• Home
  • Sumatera
    • Aceh
    • Sumatera Utara
    • Sumatera Barat
    • Riau dan Kepri
    • Sumatera Selatan
    • Jambi
    • Bengkulu
    • Bangka Belitung
    • Lampung
  • Jawa
    • DKI Jakarta
    • Banten
    • Jawa Barat
    • Yogyakarta
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
  • Kalimantan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
    • Kalimantan Utara
    • Kalimantan Timur
  • Sulawesi
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Bali NTB NTT
    • Bali
    • Lombok
    • Sumba
    • Flores
  • Maluku dan Papua
    • Maluku
    • Papua
instagram Email

dodonulis

blog catatan perjalanan

Setelah mengunjungi Kota Singkawang (Catatan Perjalanan ke Singkawang), Penulis kembali ke Kota Pontianak dan mengunjungi beberapa tempat di sana. Penulis  mempunyai waktu kurang lebih 11 jam untuk berkeliling di Kota Pontianak karena harus kembali ke Jakarta pada pukul 20.10 WIB. 

Mobil yang penulis tumpangi tiba di Kota Pontianak pada hari Minggu pukul 9.00 WIB, penulis meminta langsung diantar menuju Tugu Khatulistiwa. Berikut ulasan catatan-catatan penulis ketika berada di Kota Pontianak.

Tugu Khatulistiwa, Penanda dilewati garis lintang 0 derajat
 
Kota Pontianak dikenal sebagai sebutan Kota Khatulistiwa, karena dilewati oleh garis equator atau garis lintang nol derajat. Ada beberapa daerah lain di Indonesia yang juga dilewati oleh garis ini, Pontianak salah satunya. 

tugu khatulistiwa
Sebagai penanda dilewai oleh garis khatulistiwa, dibangunlah sebuah tugu yang letaknya berada di Jalan Khatulistiwa, Kecamatan Pontianak Utara. Tugu ini dibangun pada tahun 1928, pada awalnya hanya berbentuk tonggak dengan anak panah. Seiring perkembangan zaman, dilakukanlah beberapa renovasi sehingga bentuknya seperti saat ini.

Penulis masuk ke dalam bangunan yang berbentuk seperti kubah, lalu di tengah bangunan terdapat tonggak dengan anak panah. Terdapat informasi yang edukatif mengenai ilmu geografi di dinding-dinding bangunan. Lalu ada juga sejarah pembangunan tugu dari awal pembuatan, dulunya dibangun dalam rangka ekspedisi geografi. 

Cobalah datang pada saat peristiwa titik kulminasi Matahari pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September.

Bertemu Dengan Orang Baik

Setelah mengunjungi Tugu Khatulistiwa, penulis mencoba memesan ojek online menuju Masjid Sultan Syarif Abdurrahman yang letaknya berdekatan dengan Keraton Kadriah. Namun selama kurang lebih 30 menit menunggu, tidak ada driver yang mau mengambil pesanan penulis.

Penulis sempat kebingungan menggunakan transportasi apa, penulis duduk di sebuah halte bus dan berpikir sejenak. Lalu dari kejauhan ada sebuah angkot yang lewat, penulis pun melambaikan tangan meminta berhenti. Angkot tersebut belum ada penumpang satu pun dan yang mengendarainya seorang bapak kisaran 50 tahun, penulis menanyakan apakah angkot ini akan melewati Keraton Kadriah. 

"Tidak nak, angkotnya hanya sampai terminal dan masih lumayan jauh jaraknya ke keraton" jawaban bapak itu membuat penulis kembali kebingungan. Lalu bapak itu dengan baik hatinya bilang "ayoklah naik, nanti bapak antar sampai sana". Beruntungnya penulis saat itu bertemu dengan orang baik. Mobil angkot berjalan pelan sekali, mungkin kecepatannya hanya sekitar 40 km/jam. Penulis mengobrol dengan bapak itu dan saling bertanya banyak hal.

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman
masjid sultan syarif abdurrahman pontianak

Masjid ini dikenal juga dengan Masjid Jami',  merupakan masjid tertua di Kota Pontianak. Didirikan pada tahun 1778, masjid ini terletak di Kampung Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Masjid ini menjadi bangunan penting yang bersejarah dari Kesultanan Pontianak.

