• Home
  • Sumatera
    • Aceh
    • Sumatera Utara
    • Sumatera Barat
    • Riau dan Kepri
    • Sumatera Selatan
    • Jambi
    • Bengkulu
    • Bangka Belitung
    • Lampung
  • Jawa
    • DKI Jakarta
    • Banten
    • Jawa Barat
    • Yogyakarta
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
  • Kalimantan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
    • Kalimantan Utara
    • Kalimantan Timur
  • Sulawesi
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Bali NTB NTT
    • Bali
    • Lombok
    • Sumba
    • Flores
  • Maluku dan Papua
    • Maluku
    • Papua
instagram Email

dodonulis

blog catatan perjalanan

Jumat pagi, saya memulai perjalanan dari Kota Wonosobo menuju Dieng dengan sepeda motor. Experience motoran di Dieng menyenangkan sekali. Kondisi jalan yang relatif bagus disertai dengan pemandangan alam yang membuat takjub. Penting sekali menyusun itinerary dalam setiap perjalanan yang dilakukan. Supaya bisa memperkirakan waktu tempuh dan mengurutkan tempat apa saja yang ingin didatangi terlebih dahulu. 

Menuju Dieng itu paling hanya satu jam saja dari pusat kota Wonosobo. Dekat sekali. Kalau bisa sekali jalan dua-tiga tempat terlampaui, sebelum tiba di Dieng mampir dulu ke tempat wisata yang searah dan berdekatan. Inilah Itinerary yang saya susun untuk explore Dieng dari Jum'at sampai Minggu. Semoga bermanfaat buat kalian yang sedang berencana menghabiskan waktu libur ke Dieng. 

Hari Pertama

1. Telaga Menjer

telaga-menjer-wonosobo

Pukul enam pagi. Suasana dingin menusuk badan. Bagi yang memakai motor ke Dieng sangat disarankan untuk memakai jaket polar dan sarung tangan, kalau tidak bisa-bisa tubuh kalian bakal beku. Telaga Menjer adalah destinasi pertama saya yang didatangi. Paling hanya 25 menitan dari pusat kota Wonosobo. Karena masih pagi, loket belum ada yang menjaga. Saya pun langsung menerobos pintu masuk.  Ada sepasang kekasih yang datang bersamaan waktunya dengan saya, wah syukurlah ada yang bisa motoin. Meski jarang mengupload foto yang ada muka saya di instagram, saya juga perlu foto selfie untuk koleksi pribadi. "mas-nya kok sendirian? temannya mana?" baiklah mereka orang pertama yang menanyakan ini.

Saya suka suasana Telaga Menjer di pagi hari. Kabut masih memutar di sekitaran telaga, kadang berayak turun kadang menghilang dibalik perbukitan. Nun jauh terlihat view Gunung Sindoro yang gagah. Perahu wisata masih terparkir di dermaga kecil, belum ada kang perahu yang berada di sana, hanya ada papan kayu dengan tulisan 20 ribu jika hendak naik keliling Telaga dengan perahu.

2. Kebun Teh Panama

kebun-teh-panama

Kalau sudah mampir ke Telaga Menjer, saran saya langsung saja sekalian pacu gas menuju Kebun Teh Panama. Jaraknya sudah dekat sekali. Jika di Telaga Menjer suasana masih sepi, berbeda dengan kebun teh yang sudah ramai oleh pengunjung. Saya juga antusias melihat pekebun teh yang sudah sibuk memangkas pucuk daun. Tiket masuk ke Kebun Teh Panama 20 ribu. Lumayan :)

3. Kebun Teh Tambi - Sikatok

teh-sikatok-wonosobo

Nah kalau kebun teh Tambi lumayan jauh dari kedua tempat sebelumnya. Saran saya jangan ikuti saran google maps, memang sih lebih cepat tetapi akan diarahkan menuju jalan desa yang sempit dan berkelok. Kalau buat motoran masih bisalah dilewati, tetapi kalau kalian pakai mobil lebih baik kembali ke jalan raya Wonosobo-Dieng saja. 

Pemandangan Kebun Teh Tambi indah banget sih. Terus banyak spot fotonya, tetapi tiap spot itu harus bayar lagi. Waktu itu saya masuk ke salah satu spot foto saja yaitu di Sindoro view kebun teh sikatok. Lokasinya agak naik ke atas. Tiket masuknya 10 ribu. 

