langsung diajak ke kondangan pernikahan orang yang tidak dikenal.  "jadi temenku ini orang jawa bro, dia penempatan kerja di Tarakan sudah dua tahun. eh ketemu jodohnya orang tarakan" cerita Aji saat itu. 

Penulis menginap malam itu di rumah dinas yang ditempati Aji dkk. Sungguh beruntung disambut dengan hangat di kota ini, honestly baru kali itu bertemu Aji. Sebelumnya hanya bercakap melalui whatsapp , itupun dapat nomornya dari teman penulis yang lain. Keesokan harinya penulis diajak keliling sebentar di sekitar Kota Tarakan, masih punya waktu sebelum jam 11 siang (janji berkumpul di tempat meeting point trip derawan).

"Sebetulnya ada tempat wisata kayak hutan kota gitu bro, tapi belum buka sekarang" ujar Aji. Motor yang dikendarai pun melintasi jalanan yang masih lengang, belum banyak lalu lalang kendaraan. "Kita ke Pantai Amal saja, gak terlalu jauh kok dari sini" suara Aji samar-samar terdengar dari balik kaca helmnya. 

pantai amal tarakan

Setibanya di Pantai Amal, suasana sepi melompong hanya ada pedagang warung yang masih bersarung. Hari jumat memang minim aktivitas di tempat wisata seperti ini, biasanya saat weekend ramai yang datang. 

Kami duduk-duduk saja sambil bertukar cerita, Penulis lebih banyak mendengarkan. Ada beberapa catatan kecil mengenai kota ini, Tarakan dianugerahkan tuhan dengan sumber daya alam minyak yang melimpah. Penulis awalnya mengira Provinsi Kalimantan Utara pusat pemerintahannya terletak di Tarakan. Rupanya salah besar karena ibu kotanya terletak di Tanjung Selor yang berbeda pulau dengan Tarakan. Untuk menuju ke sana bisa menggunakan kapal cepat dengan waktu tempuh 1,5 jam. 

"Bro, aku gak bisa lama-lama ya.  soalnya kebagian jadwal piket kerja hari ini, maaf ya gak bisa nemenin di pelabuhan" ujar Aji. Kesan pertama kali bertemu dengan Aji ini orangnya supel dan super baik, penulis kira dia off / libur kerja hari itu jadinya tidak perlu repot-repot menemani keliling melihat Kota Tarakan pagi itu.

pelabuhan tengkayu 1 tarakan

Selepas berpamitan dengan Aji, penulis menuju Pelabuhan Tengkayu I untuk bersiap berangkat ke Derawan.  Cerita lengkapnya bisa dibaca di : Keindahan Derawan di Kalimantan.

Perjalanan yang menyenangkan, beruntung bisa menyempatkan singgah di Tarakan meski hanya hitungan jam saja. Syukurlah dua tahun berselang mendengar kabar mutasi Aji ke Jakarta, bertemu lagi di momen yang tak biasa yaitu apel bulanan kantor :D



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
keindahan taman nasional sebangau
Setelah menyelesaikan tugas selama dua hari di Palangkaraya, penulis pun mempunyai waktu luang setengah hari sebelum kembali ke Jakarta. Waktu yang cukup untuk melihat-lihat tempat wisata di Kota yang mendapat julukan Kota Cantik ini. Setelah browsing, penulis pun tertarik melihat keindahan Taman Nasional Sebangau (TN Sebangau).

Sekilas mengenai Taman Nasional Sebangau, terletak di Provinsi Kalimantan Tengah dan termasuk dalam bagian wilayah Kota Palangkaraya, Kabupaten Katingan, dan Kabupaten Pulang Pisau. TN Sebangau Memiliki keanekaragaman jenis flora dan fauna termasuk Orang Utan. Air sungainya mempunyai ciri khas bertanah gambut sehingga terlihat berwarna hitam kemerah-merahan.

Penulis pun menuju ke lobi hotel tempat menginap, lalu bertanya bagaimana cara menuju taman nasional ini.  "Sebangau tidak jauh dari Kota kok mas, Naik ojek online saja dan atur lokasi tujuan ke Dermaga Kereng Bangkirai. Di sana tersedia kapal hias untuk wisata susur sungai dengan rute pendek, Rp 10.000 saja. Kalau mau treking dan masuk ke dalam lagi biayanya agak mahal, kalau tidak salah biaya sewa kapal sekitar lima ratus ribu an." Informasi yang cukup lengkap dari salah satu Staf Hotel tempat penulis menginap di Palangkaraya.

