Desember 2025. Saya dan Em sepakat untuk pulang ke kampung sebagai persiapan untuk lahiran di sana. Sebagai seorang suami siaga, perasaan khawatir itu kian membuncah mendekati hari H, mengingat perjalanan pulang ke kampung harus ditempuh dalam waktu belasan jam. Kami harus menggunakan dua moda transportasi yaitu pesawat dan kereta api. Penting sekali untuk memastikan semua persiapan berjalan aman terutama dari segi administrasi, karena transportasi publik khususnya kereta api jarak jauh dan pesawat sangat ketat peraturannya bagi ibu hamil.
Kampung kami terletak di Pagaralam, Sumatera Selatan. Sementara saya dan Em saat ini berdomisili kerja di Kota Pangkal Pinang, Pulau Bangka. Untuk sampai ke sana, perjalanan diawali dengan pesawat Pangkal Pinang ke Palembang dalam waktu tempuh 30 menit. Lalu perjalanan dilanjutkan dengan naik kereta api jarak jauh dari Palembang ke Kota Lahat selama lima jam. Kemudian yang terakhir, dilanjutkan dengan mobil selama 2,5 jam.
Mengapa tidak naik travel atau mobil pribadi saja dari Palembang ke Pagaralam? alasannya karena kenyamanan. Saya dan Em merasa naik kereta api jauh lebih safety, goncangan tidak terlalu kasar dan tidak harus melewati jalanan yang banyak lobang di daerah pertambangan di Sumatera Selatan, belum lagi macet truk-truk batubara, ampun deh.
Saya hanya ingin share cerita, mudah-mudahan bermanfaat bagi para calon ibu yang sedang hamil dan ingin melakukan perjalanan ketika sudah masuk di trimester akhir. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah cek terlebih dahulu syarat administrasi yang ditentukan oleh maskapai. Cek dengan teliti karena tiap maskapai mempunyai ketentuan yang berbeda.
Karena saya menggunakan pesawat Supera Air Jet (SAJ), saya akan mengulas ketentuan dari maskapai tersebut. Di laman resmi mereka menyatakan beberapa syarat yaitu :
- Usia kehamilan sampai dengan 35 minggu wajib membawa Surat Dokter yang menyatakan bahwa penumpang layak untuk melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang berlaku 7 hari dari waktu pembuatan sampai dengan waktu keberangkatan dan mengisi Surat Pernyataan FOI (Form Off Imdemnity) yang disediakan oleh SAJ
- Untuk kehamilan khusus (komplikasi atau gangguan) tidak diperkenankan terbang
- Kehamilan kembar diperbolehkan terbang hanya sampai usia kehamilan kurang dari 31 minggu.
- Usia kehamilan >35 minggu tidak diperkenankan melakukan penerbangan
Membaca syarat tersebut, sebelum membeli tiket berangkat, Saya dan Em pergi terlebih dahulu ke Dokter Obgyn terdekat, yang sudah sering memeriksa Em dan Bayi di kandungannya. Kami jelaskan juga ke dokter terkait rencana keberangkatan.
Syukurlah kondisi Ibu dan anak aman dan sehat. Untuk memenuhi syarat terbang, dibuatlah surat layak terbang dengan tanggal lima hari sebelum keberangkatan. Tidak lupa juga kami meminta satu surat keterangan dari dokter untuk memenuhi persyaratan administrasi perjalanan kereta api jarak jauh.
Untuk syarat naik kereta antar kota atau jarak jauh, KAI memperbolehkan Ibu Hamil di usia kehamilan 14 sampai dengan 28 minggu. Loh kalau sudah 30 minggu ke atas bagaimana dong? karena biasanya cuti Ibu Hamil itu sekitar satu bulan sebelum hari perkiraan lahir (HPL). Tetap boleh kok, dengan syarat adanya surat keterangan sehat dari dokter dan wajib didampingi 1 (satu) orang pendamping penumpang dewasa untuk mengantisipasi kondisi kedaruratan.
"Pak, Ibunya didampingi kan sama Bapak ketika berangkat? soalnya gak boleh loh berangkat sendirian" Kata Dokter Obgyn yang memeriksa Em. "Aman dok, saya ikut kok" Jawab saya lugas.
Setelah surat layak terbang dan surat keterangan dari dokter sudah dipegang, kami baru percaya diri untuk membeli tiket pesawat dan kereta api, sat-set, dalam hitungan 10 menit semua urusan tiket beres melalui aplikasi tiket.com.