Jika ingin mengetahui sejarah lebih jauh tentang Kesultanan Pontianak, cobalah berkunjung ke Keraton Kadriyah yang letaknya berdekatan dengan masjid ini.
masjid jami keraton pontianak
Arsitektur masjid ini mirip dengan masjid-masjid keraton yang ada di pulau jawa. Atapnya berundak-undak dengan bentuk yang semakin mengecil hingga bagian atas. Penulis masuk ke dalam masjid, bertepatan juga dengan waktu salat zuhur. Di dalam masjid terdapat banyak tiang penyanggah yang terbuat dari kayu. 

Keraton Kadriah

Seperti yang penulis sebutkan sebelumnya, lokasi keraton berdekatan dengan masjid yang tadi penulis kunjungi. Penulis hanya berjalan kaki sekitar 500 meter saja. Penulis melewai jalan kecil yang berada didekat Sungai Kapuas. Lalu penulis melihat sebuah dermaga sepit dan pengendara sepit yang sedang duduk-duduk di sekitar dermaga.

keraton kadriyah pontianak
Keraton Kadriyah merupakan bangunan yang bersejarah bagi Kota Pontianak. Bangunan ini berbahan kayu dan didominasi warna kuning. Terdapat meriam yang mengarah ke arah pintu pagar. Tentunya meriam ini sudah tidak berfungsi lagi.

Penulis masuk ke dalam keraton, lalu terdapat seorang guide yang menemani penulis dan menjelaskan sejarah pendirian keraton ini. Terdapat silsilah sultan pontianak yang terletak di dinding-dinding keraton, lalu informasi tentang sejarah Kesultanan Pontianak juga ada. 

Sisi unik Selama Solo Traveling di Pontianak, Naik Sepit

Penulis tidak menyewa kendaraan motor selama berada di pontianak, jadi sarana transportasi selama mengunjungi tempat-tempat wisata di Pontianak adalah dengan menggunakan sepit dan ojek online.
sepit di sungai kapuas pontianak
Sepit adalah perahu terbuka yang mempunyai mesin di bagian belakang. Digunakan untuk mengangkut penumpang dengan daya tampung 4-7 orang. Sepertinya alat transportasi sungai ini masih sering digunakan oleh warga sekitar. Memang terdapat Jembatan Kapuas yang menghubungkan Pusat Kota Pontianak dengan daerah lain, tetapi dengan adanya sepit lebih menghemat waktu yang terpakai. 

Setelah mengunjungi Keraton Kadriah, penulis menghampiri pengemudi sepit di dermaga. Penulis meminta untuk di antar menuju taman alun-alun Kapuas, biayanya Rp.15.000. Penulis juga tidak tau pasaran harganya berapa, jadi asal naik saja tanpa menawar. Bingung juga mau nawar kalau tidak tau harga pasar :D. 

Ada sebuah novel fiksi tentang pengemudi sepit di Pontianak, judulnya Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah. Di dalam novel fiksi tersebut diceritakan keseharian pengemudi sepit yang mengagumi penumpang bernama mei, gadis keturunan tionghoa. Bisa dibaca kalau sedang senggang, menarik ceritanya hehehe.

Taman Alun-alun Kapuas
taman alun alun kapuas
Setelah sepit tiba di sebuah dermaga dekat Taman Alun-alun Kapuas, penulis menjumpai keramaian di taman ini. Rupanya sedang diadakan sebuah kegiatan karnaval budaya. Pesertanya menggunakan pakaian adat kalimantan, seperti pakaian adat Suku Dayak, Pakaian Adat Melayu, dan bahkan ada yang menggunakan pakaian Adat Madura.

Taman Alun-alun Kapuas selalu ramai ketika akhir pekan. Infonya tempat ini juga ramai dikunjungi saat malam hari loh. Ada sebuah kapal wisata keliling sungai yang disediakan, tarifnya Rp.15.000. Penulis tidak tahu rutenya sampai mana saja karena saat itu tidak mencobanya.

Terdapat replika tugu khatulistiwa di salah satu sisi taman, agak menjorok ke sungai lokasinya. Lalu saat itu sedang ada kegiatan melukis, penulis pun tertarik memotret salah satu pelukis yang sedang memegang kuas. 