Penulis pun segera mengeluarkan gawai dari saku celana, lantas membuka aplikasi Gojek dan mengatur lokasi tujuan ke Dermaga Kereng Bangkirai. Waktu tempuh dari pusat kota sekitar 15 menit saja dengan tarif saat itu Rp 20.000.
desa kereng bangkirai
Tibalah penulis di gapura Selamat Datang di Dermaga Kereng Bangkirai, lalu berjalan kaki melewati rumah penduduk desa yang kebanyakan berdinding kayu. Seratus meter berjalan kaki penulis melihat rumah-rumah warga yang berdiri di atas sungai. Anak-anak sedang riang mandi dan bermain air, warna airnya hitam kemerah-merahan. Bukan karena kotor melainkan ciri khas air dari tanah gambut.
air hitam di sebangau
dermaga kereng bangkirai

Penulis pun menuju ke ujung dermaga, melihat klotok, perahu, dan kapal hias yang sedang bersandar. Para pengunjung sedang sepi sekali saat itu. Lalu datanglah seorang bapak menawarkan untuk naik ke atas klotoknya, penulis pun tersenyum dan mengatakan "nanti pak, saya mau keliling-keliling dermaga dulu". Sebetulnya penulis menunggu pengunjung yang lain datang, supaya bisa berangkat bersama-sama. Kalau sendiri khawatir kena tarif biaya lebih mahal :D.
taman nasional sebangau di palangkaraya
Lima belas menit menunggu datanglah rombongan empat orang pemuda yang berniat untuk susur sungai. Akhirnya penulis ikut rombongan mereka, tarifnya saat itu Rp 10.000 saja untuk satu orang. Setara dengan jarak susur sungainya yang dekat, sekitar 30 menit saja dengan tujuan pos terdekat. Jika ingin lebih jauh lagi menyusuri sungai koran harus menyewa perahu dengan tarif yang agak mahal. Penulis mau-mau saja sebetulnya saat itu, tetapi karena sore itu juga harus kembali ke Jakarta sepertinya tidak cukup waktunya.
relfeksi di air sungai taman nasional sebangau
tanaman rasau di sebangau
Klotok pun melaju, pemandangan bangunan-bangunan rumah warga berganti menjadi pemandangan tanaman Rasau yang tumbuh subur.  Pantulan warna langit yang biru dan awan yang putih  terlihat mengagumkan. Tumbuh-tumbuhan perdu gambut menghampar luas, mengingatkan penulis dengan perjalanan saat ke Tanjung Puting yang lalu.
pos taman nasional sebangau
klotok di taman nasional sebangau
Tibalah penulis di sebuah bangunan kecil seperti pos pantau, inilah titik akhir susur sungai hari itu.  Klotok pun bersandar, lalu pengemudinya memberikan waktu kepada Kami untuk bersantai sejenak di pos ini. Empat pemuda yang berangkat bersama penulis mandi di air sungai. Penulis hanya duduk memperhatikan, sambil menatap ngeri. Bagaimana jika ada reptil yang tiba-tiba terusik karena mereka mandi di sana, tetapi syukurlah saat itu tidak terjadi apa-apa.
kereta roli di taman nasional sebangau
Datanglah dua klotok yang lainnya ke pos ini, terlihat rombongan warga negara asing yang nampaknya hendak melakukan penelitian. Mereka pun bergantian menumpang sebuah kereta roli menuju ke dalam kawasan hutan. Selang beberapa menit kemudian, pengemudi klotok memanggil penulis untuk kembali naik. Lalu berakhirlah perjalananan penulis di TN Sebangau yang ada di Palangkaraya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Dalam beberapa tahun terakhir, perpindahan Ibu Kota dari Jakarta ke daerah yang baru menjadi topik yang diperbincangkan di berbagai media. Keputusan itu akhirnya disampaikan pada Agustus 2019 yang lalu oleh Presiden Joko Widodo. Beliau menyatakan lokasinya akan berada di Penajam Paser Utara dan sebagian wilayah Kutai di Kalimantan Timur.