4. Pintu Langit Sky View

pintu-langit-sky-view-dieng

Masih jam 10 pagi. Kayaknya nanggung kalau langsung tancap gas ke Dieng. Saya harus cari tempat nongkrong dulu buat nyicil naskah yang belum kelar. Sepanjang jalan Wonosobo-Dieng via Kejajar kalian bakal banyak nemuin warung atau coffeshop. Salah satunya Pintu Langit Sky View. Buat ngangetin badan saya pesan wedang jahe dan makanan ringan. Saya baru beranjak keluar jam 11.40 an untuk cari masjid buat salat jumat, ketemu di kawasan Tapak Banteng, dekat dengan basecamp Gunung Prau. Khotibnya ceramah pakai bahasa Jawa pula :D untung ngerti dikit-dikit.

5.  Tugu Selamat Datang di Dieng

tugu-selamat-datang-di-dieng

Kalau sudah masuk ke kawasan Dieng, pasti bakal kayak ada magnet yang membuat kamu berhenti dulu di tugu welcome to Dieng. Jam 12.30 WIB sebelum menuju penginapan saya foto dulu di sini. Buat ngabarin ke orang terdekat kalau saya sudah sampai di Dieng. Keep dulu tidak diupload di sosmed, ntar saja kalau sudah balik ke Jakarta. 

Selesai foto di tugu dieng Wonosobo, saya beranjak menuju penginapan di Tani Jiwo Hostel. Di depannya ada juga tugu welcome to dieng tetapi versi Banjarnegara. Yap, Dieng itu masuk ke dua kabupaten yaitu Dieng Wetan di Kabupaten Wonosobo dan Dieng Kulon masuk kabupaten Banjarnegara.  Wetan artinya timur dan kulon artinya barat dalam bahasa Jawa. Eh kebalik gak ya? :D

6. Savana Bukit Pangonan Dieng

savana-dieng

Mandi jam satu siang di Dieng saja masih berasa dingin. Airnya kayak air dari dalam kulkas. Makanya tiap penginapan pasti ada water heater-nya. Selama di Dieng saya cuman mandi sekali sehari. Setelah mandi saya istirahat dulu di penginapan, sambil baca buku di perpustakaan mini di lantai dua Tani Jiwo. Terus mikir sore ini mau ke mana ya? akhirnya buat pemanasan, saya memutuskan buat naik ke Savana Bukit Pangonan Dieng. Lokasi titik awal pendakiannya berada di dekat SD 2 Dieng Kulon.

Infonya sih paling setengah jam treking sudah sampai ke savana. Tetapi kok gak ada yang naik sama sekali. Masih ada rasa ngeri kalau sendirian naik ke atas. Treknya gak terlalu terjal, kalian bisa melihat view Kawah Sikidang di tengah perjalanan. Sampai di pos satu saya duduk nungguin orang buat bareng-bareng nanjak ke savana. Untungnya ada rombongan yang dateng dari Temanggung.

View Savana Bukit Pangonan magis, cakep banget, kayak lapangan luas yang dikelilingi perbukitan. Kalau lagi musim penghujan beberapa bagian savana akan tergenang air dan membentuk telaga kecil. Lumayan lama saya berada di atas. Ditemani sama rombongan dari Temanggung yang lagi bikin konten. Balik dari sana sudah jam lima sore, malamnya saya tidak punya ide ke mana-mana lagi. Diem di hostel saja. "Kalau mau naik ke Bukit Sikunir, masnya berangkat jam empat dari penginapan. Supaya gak telat sanresan (sunrise)" Baiklah saya tarik selimut, pasang alarm, dan istirahat untuk jaga stamina buat besok. 

Hari Kedua di Dieng

1. Bukit Sikunir

sunrise-bukit-sikunir

Mengapa orang begitu semangat sekali bangun pagi, menyusuri jalan dengan suhu udara yang rendah, hanya untuk bersusah payah treking ke atas bukit atau gunung.  Semua punya versi jawaban masing-masing. Termasuk saya yang keluar kamar pada pukul empat, lantas menyetir sepeda motor sendirian menuju Bukit Sikunir. Dingin sekali pagi itu. Sampai-sampai jari-jemari saya kaku. Salah sekali tidak memakai sarung tangan.

Jalanan masih lengang, kekhawatiran saya memuncak ketika maps mengarahkan melewati jalur yang ambles. "Lah ini harus lewat mana?" batin saya. untung saja ketemu tukang ojek yang sedang mengantar pendaki naik ke Sikunir juga. "masnya lewat lapangan bola, ikutin saja jalur setapak itu, ntar ketemu jalan gede lagi". Saya mengikuti saran bapak itu, membelah lapangan bola sambil komat kamit ban motor tidak terpeleset. Licin soalnya. Rumputnya bercampur embun.