Rumah Radakng
Waktu masih menujukkan pukul 14.00 WIB, penulis memesan ojek online lalu berangkat menuju Rumah Radakng. Terletak di jalan Sutan Syahrir, Kota Baru, Pontianak. Namanya cukup unik, Dalam Bahasa Dayak berarti rumah panjang.

rumah radakng pontianak
Bentuk Rumah Panggung yang terbuat dari kayu, yang paling unik dari rumah adat ini adalah bentuknya yang memanjang. Saking panjangnya lensa kamera penulis tidak bisa mengambil foto semua bagian rumah ini tanpa terpotong. Harus pakai mode tambahan.

Masjid Raya Mujahidin Pontianak
masjid raya mujahidin pontianak
Penulis masih mempunyai waktu yang cukup lama, penulis pun menuju masjid besar ini. Berwarna dominan putih pada bagian dinding masjid, lalu kubahnya berawrna merah. Sekilas masjid ini bernuansa timur tengah dan mempunyai halaman yang luas.

Penulis cukup lama berada di masjid ini, Menumpang ke kamar mandi sejenak lalu sempat rebahan di bagian serambi masjid. Sekitar pukul lima sore penulis memesan gojek menuju Bandara Supadio Pontianak. 

Sekian catatan penulis ketika berada di Pontianak, Semoga dapat bermanfaat.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ketika mencari referensi tempat-tempat yang akan dikunjungi di provinsi Kalimantan Barat, penulis sempat kebingungan. Ada begitu banyak tempat-tempat menarik di Provinsi ini. Namun terkendala apakah waktunya pas atau tidak dengan jatah libur penulis di kantor.  

Penulis mendapatkan jatah cuti selama 12 hari dalam satu tahun. Itu pun sudah penulis bagi-bagi porsinya ke tempat lain yang penulis kunjungi pada tahun 2018. Penulis pun memutuskan untuk mengunjungi provinsi ini hanya pada saat libur akhir pekan saja. Saat itu menggunakan tiket penerbangan promo Sriwijaya Air, jadinya dapat harga yang murah hanya membayar airport tax saja.

Setelah menelusuri informasi dan menemukan banyak tempat yang menarik, mengerucutlah dua tempat/daerah. Pertama, Pos Lintas Batas Negara Entikong menjadi salah satu tempat yang cukup realistis, lama perjalanan lima sampai enam jam saja dari Kota Pontianak. Bisa PJKA (Pergi Jumat malam, Kembali Ahad), tidak perlu menggunakan cuti.

Kedua, Berkunjung ke Singkawang. Lama perjalanan dari Kota Pontianak sekitar tiga jam saja, lalu tempat-tempat wisatanya juga sangat menarik. Penulis tertarik melihat Bukit Jempol yang ada di Singkawang, alasannya karena di dekat kampung penulis juga mempunyai bukit yang dijuluki bukit jempol. Lalu Kota Singkawang juga dijuluki kota seribu kelenteng, karena di sana banyak dijumpai banyak kelenteng. 

Perjalanan ke Singkawang 

vihara tri dharma bumi raya singkawang
Baiklah, sepertinya sobat sudah tau penulis akan mengunjungi yang mana, terlihat dari judul blog post ini. Pagi hari tanggal 13 Oktober 2018 penulis tiba di Bandara Supadio Pontianak, lalu berjalan ke arah pintu kedatangan. Di Bandara Supadio terdapat sebuah replika tugu khatulistiwa yang dipajang di salah satu sudut bandara. Menarik perhatian penumpang yang baru saja datang, beberapa ada yang foto selfie dengan replika tugu tersebut.

Penulis keluar dari pintu kedatangan, berpakaian kemeja flanel biru dengan kancing yang dibiarkan terbuka lalu memakai kaos berwarna putih. Itulah petunjuk yang penulis berikan kepada sopir taksi yang sedang berbicara diujung telepon. Setelah bertemu penulis pun naik ke dalam mobil yang telah berisikan tiga orang penumpang lainnya. 

Penumpang yang duduk di kursi depan yaitu seorang ibu berusia kisaran 40 tahunan, lalu duduk di samping penulis perempuan berusia kisaran 30 tahunan, lalu di kursi bagian belakang seorang bapak berusia kisaran 40 tahunan. Sepertinya tidak ada yang mengenal satu sama lain di mobil ini, hampir tidak ada percakapan selama perjalanan, hanya Pak Sopir yang sibuk berbicara dengan telepon genggamnya. Oh iya, tarif mobil taksinya adalah Rp.150.000 saat itu.