Penulis tidak akan membahas tentang progres pemindahan Ibu Kota, karena tidak mempunyai kapabilitas membahasnya. Konsen blog ini seputar cerita perjalanan penulis menuju tempat yang pernah dikunjungi saja, belum berencana memuat hal lain, entah esok lusa belum tau kedepannya :). Pada postingan ini penulis akan membahas tentang Tugu Soekarno yang berada di Palangkaraya, Kota yang dulunya sempat diisukan menjadi Ibu Kota Negara yang baru.

Setiap Ibu Kota Provinsi di Indonesia mempunyai tempat atau bangunan ikonik. Dapat berupa museum, tugu, jembatan, tempat ibadah, benteng bersejarah, dan sebagainya. Ketika berkunjung ke Palangkaraya pada januari yang lalu, penulis menyempatkan diri mengunjungi ikon kota yang dijuluki Kota Cantik ini, yaitu Tugu Soekarno dan Taman Pasuk Kameloh yang menyajikan pemandangan Jembatan Kahayan.

Ada satu ikon lagi yang belum penulis sebutkan yaitu Bundaran Besar Palangkaraya, saat itu penulis tidak singgah dan hanya melihat sepintas saja saat menumpang ojek online. Lokasi Tugu Soekarno dan Taman Pasuk Kameloh ini bersebelahan, itulah alasan yang membuat penulis membahasnya sekaligus. 

Tugu Soekarno

monumen di palangkaraya
Di lokasi ini terdapat monumen yang mempunyai 17 pancang, lalu terdapat tiang utama yang berdiri paling depan dan paling tinggi di antara yang lainnya. Di bawah tiang utama terdapat prasasti yang bertuliskan  "17 Juli 1957, pemantjangan tiang pertama kota Palangkaraya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah oleh P.J.M Presiden R.I, Dr.Ir. Soekarno". Monumen ini menjadi simbol penting sejarah Provinsi Kalimantan Tengah dan Kota Palangkaraya,

Presiden Jokowi sempat mengunjungi lokasi ini Mei 2019 yang lalu, di Akun Instagram Beliau bahkan sempat membuat sebuah post mengenai kunjungannya. Kunjungan itu santer membuat warga menduga Palangkaraya lah yang akan menjadi ibu kota baru, meskipun dalam pengumuman resmi beliau berkata lain.
tugu soekarno di palangkaraya
Berjarak hanya beberapa meter saja dari lokasi monumen, terdapat Tugu Soekarno yang sedang menunjuk ke arah tiang-tiang pancang yang berdiri. Dibangun untuk mengenang tokoh negara yang pernah berkunjung langsung ke kota ini. Waktu terbaik berkunjung ke lokasi ini adalah sore hari, sobat bisa melihat keramaian warga yang berkunjung di sekitar taman sembari melihat pemandangan Jembatan dan Sungai Kahayan.

Taman Pasuk Kameloh

sungai kahayan di palangkaraya
Penulis berjalan kaki menuju ke arah gapura yang berada di belakang tugu. Lalu menyisir jalan yang mengarah ke pinggir sungai, mengamati rumah-rumah panggung yang berdiri di tepi sungai, perahu-perahu kecil lalu lalang membentuk suara yang khas.

Pulau Kalimantan terkenal mempunyai banyak sekali aliran sungai, Sungai Kahayan di Kalimantan Tengah ini adalah salah satunya. Beberapa perahu sedang bersandar di dermaga kecil, pemiliknya menawarkan jasanya ke penulis untuk berkeliling menyusuri sungai. Penulis sebetulnya ingin mengiyakan tawarannya, tetapi tidak ada pengunjung lain yang berniat sama seperti penulis. Kalau pergi sendirian pasti biaya yang dikeluarkan lebih banyak, urung :D
jembatan kahayan di palangkaraya
Penulis pun berjalan ke ujung jalan yang terbuat dari papan, dari sana terlihat Jembatan Kahayan yang mempunyai bentuk lengkungan seperti busur pada bagian tengah. Berwarna oranye dan berdiri megah di atas sungai. Kebetulan saat itu penulis sedang menggunakan baju bola Timnas Belanda berwarna oranye, jadinya senada dengan warna jembatan.