Ketika sudah mendekati tempat parkir bukit sikunir, suasana sudah ramai oleh mobil-mobil wisatawan. Dari mana datangnya mobil-mobil ini kalau jalan tadi rusak? rupanya mereka melewati jalur alternatif, memutar lebih jauh. Benar dugaan saya, menyewa sepeda motor jauh lebih fleksibel. Mobil tidak bisa naik lebih jauh ke atas karena jalanan sempit, jadilah para wisatawan harus melanjutkan perjalanan dengan ojek dari tempat parkir mobil. Ojek di Sikunir sepertinya sudah terkelola dengan baik, memakai jaket khas berwarna kuning. Mumpung saya sendirian jadilah saya mengajak seseorang untuk dibonceng dari tempat parkir mobil menuju gerbang pendakian.

Tiket masuk ke kawasan bukit sikunir sebesar Rp 15 ribu. Waktu treking menuju spot sunrise sekitar setengah jam saja. Bukit Sikunir kalau hari libur padat sekali, hampir semua open trip dieng jalan pada akhir pekan. Makanya kalau mau coba solo treking ke Sikunir bakal aman-aman saja, tidak perlu khawatir kalau kesasar, jalurnya juga mudah dan tidak banyak cabang.

desa-tertinggi-di-jawa

Selain view golden sunrise Sikunir yang memukau, ada satu spot lagi yang jangan sampai terlewat kalau sudah sampai di puncak. Kalian jalan ke arah musola terus ikuti saja jalan setapak. Dibelakang punggung bukit kalian bisa melihat keindahan telaga cebong dan pemandangan desa Sembungan yang disebut-sebut desa tertinggi di Pulau Jawa.

2. Telaga Cebong

telaga-cebong-dieng

Setelah turun dari Bukit Sikunir, saya membeli kentang rebus di warung yang berjejer dekat pintu pendakian. Biar puas saya makannya di pinggir Telaga Cebong. Kalau saat berangkat hanya gelap tidak fokus melihat lingkungan sekitar, ketika pulang saya baru ngeh kalau di sekitar sini banyak penginapan dan ada juga camp area. Tetapi minusnya jauh dari minimarket dan tempat makan.

3. Kawah Sikidang

kawah-sikidang-dieng

Jujur saja masuk ke sini saya agak ragu, karena biasa saja sih. Ngeliat belerang dan kawah seperti ini sudah sering. Kalau kalian pergi ke komplek candi Arjuna terlebih dahulu, tiket masuknya juga satu paket dengan kawah sikidang. Tetapi saya malah sebaliknya, ke kawah dulu, terus tidak lewat pintu utama. Jadilah bayar dua kali.

4. Batu Pandang Ratapan Angin

batu-pandang-ratapan-angin

Nah kalau ke Tempat ini hukumnya wajib kalau ke Dieng. Dibanding langsung masuk ke kawasan telaganya, melihat view dari batu pandang ratapan angin jauh lebih puas. Telaga Warna dan Telaga Pengilon terlihat menakjubkan dikelilingi perbukitan khas Dieng. Dari sini bisa ngeliat desa di sekitaran Dieng.

5. Telaga Warna dan Telaga Pengilon

pintu-masuk-telaga-warna-dieng

Saya pernah masuk ke kawasan telaga ini saat kunjungan pertama, jadinya tidak tertarik masuk lagi. jadilah saya foto saja di depan pintu masuk.

6. Candi Bima

candi-bima

Lokasi Candi Bima terpisah dengan komplek Candi Arjuna. Fakta menarik penamaan candi-candi di Dieng banyak diambil dari nama-nama tokoh dalam epos Mahabhrata. Jika kalian tertarik mendengar sejarahnya cobalah datang ke museum Kailasa. Petugas dengan senang hati menjawab pertaanyaan dari pengunjung, termasuk pertanyaan saya mengapa Candi Bima dan Candi Dwarawati terpisah jauh dengan komplek candi Arjuna.

7. Museum Kailasa

museum-kailasa-dieng

Koleksi museum Kailasa terbilang lengkap. Arca-arca di dalam museum ini ditemukan di sekitaran Dieng. Saya antusias sekali mendengarkan petugas menjelaskan koleksi museum dan corak candi di kawasan Dieng. "kalau candi bima keunikannya bentuk arsitekturnya khas india. Kalau mas perhatikan ada arca kudu-nya di sisi dinding candi." "Kalau Candi Srikandi keunikannya adalah relief tri murti di sisi-sisi candi, Dewa Wisnu, Dewa Brahma, dan Dewa Siwa". 

Di sini juga kalian akan dijelaskan apa itu makara, yoni-lingga, arca ganesha, dan arca lain yang ada di museum. Termasuk juga teori mengapa beberapa arca kepalanya hilang. Terkadang belajar sambil mendengarkan lebih seru dibandingkan dengan membaca teori, saran saya jangan lewatkan Museum Kailasa dalam itinerary kalian.