Sepanjang perjalanan selama tiga jam penulis bermain gawai, kadang melihat pemandangan di sepanjang perjalanan. Mobil pun sempat singgah di sebuah rumah makan yang letaknya dekat dengan bibir pantai. Ah penulis lupa nama rumah makannya, bentuknya sederhana dan harga makananya pun tidak terlalu mahal. 

Saat berada di rumah makan, penulis mendengar warga yang sedang mengobrol, penulis sedikit mengerti bahasa yang mereka gunakan. Sepertinya menggunakan bahasa melayu kalimantan. Setelah selesai makan mobil pun kembali melaju dan tiba di Singkawang pada pukul 12.30 WIB.

Mendaki Gunung Poteng, Balik Kanan Karena Hujan

Penulis bertemu dengan seorang teman laki-laki yang tinggal Singkawang, seumuran dengan penulis. Namanya Randa yang berbakat di bidang musik, penulis yakin jika terus mengasah kemampuannya , dia akan berhasil meraih kesuksesan di bidang ini.

Setelah bertemu dengan Randa, penulis pun diantar dengan sepeda motor menuju kaki gunung poteng. Sepeda motor melintas di jalanan Kota Singkawang. Setelah kurang lebih 20 menit penulis pun tiba di kaki Gunung Poteng, lebih mirip seperti bukit karena tidak terlalu tinggi. Rupanya sudah ada beberapa teman Randa yang telah menunggu,  mereka akan bersama-sama dengan penulis naik ke atas.

Gunung Poteng masuk ke dalam kawasan Cagar Alam Gunung Raya Pasi, oleh karena itu harus dijaga kelestariannya. Jika beruntung, selama pendakian ke Gunung Poteng akan bertemu dengan Bunga Rafflesia. Untuk sampai ke puncak pun tidak memerlukan waktu yang lama, sekitar tiga jam. 
 
Namun baru sebentar berjalan, sayangnya saat itu hujan turun dengan deras. "Jika kita melanjutkan naik, percuma juga sampai atas pasti viewnya tertutup kabut. Tetapi jika turun kembali sayang sekali sudah jauh-jauh datang tetapi tidak sampai puncak" Ujar Randa. Penulis memilih untuk turun saja, karena jalurnya juga akan licin dan membahayakan. Lupakan ambisi untuk ke puncak, karena itu bukan tujuan utama.

air terjun bukit poteng
Meski tidak naik ke puncak gunung, Penulis masih bisa melihat air terjun yang bercabang dua di dalam kawasan ini. Terdapat juga saluran pipa air yang dulunya digunakan oleh masyarakat setempat untuk keperluan air bersih.

air terjun yang ada di bukit poteng
Terdapat juga air terjun lain yang penulis jumpai di kawasan Gunung Poteng. Airnya jatuh ke sebuah danau yang tidak begitu luas. Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar air terjun mempercantik pemandangannya. 

Batu Belimbing, Tempat Melihat Panorama Gunung Poteng
batu belimbing singkawang
Penulis bersama randa melanjutkan perjalanan menuju Batu Belimbing, dinamai seperti itu karena bentuk bebatuan besar ini mirip seperti buah belimbing, terbentuk karena proses alamiah erosi dan pelapukan . Randa bercerita kalau pemandangan batu belimbing saat ini jauh berbeda dengan pemandangan beberapa tahun yang lalu. Dulunya terletak di tengah semak-semak. Pemerintah setempat mempercantik objek wisata ini dengan menggerus tanah dan membuat danau buatan yang mengelilingi batu.

Oh ya, dilarang mandi di dalam air danau ya sob. Berbahaya karena tekstur dasar danau berlumpur. Cukup memandangi panorama yang indah saja ya. Namun cuaca masih belum bersahabat setelah hujan berhenti, kabut menggelayut menutupi pemandangan gunung poteng. Cukup lama penulis menunggu kabutnya bergeser.

bukit jempol singkawang
Buah manis sebuah kesabaran, kabut pun perlahan bergeser ke area yang lain. Bentuk jempolnya kelihatan cukup jelas. Gunung Poteng dijuluki jempol karena puncaknya berbentuk seperti jempol tangan manusia. Bentuk gunung/bukit yang menyerupai jempol tangan manusia ini juga ada di daerah lain loh. Tepatnya di Kabupaten Lahat Sumatera Selatan.

Berteduh di Sebuah Gereja

Setelah mengunjungi Batu Belimbing, penulis pun menuju ke penginapan di tengah Kota Singkawang. Sebetulnya Randa sudah menawarkan untuk menginap di rumahnya saja, tetapi penulis menolak karena sudah memesan kamar di sebuah penginapan, kebetulan dapat promo juga jadi harganya lebih murah.