Kemudian penulis berjalan menuju Taman Pasuk Kameloh, pengunjung saat itu cukup ramai. Bapak-Ibu, anak-anak, Muda-mudi berkumpul menikmati sore hari. Sendiri di tengah keramaian, itulah yang penulis rasakan saat itu hahaha. Di taman ini terdapat sebuah Masjid bernama Darulamin yang mempunyai kubah berbentuk kerucut berwarna hijau. 
taman pasuk kameloh di palangkaraya
Tempat wisata yang dibangun di tepi sungai banyak dijumpai di berbagai wilayah di Indonesia, tetapi di setiap tempat selalu mempunyai ciri khas masing-masing. Mungkin menikmati view sungai bisa dijadikan ide untuk mengisi waktu jika sobat berkunjung ke Kota Cantik ini. Saat itu awan mendung terlihat bergumul menebari langit, membuat penulis mengakhiri kunjungan di taman ini lebih cepat pada pukul lima sore.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pukul enam pagi ketika embun belum sempurna menguap, masih tersisa di helai daun. Suasana sepagi itu masih hening dan jalanan Pangkalan Bun lengang dari aktivitas. Penulis berjalan menyusuri sebuah jalan papan yang sepertinya terbuat dari kayu ulin di bantaran Sungai Arut.

Penulis mendatangi sebuah kampung dengan cat warna-warni pelangi yang menghiasi dinding-dinding rumah, dioles dengan lukisan-lukisan yang menarik. Penulis lantas menuju ke sebuah dermaga kecil yang tepat berada di pinggir sungai, di sana sudah menunggu seorang pengemudi getek (perahu kecil) yang siap mengantar para penumpangnya.

"Biaya keliling sungai berapa Pak?" tanya penulis singkat.
"Lima puluh ribu saja dek, nanti diantar sampai jembatan terus balik lagi ke sini." Kata Bapak yang memakai jaket tebal dan topi rimba yang sudah terlihat lusuh itu.
"Tidak bisa kurang Pak" tawar penulis
"Itu sudah tarif normal dek" Ujar bapak pengemudi getek.

Baiklah, penulis mengiyakan. Lantas penulis berhati-hati ketika melangkah dari papan dermaga ke atas getek. Bapak pengemudi mengulurkan tangannya, berupaya membantu. Setelah itu penulis mengambil tempat duduk di bagian depan getek.
sungai arut pangkalan bun
Mesin getek pun dinyalakan, terdengar sedikit bising di telinga. Bunyinya seperti getek getek getek, mungkin itu alasan mengapa perahu kecil ini dinamakan seperti itu.  Getek pun melaju perlahan lantas kemudian semakin cepat, membelah arus Sungai Arut. 

Perjalanan melihat suasana pagi di Sungai Arut pun dimulai. Larik cahaya Matahari mengenai wajah penulis, membuat silau. Penulis menyilangkan tangan di depan wajah untuk menghindari silau.
menyusuri sungai arut di pagi hari
Semilir angin menerpa penulis, terkadang getek dari arah berlawanan membuat riak gelombang sehingga sedikit menggoyangkan getek. Penulis pun kaget, kemudian dengan erat mengenggam kedua sisi getek. Penulis menoleh ke belakang, melihat bapak pengemudi yang terlihat calm, seolah mengatakan "Tenaaaang, geteknya aman, tidak akan terbalik".

masjid di tepi sungai arut
Penulis tahu alasan mengapa jalan raya tadi lengang, karena masyarakat sibuk beraktivitas di pinggir sungai sepagi ini. Ada ibu-ibu yang sedang mencuci pakaian, Bapak-bapak yang terlihat merapikan jala, anak-anak yang sedang terlibat "perang air" atau mandi, dan berbagai aktivitas lainnya.

Sungai Arut terletak di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Sungai Arut nampaknya menjadi sebuah sahabat setia masyarakat bantaran sungai, saling berdekatan membentuk keselarasan.
rumah rumah kayu di pinggir sungai arut
Penulis melihat rumah-rumah kayu yang berdiri di tepi sungai, kemudian terdapat kapal kayu yang berukuran cukup besar, lalu terdapat jalan papan yang terbuat dari kayu ulin yang menghubungkan antar rumah. Penulis menjumpai tiga buah masjid yang penulis potret, berdiri dengan sederhana di pinggir sungai.
masjid di pinggir sungai arut
Selama kurang lebih 15 menit, getek pun tiba di jembatan Sungai Arut. Oh ya bagi sobat yang tertarik dengan wisata kuliner, cobalah untuk mampir ke rumah makan yang ada di dekat jembatan ini. Setelah tiba di jembatan ini, sesuai kesepakatan di awal maka getek pun kembali lagi menuju dermaga kecil di dekat kampung warna-warni.
rumah makan tepi sungai arut
Bila saat berangkat menuju jembatan penulis sibuk mengambil foto dengan kamera, maka saat perjalanan kembali menuju kampung pelangi penulis lebih banyak memperhatikan sisi sungai, memasukkan kamera ke dalam tas dan menguncinya rapat. Sesekali penulis tersenyum takzim menyapa para warga yang sedang berada di pinggir sungai, lalu mereka membalas dengan tersenyum kembali.
kampung pelangi di pangkalan bun
Pulau Kalimantan memang mempunyai banyak sungai-sungai yang besar seperti Kapuas, Barito, Mahakam, Kahayan, dll. Salah satu tempat wisata sungai yang ingin sekali penulis kunjungi suatu saat adalah Pasar Apung di Banjarmasin, semoga suatu saat :).








Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kalimantan terkenal sebagai paru-paru dunia karena pohon-pohon tropis yang menjulang tinggi dan tumbuh lebat di dalamnya. Sungai-sungai besar meliuk-liuk di berbagai penjuru Kalimantan. Keanekaragaman flora dan fauna menjadi mahkota di hutan Kalimantan, bahkan mahkota Indonesia yang perlu dijaga kelestariannya.
labuan cermin
Selain itu, Pulau Kalimantan mempunyai pesona bahari yang menakjubkan. Terletak di Kalimantan Timur tepatnya di Kepulauan Derawan. Pesonanya tidak kalah eksotis dengan daerah lain yang terkenal di Indonesia seperti Bali, Raja Ampat, Labuan Bajo, ataupun Togean.

Menuju ke Kepulauan Derawan
Jika sobat ingin berkunjung ke Derawan, sobat bisa memesan tiket penerbangan dari Jakarta menuju Bandara Kalimarau di Berau atau bisa juga menuju Bandara Juwata di Tarakan. Sobat harus survei harga terlebih dahulu sebelum memesan tiket penerbangannya. Biasanya tiket penerbangan Jakarta-Tarakan lebih murah.

Saat itu penulis memesan tiket pergi dari Jakarta menuju Tarakan, lalu tiket pulang dari Berau menuju Jakarta. Jadi bisa merasakan kedua-duanya dan membandingkan lama perjalanannya. Penulis saat itu menggunakan tiket promo maskapai Sriwijaya Air. 

Jika sobat datang dari Bandara Juwata Tarakan, sobat melanjutkan perjalanan darat menuju Pelabuhan Tengkayu 1.  Lalu sobat melanjutkan perjalanan dengan speedboat ke Pulau Derawan selama kurang lebih tiga jam. 

Jika sobat datang dari Bandara Kalimarau Berau, sobat melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Tanjung Batu. Lalu lama perjalanan menuju Pulau Derawan dari Tanjung Batu kurang lebih satu jam dengan speedboat.  

Saat itu penulis menggunakan paket open trip salah satu agen perjalanan selama 4 hari 3 malam. Penasaran bagaimana keindahan Derawan? berikut catatan-catatan penulis ketika berkunjung pada 8 September 2018 yang lalu.

Berenang Bersama Hiu Paus di Perairan Talisayan
hiu paus perairan talisayan

Hiu Paus atau Whale Shark adalah salah satu ikan laut yang besar di dunia. Dapat dijumpai di beberapa wilayah Indonesia seperti di perairan Teluk Cenderawasih dan Gorontalo . Salah satu tempat lainnya yaitu di Perairan Talisayan Kepulauan Derawan.

Untuk melihat hiu paus, waktu yang tepat adalah Pukul lima hingga delapan waktu setempat. Hiu Paus pada jam tersebut biasanya berenang di sekitar bagan nelayan di Perairan Talisayan. Beruntung saat itu terdapat dua hiu paus yang sedang berenang di sekitar bagan. Belum tentu setiap hari hiu paus dapat dijumpai di sini, tergantung cuaca dan ombak. 

Meski bertubuh besar, hiu paus tidak berbahaya jika ingin berenang di dekatnya. Namun, hal tersebut dapat berbahaya jika sobat memegang bagian tubuh hiu paus, Sangat dilarang ! 