8. Candi Gatotkaca

candi-gatotkaca

Meski terpisah dari komplek candi Arjuna, Candi Gatotkaca lokasinya tidak jauh dari sana, persis di seberang museum Kailasa. Jadi saran saya kalian parkir di satu tempat saja, tidak perlu pindah-pindah, biar hemat.

9. Telaga Balaikambang

telaga-balaikambang-dieng

Petugas Muesum Kailasa juga menjelaskan asal usul anak berambut gimbal di Dieng. Termasuk salah satu telaga yang dianggap suci oleh warga Dieng yaitu Balaikambang. Tempat berlangsungnya upacara Ruwatan anak berambut gimbal. Saya jadi penasaran berjalan ke arah telaga, menyisiri jalan setapak, melewati kebun kentang milik warga. Sesekali saya mengajak ngobrol petani kentang, bertanya banyak hal tentang masa tanam dan panen, hama, harga pasaran, tengkulak, dan termasuk begitu pentingnya telaga sebagai sumber kehidupan pertanian di Dieng.  Namun saran saya kalau ke Balaikambang jangan terlalu gegabah untuk mengelilingi telaga karena tektsur tanah di sekitaran telaga ini berlumpur. Kelihatan kering tapi di dalamnya membahayakan.

10. Komplek Candi Arjuna

 komplek-candi-arjuna

Lokasi telaga Balaikambang berada persis di luar pagar komplek Candi Arjuna. Karena saya tidak mau repot kembali ke pintu masuk awal, saya pun meniti jalan di pinggir pagar. Terus ketemu pondokan tempat menukarkan tiket dengan kain kawung hitam putih. Oh ya, warna hitam putih ini juga mempunyai makna yang filosofis sebelum kita masuk ke komplek candi. Tanyakan saja ke Petugas maknanya.

"loh masnya sudah punya tiket? kok bisa masuk?" petugas heran kok saya masuk tanpa tiket. Saya pun menjelaskan kalau tadi habis dari telaga terus menyisiri perkebunan kentang terus sampai ke tempat penukaran kain. "masnya ke loket dulu, harus ada tiket masuk" ujar petugas. "Kalau tau begitu saya tadi nyelonong masuk saja, gak perlu ngambil kain" batin jahat saya. Tetapi baiklah saya menurut. berjalan kembali ke loket.

Di komplek Candi Arjuna terdapat Candi Arjuna, Candi Puntadewi, Candi Srikandi, Candi Semar, dan Candi Sembadra. Tiap candi mempunyai ciri khas tersendiri.

11. Candi Setyaki

candi-setyaki

Kalau gak searching dulu biasanya akan terlewat mengunjungi candi satu ini. Lokasinya berada di luar komplek Candi Arjuna. Saat saya ke sini sepi tidak ada orang yang berkunjung.

12. Candi Dwarawati

candi-dwarawati-dieng

Pukul 12 siang saya kembali ke penginapan. Makan siang, mandi, dan istirahat sebentar. Barulah sekira pukul tiga sore saya kembali melanjutkan menyelesaikan daftar tempat yang tersisa di itinerary. Candi Dwarawati satu arah dengan titik awal pendakian gunung prau via dieng dan bukit skoter.

13. Bukit Skoter

bukit-skoter-dieng

Menghabiskan sore di bukit skoter adalah penutup sempurna cerita hari itu, di sana saya berbincang dengan empat orang mahasiswa Unsoed yang motoran ke Dieng dari Purwokerto. "Sebentar lagi kan libur panjang perkuliahan mas, makanya kami ke sini" mereka berasal dari daerah yang berbeda, dua dari purwokerto, indramayu, dan magelang. "kalian gak ke tempat lain kayak ke arjuna, sikunir, batu pandang, dll?" tanya saya. "gak mas niatnya cuman ke bukit ini saja, yang penting ke Dieng. ntar abis maghrib balik lagi ke Purwokerto".

Hari Ketiga di Dieng

- Telaga Merdada

telaga-merdada-dieng

Saya hanya mengunjungi telaga merdada di hari terakhir. Keindahan alam dan komplek percandian di Dieng menjadi destinasi utama wisatawan, namun ada sudut pandang yang tak kalah menarik yaitu aktivitas pertanian di Dieng. Bagaimana warga yang sempat kesulitan di musim kemarau karena air di Telaga Merdada sempat kering. Mereka terpaksa mengairi kentang secara manual, menggendong jerigen semprot. "baru seminggu ini airnya ada lagi, Dieng baru masuk musim penghujan mas. supaya airnya bisa masuk ke pipa harus digali dulu tanahnya" kata petani yang saya temui. 