Di Kota Singkawang, sangat mudah menjumpai penginapan dengan berbagai pilihan tarif dan fasilitas. Wajar saja karena kota ini sering dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara terutama saat perayaan Cap Go Meh. 

Di tengah perjalanan menuju penginapan, hujan kembali turun deras. Penulis pun diajak singgah berteduh di sebuah gereja. Gereja tersebut terletak di kawasan SMP St. Aloysius Gonzaga Nyarumkop. 

Penulis pun diajak masuk ke dalam gereja, ini merupakan kali pertama penulis memasuki tempat ibadah umat kristen. Penulis duduk di kursi belakang sambil menyaksikan anak-anak yang sedang melantunkan nyanyian untuk keagungan tuhan mereka.

Vihara Tri Dharma Bumi Raya

Setelah hujan reda, penulis pun melanjutkan perjalanan dan tiba di penginapan pukul tujuh malam. Penulis pun langsung mandi dan berganti pakaian. Setelah itu makan malam di dekat penginapan. Penulis lalu mengunjungi Vihara Tri Dharma Bumi Raya.
vihara tri dharma bumi raya singkawang
Seperti yang penulis sebutkan di awal-awal tulisan, Kota Singkawang terkenal dengan julukan kota seribu kelenteng. Salah satunya Vihara Tri dharma Bumi Raya yang sudah ada sejak tahun 1878, merupakan salah satu vihara tertua di Singkawang. 

Saat itu vihara sudah tutup dan penulis tidak bisa masuk ke dalam. Hanya bisa memotret dari luar saja. Di dekat vihara terdapat Masjid Raya Singkawang yang berukuran cukup besar. Penulis pun sempat berjalan menuju ke depan masjid meski tidak masuk karena sudah tutup. Sudah Malam :).

Jika sobat tertarik menunjungi Kota Singkawang, waktu terbaiknya adalah saat perayaan Cap Go Meh. Tetapi harus disiapkan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan, karena hotel di sini akan cepat penuh saat perayaan Cap Go Meh.

Penulis pun kembali ke penginapan untuk beristirahat, lalu pamit dengan teman penulis dan mengucapkan terima kasih telah menemani penulis selama di Singkawang. Keesokan harinya pada pukul 6.00 WIB Penulis berangkat menuju Kota Pontianak.

Sekian ulasan catatan perjalanan penulis di Singkawang, terima kasih telah membaca dan semoga bermanfaat. Catatan perjalanan penulis di pontianak dapat dibaca pada "Tempat Wisata Menarik di Pontianak"
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Buku Menulis Cerita Perjalanan

Buku Menulis Cerita Perjalanan
Pada tahun 2023, buku pertama saya berjudul Menulis Cerita Perjalanan resmi diterbitkan oleh Penerbit Jejak. Melalui buku ini saya menceritakan perjalanan selama berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Saya ingin perjalanan-perjalanan tersebut, tidak menguap begitu saja tidak ada bekas dan jejaknya. Jika para pembaca tertarik membacanya dapat klik gambar buku atau melalui link berikut : Shopee : https://id.shp.ee/hXGJwGT dan Toko Buku Jejak : https://tokobukujejak.com/detail/menulis-cerita-perjalanan-FCONM.html

Popular Posts

  • Penitipan Barang di Stasiun Kemayoran, PopBox Solusinya
  • Naik Motor ke Pik 2, Memang Bisa?
  • Solo Traveling ke Lahat Dengan Kereta Api
  • Stadion Taman Sari Mangga Besar Jakarta, Jejak Sepakbola di Ibu Kota
  • Pertama Kali Tektok Gunung Gede Via Putri

Tentang Penulis

Halo para pembaca, penulis adalah seorang pemuda kelahiran tahun ’97. isi blog ini seputar cerita dan catatan penulis ketika berkunjung di beberapa provinsi di Indonesia, tujuan membuat blog ini supaya dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama yang mempunyai hobi traveling. penulis dapat dihubungi dengan berkirim email ke dodonulis1@gmail.com

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

recent posts

    Pages

    • Privacy Policy
    • About Me
    • Disclaimer
    • Contact

    BloggerHub

    BloggerHub Indonesia

    Created with by ThemeXpose