Berkunjung ke Pulau Manimbora a.k.a Pulau Spongebob
pulau manimbora
Julukan Pulau Spongebob disematkan ke pulau cantik ini karena bentuknya seperti pulau yang ada di bagian pembuka serial animasi spongebob. Pulau tersebut berada di tengah laut dan terdapat beberapa pohon kelapa yang tumbuh di dalam pulau kecil ini.

Jika air laut sedang surut, hamparan pasir putih akan terlihat memanjang indah di pulau yang tidak berpenghuni ini. Air laut di dekat pasirnya pun biru dan jernih. 

Labuan Cermin
danau labuan cermin
Kenapa dinamakan Labuan Cermin? karena danau ini mempunyai air jernih dan membuat sinar cahaya memantul. Akar-akar pohon yang berada di dalam air danau dapat terlihat dari atas dermaga danau. Pepohonan yang rimbun di sekitar danau membuat suasana teduh dan sejuk.

Cobalah untuk masuk ke dalam air untuk berenang dan menikmati kesegaran air danau yang dalamnya berkisar antara 4-5 meter ini. Jika sobat tidak pandai berenang, di sini disediakan sewa pelampung juga loh.

Pulau Maratua, Maldives-nya Indonesia
pulau maratua
Pulau Maratua mempunyai pasir putih dengan warna air laut yang berwarna biru dan jernih. Bahkan ikan-ikan yang sedang berenang terlihat dari atas dermaga. Di Pulau ini terdapat Resort dan Cottage yang disewakan, harganya cukup mahal.

Penulis hanya berkunjung beberapa jam saja di pulau eksotis ini. Saking indahnya pulau ini diberikan julukan "Maldivesnya Indonesia" loh.

Berenang Bersama Ubur-ubur di Pulau Kakaban
ubur ubur kakaban
Setiap tempat yang penulis kunjungi di Derawan sangat menarik. Penulis selalu takjub atas karunia tuhan yang dititipkan kepada Kepulauan ini. Hal yang paling menarik menurut penulis di Derawan adalah Pulau Kakaban. Tempat dimana dapat dijumpai banyaknya ubur-ubur yang tidak menyengat.

Ubur-ubur berjenis golden jellyfish ini tidak membahayakan loh, Namun harus tetap hati-hati ketika berenang bersama ubur-ubur ini, karena mereka ringkih dan mudah mati jika terkena benturan yang keras. Dilarang menggunakan kaki katak saat berenang, harus hati-hati sekali jangan sampai merusak mahkotanya kakaban ini.

Di dalam kawasan Pulau Kakaban juga terdapat Kehe Daing, sebuah laguna dengan air berwarna hijau toska.  Sebelum sampai ke laguna, penulis melewati lorong seperti gua dengan menerabas arus air yang tidak terlalu deras. Sebetulnya bisa lewat jalur darat atau berjalan kaki dari atas gua menuju laguna, namun sensasinya beda.

Pulau Sangalaki, Tempat Konservasi Penyu 
Pulau Sangalaki adalah tempat konservasi penyu-penyu untuk bertelur dan menetaskan tukik. Di Pulau ini juga terdapat pemandangan pantai dengan pasir putih yang lembut. Air lautnya juga biru berpadu dengan warna langit saat itu.  

Berenang Bersama Manta Ray
ikan pari manta di kepulauan derawan
Lokasi manta point berada di dekat Pulau Sangalaki, tempat ikan pari manta berenang dan beberapa kali menampakkan diri ke permukaan. Penulis pun mencoba untuk berenang ke dalam air laut, namun arus air laut yang kencang membuat penulis tidak bisa berlama-lama saat itu. 

Saat itu hanya terlihat beberapa ekor saja, kalau tidak salah perhitungan hanya sekitar tiga ekor saja yang terlihat. Info dari guide, ikan pari manta bisa lebih banyak dari itu.

Senja di Pulau Derawan
senja di derawan
Penulis menginap di salah satu water villa di Pulau Derawan. Harganya lebih murah dibanding resort di Pulau Maratua yang tadi dikunjungi. Di bawah air dekat villa terdapat beberapa ekor penyu yang sedang berenang pelan.

Setelah puas mengunjungi beberapa tempat di Kepulauan Derawan, penulis pun beristirahat di sini selama beberapa malam. Adapun aktivitas yang dapat dilakukan adalah menyimak senja di pelabuhan ataupun di dekat penginapan.
milky way
Malam harinya langit sedang cantik-cantiknya, ditaburi bintang-bintang. Lalu penulis diajari oleh teman memotret milky way yang saat itu dapat terlihat. mengagumkan.
   