Saya tidak bisa berlama-lama, jam sembilan saya melanjutkan perjalanan menuju terminal Mendolo. Lokasi janjian dengan sopir shuttle and travel aragon menuju Semarang. Mengapa saya suka sekali solo traveling? mungkin ini alasannya, lebih banyak tempat dan cerita yang saya dapatkan. Mengapa saya memilih foto petani di Dieng sebagai pembuka artikel ini? karena untuk itulah misi saya ke Dieng kali ini, yang tidak bisa saya jelaskan dalam artikel. Semoga itinerary traveling ke Dieng bermanfaat untuk kalian. Salam takzim.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
bukit-sikunir-dieng

Apakah bisa solo traveling ke Dieng dengan transportasi umum? jawabannya bisa banget, tetapi harus siap-siap ambil cuti yang banyak. Namun tenang, saya punya referensi yang bisa kalian tiru dengan waktu seefisen mungkin. Termasuk  tempat apa saja yang wajib dikunjungi ke dieng jika hanya punya waktu libur yang singkat. Lengkap dengan informasi sewa motor atau mobil di dieng dan info penginapan murah yang saya pesan. Perjalanan ke Dieng saya lakukan sendirian, sampai-sampai orang yang saya jumpai di sana bilang "pasangannya mana mas?" "mas gak punya temen ya makanya solo traveling?".

Cara ke Dieng dari Berbagai Daerah

Dieng itu terletak di dua kabupaten yaitu Wonosobo dan Banjarnegara. Namun lebih mudah dan cepat kalau kita berangkat dari Kota Wonosobo. Waktu tempuhnya hanya satu jam perjalanan saja. Lantas bagaimana cara menuju Kota Wonosobo? 

1. Backpacker ke Dieng dari Semarang

travel-semarang-wonosobo

Bandara terdekat dari kawasan Dieng yaitu Bandara Ahmad Yani di Semarang. Lalu untuk menuju Wonosobo bisa menggunakan Aragon shuttle and travel yang mempunyai waktu keberangkatan pukul 01.00 WIB, 07.00 WIB, 13.00 WIB, dan 19.00 WIB. Angkutan ini tujuan akhirnya ke Purwokerto, tetapi kita bisa minta diturunkan di Wonosobo saja dengan tarif Rp.100.000. Tiketnya bisa dipesan melalui Traveloka ataupun Tiket.com. 

Satu hari sebelum keberangkatan akan ada sopir yang menghubungi kalian minta dijemput di mana. Layanan jemput ini gratis asal masih di tengah kota Semarang. Waktu itu saya naik yang jam tujuh pagi, langsung menuju outletnya di Taman Kasmaran Semarang. Kenapa tidak minta dijemput saja? karena saya ingin liat langsung outletnya seperti apa, sekalian cari informasi tentang aragon. "Mau berapapun penumpang, mobil akan berangkat sesuai jadwal" ujar petugas loketnya.  Waktu itu mobil berangkat hanya berisikan dua orang penumpang saja. Kemudian tiba di Wonosobo sekitar pukul 10.00 WIB. Saya minta diturunkan di terminal Mendolo Wonosobo, saya sudah janjian dengan tempat rental motor di terminal itu. 

2. Naik bus dari Jakarta ke Wonosobo.

terminal-mendolo-wonosobo

Kalau kalian berangkat dari Jakarta bisa menggunakan bis Sinar Jaya menuju Terminal Mendolo di Wonosobo. Kalian bisa memesan tiketnya melalui aplikasi Tiket.com dan sejenisnya. Harganya sekitar Rp 150.000.

3. Naik kereta turun di Purwokerto atau Semarang
stasiun-tawang-semarang

Wonosobo itu tidak punya stasiun kereta api. Jadi opsi terdekat kalian bisa turun di Stasiun Purwokerto atau Semarang. Dari kedua stasiun itu bisa menggunakan shuttle and travel seperti yang telah saya ulas sebelumnya.

Sewa Motor di Wonosobo

sewa-motor-wonosobo-dieng

Terus langkah selanjutnya dari Terminal Mendolo atau Kota Wonosobo ke Kawasan Dieng bagaimana? ada dua opsi. Pertama naik bis kecil yang bisa mengantar kita menuju Dieng. Namun kepastian jadwal bisnya ini tentatif, tidak bisa diprediksi. Biasanya sih berangkat pagi. Maka saran saya lebih efektif kalau sewa motor di Wonosobo saja, toh waktu tempuh menuju Dieng hanya satu jam perjalanan saja. 

Saya sewa motor di Sakura Rental Wonosobo. Nomor telepon dan wa : 085601813062. Instagram @sewamotorwonosobo_sakura. Harga sewa motor vario tahun 2015 yang saya pesan 150 ribu per 24 jam. Harganya relatif sama dengan tempat sewa lain. Mungkin ada yang lebih murah. Tetapi pelayanan sakura saya acungi jempol.