Hati-hati di Perjalanan Untuk Ibu Hamil
Hari keberangkatan tiba, Saya dan Em tiba di Bandara Depati Amir dua jam sebelum waktu boarding. Alasannya untuk antisipasi kalau antrian di konter check in ramai. Saya menyerahkan surat layak terbang ke staf maskapai,lalu saya diminta untuk menandatangani Surat Pernyataan FOI (Form Off Imdemnity) yang telah disediakan maskapai.
"Pak, suratnya disimpan dan diserahkan ke petugas ketika hendak boarding ya" Ujar staf konter. Proses check in berjalan aman. Untuk posisi tempat duduk, maskapai memberikan prioritas tempat duduk di area depan.
Perjalanan di Bulan Desember itu membuat saya khawatir karena cuacanya sangat tidak menentu. Pulau Bangka bisa seharian hujan, bisa seharian mendung, bisa seharian panas terik. Ketika pesawat take off, cuaca terlihat mendung dari darat. Syukurlah setelah beberapa menit terbang, cuaca di atas lebih clear dan cerah sampai mendarat sempurna di Bandara Palembang pukul satu siang, setelah 30 menit di udara.
Perjalanan belum selesai, Kereta api dari Palembang ke Lahat terjadwal pukul delapan malam. Artinya kami mempunyai spare waktu selama tujuh jam untuk istirahat sebentar. Ini salah satu pertimbangan memilih menggunakan kereta, setidaknya Em tidak terlalu lelah, punya waktu yang cukup untuk rehat di rumah keluarga di Palembang.
Pukul 18.30 WIB, kami sudah tiba di Stasiun Kertapati. Setelah proses check in dilakukan, petugas mengarahkan Saya dan Em ke ruang pemeriksaan kesehatan di area dalam stasiun. Di sana sudah ada petugas medis yang berjaga untuk mengecek tensi dan memeriksa surat keterangan dari dokter. Setelah semua aman, kami dipersilakan masuk ke dalam kereta.
Tepat pukul delapan malam, bunyi klakson mendenging keras, kereta api Sindang Marga jurusan Palembang - Lubuk Linggau berangkat (kami turun di Stasiun Lahat, dua stasiun sebelum Lubuklinggau). Saya sengaja memesan empat kursi agar Em bisa selonjor di bangku penumpang. Terkesan egois? iya saya akui, tetapi kami berangkat bukan pada saat high season. Ketika saya cek banyak kursi yang lowong pada tiap-tiap gerbong.
Meski goncangan di kereta tidak sekuat ketika naik mobil, tetap saja masih terasa. Sebelum berangkat Em juga meminum vitamin dari dokter. Selama perjalanan, saya was-was setiap melihat Em bergerak memperbaiki posisi duduk. Oh ya jangan lupa membawa kain selimut dan bantal yang praktis ya, penting banget apalagi jika berangkatnya malam hari, lalu makanan ringan dan air mineral yang cukup.
Lantas bagaimana dengan barang bawaaan? bukankah banyak yang perlu dibawa ke kampung, terutama perlengkapan bayi. Barang-barang keperluan untuk bayi newborn sudah Em kirim ke kampung. Penting sekali untuk mengantisipasi supaya ketika berangkat kita tidak perlu membawa barang yang banyak, kalau bisa cukup satu koper besar saja dan satu tas backpack.
Pukul 12 malam. Kereta Api tiba di Stasiun Lahat. Kami tidak langsung berangkat ke Pagaralam malam itu juga, melainkan menginap di hotel dekat stasiun, kurang lebih 200 meter jaraknya. Beruntung di Lahat sudah ada grab car, jadi tidak perlu merepotkan keluarga untuk antar jemput ke hotel. Malam itu istirahat dulu di Lahat, baru keesokan harinya ke Pagaralam dengan mobil.
Bagaimana kondisi Em saat itu? saya lihat Em sangat bersemangat, meskipun saya melihat wajahnya yang lelah. Pada hari itu juga, ketika tiba di kampung halaman, Saya dan Em pergi ke Dokter Spesialis Obgyn untuk memastikan kondisi kandungan baik-baik saja.
Syukurlah perjalanan berjam-jam itu berjalan aman dan lancar. Untuk sobat pembaca, Ibu hamil maupun suami siaga yang hendak berperjalanan, hati-hati di perjalanan, semoga Tuhan melindungi dan diperlancar urusannya. Oh ya foto-foto yang saya lampirkan bukan ketika hari perjalanan, waktu itu tidak kepikiran sama sekali untuk dokumentasi, saya sangat fokus mendampingi Em hari itu.
