 
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) merupakan habitat satwa orang utan yang terletak di Provinsi Kalimantan Tengah. Penulis mengunjunginya pada 29 September 2018 yang lalu.

Jika sobat ingin mengunjungi taman nasional ini, bandara terdekatnya yaitu Bandar Udara Iskandar di Pangkalan Bun.  Adapun pilihan armada pesawat yang menyediakan penerbangan langsung dari jakarta menuju pangkalan bun adalah Trigana Air dan Nam Air. Saat itu penulis menggunakan pesawat Nam Air dengan tiket promo.

Setelah tiba di Pangkalan Bun, sobat melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Kumai. Untuk menuju Tanjung Puting sobat harus menyewa kapal klotok dari pelabuhan kumai. Disarankan pergi secara berkelompok sekitar 6-10 orang, supaya lebih hemat sharecost sewa klotoknya. 

Sobat bisa Live on Board atau menginap beberapa hari di kapal klotok, tergantung kesepakatan dengan pemilik kapal.  Saat itu penulis bersama sembilan teman yang lain menyewa kapal klotok hanya untuk satu hari saja.  Di antara teman-teman tersebut, ada satu orang perempuan yang sudah melanglang dan berpengalaman dalam traveling baik dalam negeri maupun luar negeri. Salut !

Pukul 9.30 WIB, kapal klotok meninggalkan Pelabuhan Kumai, Petualangan itu pun dimulai, tanpa sinyal seluler ! Pemandangan pertama yang dipotret adalah pohon-pohon nipah berjejer di pinggir sungai, lalu penulis melihat beberapa perahu warga melintasi Sungai Sekonyer.

Memasuki Sungai Hitam di Tanjung Puting

kapal klotok di tanjung puting

Alami dan lestari, hal itulah kesan ketika kapal klotok menyusuri Sungai Sekonyer. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan pohon-pohon yang rindang dan berjejer di pinggir sungai. Pohonnya melambai-lambai, bergerak daun-daunnya. 

Bukan karena angin, melainkan monyet-monyet yang bergelantungan saling kejar satu sama lain. Seolah-olah ingin mengucapkan selamat datang kepada kami yang mengunjungi rumah mereka. Penulis antusias ketika melihat bekantan dengan warna bulu oranye dan hidung panjang. Ah sayangnya lensa kamera penulis tidak mampu memotret mereka lebih dekat. 
sungai hitam atau black river di tanjung puting
Kapal Klotok mulai memasuki jalur sungai kecil dan sempit dengan warna air hitam kemerah-merahan. Jalur sungai ini dijuluki "Black River". Kesannya menyeramkan sekali sob, apalagi di pinggir kanan dan kiri sungai terdapat pohon-pohon tinggi yang rimbun. Lalu terdapat juga batang-batang pohon rambat yang berada di bibir sungai. 

Air hitam di sungai ini bukan karena kotor dan tercemar loh, melainkan karena kayu dan akar-akar yang tumbuh di dasar sungai. Tidak disarankan untuk mandi di sungai ini ya sob, infonya ada buaya yang hidup di sungai ini. 

Tiba di Camp Leakey

Setelah dua jam menyusuri sungai, tibalah klotok berhenti di Camp Leakey, Tempat memberi makan orang utan. Ada tiga camp yang ada di Taman Nasional Tanjung Puting, dua camp yang lain bernama Tanjung Harapan dan Pondok Tanggui. Penulis hanya mengunjungi pos tiga saja. Jika sobat menyewa kapal dua hari atau lebih, mungkin bisa mengunjungi ketiga-tiganya.

camp leakey tanjung puting
Klotok tiba di dermaga Camp Leakey dan parkir bersebelahan dengan klotok lain yang sudah duluan sampai. Di Camp Leakey terdapat pusat penelitian orang utan loh, rumah informasi mengenai orang utan ada juga di sini. 

Untuk menuju feeding station, penulis melewati jalan kayu dan jalan tanah. Saat di perjalanan bertemu dengan monyet-monyet yang cukup agresif, untungnya tidak ada yang menganggu. Saat tiba di feeding station, rupanya sudah ramai pengunjung domestik dan mancanegara. Tali pembatas dipasang sebagai tanda bahwa pengunjung tidak boleh mendekat ke area tempat makan orang utan. 