Selain fasilitas dan layanan standar seperti jas hujan, helm, dan antar jemput di kota Wonosobo, Sakura rental juga menyediakan holder hp di tiap motornya. Jadi kita bisa menyetir sambil liat maps atau merekam video. Pada saat serah terima kunci motornya juga sudah diisi bensin penuh, jadi tidak perlu deh ke SPBU dulu. Jangan lupa cek dulu unitnya sebelum berangkat, pastikan rem dan ban aman. Syarat sewanya yaitu kita menyerahkan jaminan kartu identitas.

Sebelum berangkat ke explore Wonosobo dan Dieng saya mengobrol dulu sama tukang bubur ayam di dekat pintu keluar terminal, cari informasi dulu tentang bus yang lalu-lalang di jalan raya. "Kalau mau naik kendaraan umum ke Dieng, masnya bisa naik dari tugu KM 0 wonosobo saja, tidak perlu nunggu di terminal" "terus bis ke dieng itu biasanya pagi, kalau lewat jam 12 udah susah cari bis ke sana". Informasi yang sangat bermanfaat dari bapak itu, sepulang dari Dieng saya ketemu lagi sama beliau. Kalau kalian mampir ke terminal Mendolo, yok dilarisin dagangannya. Beliau mangkal di dekat pintu keluar terminal, sebelah kantor Basarnas.

Motoran Menikmati Jalan Wonosobo Dieng via Kejajar

pintu-langit-sky-view

Jika ada tempat yang harus kalian datangi di Indonesia,  saya akan mengatakan salah satunya adalah Dieng. Belum sampai di Dieng saja kalian akan disuguhi pemandangan alam yang membuat takjub selama perjalanan. Gunung Sindoro yang dihias awan yang berayak, perbukitan hijau yang terbentang, Terasering kebun warga yang berundak. Untuk yang setiap hari menghirup udara kotor di Jakarta, berangkat ke Dieng adalah kesempatan untuk memperbaiki kualitas oksigen yang kita hirup. 

Saya benar-benar menikmati motoran ke Dieng. Tengah perjalanan saya singgah ke dua coffeshop dengan view pegunungan yang keren yaitu Pintu Langit Sky View pada saat berangkat dan Maha Sky Batu Angkruk pada saat pulang. Karena berangkat pada hari jumat saya singgah sebentar ke masjid di wilayah Tapak Banteng, kebetulan khotibnya ceramah pakai bahasa jawa :D. Lumayanlah mengetes kemampuan bahasa jawa yang gak seberapa.

Penginapan di Dieng

tani-jiwo-hostel-dieng

Kalian mau ambil penginapan yang seperti apa? semuanya ada di Dieng. Villa yang buat keluarga ada, resort buat staycation ada, penginapan murah untuk backpackeran juga ada. Sepanjang jalan di kawasan Dieng itu penginapan semua, jadi banyak pilihan. Tetapi repot sudah kalau kalian datang pada saat musim libur panjang atau kegiatan Dieng Culture Festival (DCF), hampir semua penginapan penuh. 

Kalau saya waktu itu memilih Tani Jiwo Hostel, dari namanya saja sudah bisa menebak kamar yang disediakan seperti apa. Hostel biasanya punya bunk bed atau ranjang bertingkat seperti asrama. Namun di Tani Jiwo juga tersedia private room buat kalian yang datang bersama keluarga. Saya memesan kamar seharga Rp 150.000. Honestly kalau traveling sendirian seperti ini saya lebih suka memesan kamar yang ranjang bertingkat seperti ini. Praktis. Kan cuma untuk tidur doang. 

Barang bawaan bisa disimpan di loker yang tersedia di kamar. Untuk mandi dan toilet sifatnya share facilities, digunakan bersama-sama. Lantai tiga Tani Jiwo terdapat cafe, jadi kalau mager keluar cari makan bisa pesan di sana saja. Tipikal hostel pilihan saya banget ini, yang kalau malam lebih milih diem di penginapan dibanding keluyuran. 

Harga 150 ribu ini termasuk sarapan ya ges. Pengunjung juga bisa meminjam sepeda di Tani Jiwo, gratis. Pemandangan pagi dari lantai tiga indah banget. Kita bisa melihat para wisatawan yang berdatangan untuk berfoto di tugu Welcome to Dieng.

Tempat Wisata di Dieng yang wajib dikunjungi

tempat-wisata-dieng-batu-ratapan-angin

Adapun tempat wisata yang saya kunjungi di Dieng adalah :

1. Tugu Dieng

2. Savana Pangonan

3. Bukit Sikunir

4. Telaga Cebong

5. Kawah Sikidang

6. Batu Pandang Ratapan Angin

7. Telaga Warna dan Telaga Pengilon

8. Candi Bima

9. Museum Kailasa

10. Candi Gatotkaca

11. Komplek Candi Arjuna

12. Telaga Balaikambang

13. Candi Dwarawati

14. Bukit Skoter

15. Telaga Merdada

Daftar di atas adalah sesuai urutan yang saya datangi sesuai dengan itinerary. Saya buat berdasarkan dekatnya jarak antar lokasi wisata. Wah sepertinya harus saya pecah ke dua artikel. Tidak terasa jumlah kata yang saya buat sudah seribuan lebih. Saya akan coba ulas satu persatu tempat itu di postingan selanjutnya. 

Puas banget solo trip ke Dieng kali ini. Ada misi yang belum tuntas saat kunjungan pertama. Lebih dapet aja feel-nya sesuai pepatah yang disebutkan oleh petugas museum Kailasa kepada saya "ngelmu iku kalakoni kanthi laku". Saya banyak berinteraksi dengan warga lokal, mulai dari tukang bubur di terminal, petugas museum, petani ketang, dan pedagang warung di Dieng.

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
gereja-blenduk-kota-lama-semarang

Sudah pernah membaca novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu? Jika belum saya akan memberikan sinopsis singkat tentang novel ini, yaitu tentang seorang bernama Rey, pengusaha kaya raya yang kesepian dan sedang sekarat di masa tuanya. Lalu datang orang asing yang di dalam cerita disebutkan dengan panggilan "orang dengan wajah yang menyenangkan". 

Orang asing itu membawa Rey kembali ke masa lalu, flashback kehidupan Rey muda yang tinggal di panti asuhan, lalu pindah ke rumah singgah di kota besar, setelah itu pindah lagi ke kota lainnya dan menjadi arsitek kaya raya. Dalam perjalanan hidupnya,  Rey dipenuhi dengan lima pertanyaan besar yang memutar di kepalanya.

Pertama, Ada begitu banyak panti namun mengapa Tuhan menaruhnya di panti itu. Panti yang dijaga dan dikelola oleh orang yang tamak dan bengis. 

Kedua, Apakah hidup ini adil. Ketika banyak kejadian yang tidak menyenangkan yang di alami oleh dirinya dan teman-teman di rumah singgah. Bagian ini menjadi favorit saya dalam cerita ini. Berikut salah satu kutipannya

"Apakah hidup ini adil Ray? ah, sayang kita selalu menurutkan perasaan dalam urusan ini. Kita selalu berprasangka buruk. Kita membiarkan hati yang mengambil alih, menduga-duga, kita membiarkan hati mulai menyalahkan. Mengutuk semuanya kemudian tega sekali menjadikan kesalahan orang lain sebagai pembenaran atas tingkah laku keliru kita. 

Tapi apakah hidup ini tidak adil? tidak Ray ! Pembalasan di dunia hanya sepotong kecil dari keadilan langit. Ada cara lain bagi Tuhan untuk membuat timbangan keadilan itu berjalan baik. Kau dan sebagian besar orang di muka bumi boleh jadi mengingkarinya, tetapi itu nyata, pembalasan hari akhir itu nyata, senyata kau seorang yang tersungkur mengenang semua masa lalu ini.

Aku sederhanakan bagimu, Ray, selalu berharap sedikit. Ya ! berharap sedikit, memberi banyak. Maka kau akan siap menerima segala bentuk keadilan Tuhan."

Untuk pertanyaan ketiga sampai kelima tidak akan saya bahas. Terlalu spoiler. Kalian bisa membacanya sendiri. Setelah mendengar berita kalau novel ini akan difilmkan, pertanyaan saya di mana lokasi syutingnya. Karena di novel tidak secara spesifik menjelaskan kota yang menjadi latar tempat cerita. Apakah di Jakarta? Surabaya? Semarang? atau bahkan kota lain.

Adalah Max Pictures yang menggarap proses film Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Film ini diperankan oleh Arifin Putra sebagai Ray Dewasa, Bio One sebagai Ray muda, Donny Alamsyah, Ariyo Wahab, dll. Lantas Kota Semarang dipilih sebagai lokasi syuting film ini. Dua tempat utama yaitu Kawasan Kota Lama Semarang dan Pelabuhan Kapal Kayu Tanjung Emas.

Saya tertarik mengulas kedua tempat ini. Karena tempat ini menjadi jantung aktivitas bisnis dan perdagangan kota Semarang di masa lalu.