Petugas Taman Nasional mulai berseru-seru memanggil orang utan untuk mendekat dan memakan pisang yang telah disediakan. Cukup lama menunggu, orang utan pun tak kunjung datang. Ternyata feeding station ini baru saja pindah dari tempat yang lama sehingga orang utannya perlu penyesuaian. Syukurlah satu primata datang menghampiri pisang yang telah disediakan, meskipun bukan orang utan yang penulis ingin lihat.
primata orang utan di tanjung puting
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, penulis kembali menuju klotok dan menyudahi kunjungan di Camp Leakey. 

Kapal Menabrak Kayu, Sebuah Berkah

Klotok pun kembali menyusuri sungai sekonyer, tetapi terdapat sebuah insiden di tengah perjalanan pulang. Penulis pun tidak tahu mengapa klotok bisa keluar jalur tengah dan menabrak kayu di pinggir sungai. Hepotesanya mungkin karena pengemudi mengantuk.
klotok di tanjung puting malam hari
Klotok kami pun terhenti cukup lama, syukurnya ada klotok lain yang mendekat dan membantu. Setelah berhasil diperbaiki dan kembali ke tengah sungai, klotok pun kembali melaju. Langit mulai gelap, berkah dari insiden tadi adalah penulis dapat merasakan sensasi berada di klotok pada malam hari. 

Penulis memandangi langit yang sedang ditaburi bintang malam itu, milky way terlihat dengan mata kosong. Langit yang bersih tanpa polusi. Namun klotok yang terus melaju membuat penulis tidak bisa memotret milky way. Meski telah mencoba tetap saja tidak berhasil, karena klotok terus bergerak.

Mendekati kawasan pohon nipah, penulis dikejutkan dengan kerlip-kerlip cahaya yang berterbangan. Rupanya kunang-kunang, penulis senang sekali melihat gerombolan kunang-kunang yang jumlahnya banyak sekali. Mereka terbang di antara pohon-pohon nipah, bahkan ada yang mendekati klotok. Berkah di balik insiden kapal menabrak kayu :).

Penulis tiba di Pelabuhan Kumai sekitar pukul 21.00 WIB, Akhirnya dapat sinyal seluler lagi. Penulis bersama teman langsung menuju ke penginapan dan mengakhiri Trip Tanjung Puting yang menyenangkan ini.

Seorang teman memberitahu penulis kalau Taman Nasional Tanjung Puting ini merupakan salah satu latar tempat novel Supernova yang berjudul Partikel karya Dee Lestari. Hal itu membuat penulis tertarik membaca supernova dari seri awal. Tetapi belum sampai Partikel, sepertinya menarik :).
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Buku Menulis Cerita Perjalanan

Buku Menulis Cerita Perjalanan
Pada tahun 2023, buku pertama saya berjudul Menulis Cerita Perjalanan resmi diterbitkan oleh Penerbit Jejak. Melalui buku ini saya menceritakan perjalanan selama berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Saya ingin perjalanan-perjalanan tersebut, tidak menguap begitu saja tidak ada bekas dan jejaknya. Jika para pembaca tertarik membacanya dapat klik gambar buku atau melalui link berikut : Shopee : https://id.shp.ee/hXGJwGT dan Toko Buku Jejak : https://tokobukujejak.com/detail/menulis-cerita-perjalanan-FCONM.html

Popular Posts

  • Naik Motor ke Pik 2, Memang Bisa?
  • Kolam Renang Bojana Tirta, Murah dan Nyaman
  • Jasa Antar Jemput ke Basecamp Gunung Dempo, CZ Trip and Tour Pagaralam
  • Solo Traveling ke Lahat Dengan Kereta Api
  • Solo Traveling ke Bandung (Part 2 : Motoran Sendirian ke Ciwidey)

Tentang Penulis

Halo para pembaca, penulis adalah seorang pemuda kelahiran tahun ’97. isi blog ini seputar cerita dan catatan penulis ketika berkunjung di beberapa provinsi di Indonesia, tujuan membuat blog ini supaya dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama yang mempunyai hobi traveling. penulis dapat dihubungi dengan berkirim email ke dodonulis1@gmail.com

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

recent posts

    Pages

    • Privacy Policy
    • About Me
    • Disclaimer
    • Contact

    BloggerHub

    BloggerHub Indonesia

    Created with by ThemeXpose