Kota Lama Semarang

bank-mandiri-kota-lama-semarang

Kesan pertama saya ketika datang di kota Lama Semarang adalah takjub. Saya sudah beberapa kali mengunjungi kawasan kota tua atau kota lama di Indonesia seperti Batavia-Jakarta dan Braga-Bandung. Namun nuansa atau suasana di Kota Lama Semarang ini berbeda dengan yang lain. Jalan kakinya berasa lebih menyenangkan. Trotoar lebih lega, hilir mudik kendaraan lebih sepi, dan jarak antar bangunan berdekatan.

Kita tau bahwa terdapat Stadhuis van Batavia atau museum Fatahilah (nama sekarang) sebagai balai kota zaman pemerintahan Hindia Belanda di Batavia-Jakarta. Lantas di Kota Lama Semarang bangunan Stadhuis atau balai kota di mana? kalian bisa membaca artikel rujukan melalui link ini : Balai Kota Lama Semarang . 

gereja-kota-lama-semarang

Bangunan di kota lama yang paling ramai dikunjungi dan menarik perhatian saya adalah Taman Srigunting yang terletak di sebelah timur Gereja GPIB Immanuel atau Gereja Blenduk. Gereja ini bisa dibilang landmark atau tetenger-nya kota lama. Gereja ini dibangun tahun 1753, mempunyai arsitektur unik berupa kubah di bagian atapnya.  Pepohonan rimbun di Taman Srigunting menjadi tempat yang nyaman untuk berteduh di tengah teriknya Semarang. Dari taman ini kita bisa melihat view Gereja Blenduk yang megah. 

gedung-marba-kota-lama-semarang

gedung-spiegel-kota-lama-semarang

Bangunan lain yang ikonik dan sempat saya foto di kota lama adalah Gedung Marba,  Gedung Spiegel, Soesmans Kantoor, PT Perkebnunan XV Persero, Monumen Titik Nol, Gedung Bank Mandiri, dan Stasiun Tawang Semarang. Kawasan Kota Lama Semarang terbilang terawat dan rapi. Namun ada beberapa bangunan yang belum dipugar.

Pelabuhan Kapal Kayu Tanjung Emas

pelabuhan-kayu-tanjung-emas-semarang

Lokasi syuting film Rembulan Tenggelam di Wajahmu yang saya datangi berikutnya adalah Pelabuhan Kapal Kayu Tanjung Emas. Kalau mau cari lokasinya di google maps bisa pakai keyword Haven voor traditionele Shoener - Pelabuhan kapal kayu Tanjung Emas. Beberapa scene film berada di lokasi ini. 

Mercusuar yang menjulang menjadi sorot perhatian saya saat berkunjung ke sini. Perkiraan saya menara mercusuar ini sudah berdiri sejak lama, sebagai tempat untuk memonitor dan pemberi sinyal kapal masuk dan keluar Pelabuhan Tanjung Emas. Setelah saya gali informasi, mercusuar ini diberi nama Mercusuar Willem III yang dibangun pemerintah kolonial Belanda tahun 1879 dan rampung tahun 1884 (pada saat Raja Willem III masih bertakhta). Raja Willem III meninggal pada tahun 1890 dan mewariskan takhtanya kepada putrinya yaitu Ratu Wilhelmina yang saat itu masih berusia 10 tahun.

mercusuar-willem-3-tanjung-emas-semarang

Pelabuhan Kapal Kayu Tanjung Emas sekilas mirip dengan suasana Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta. Kapal-kapal kayu banyak bersandar di tepi pelabuhan. Terdapat juga kali atau sungai yang kalau ditelusuri alirannya bercabang dua. Satu mengarah ke kawasan Lawang Sewu dan satu lagi mengarah ke Kota Lama. Dulu aliran kali ini bisa dilalui kapal-kapal kayu yang berukuran kecil atau sedang. 

Kalau kalian tertarik menulusuri aliran sungai atau kali, kalian bisa menemukan bekas pergudangan tua yang masih berdiri. Lalu terdapat masjid tua di pinggir kali yang dibangun tahun 1802. Nama masjidnya adalah Masjid Menara. 

masjid-menara-dekat-kota-lama-semarang

Ada beberapa tempat lagi yang menjadi lokasi syuting film Rembulan Tenggelam di Wajahmu (RTDW), namun saya hanya membahas dua kawasan saja karena menjadi latar utama film RTDW yang pertama. Maksudnya film yang pertama? ya betul, menurut rencana film ini dibagi menjadi dua bagian. Pertanyaan Rey tentang kehidupan dia di panti dan rumah singgah sudah terjawab di film yang pertama. Sayang film ini tidak terlalu ramai ketika tayang di bioskop pada Desember 2019. 

film-rembulan-tenggelam-di-wajahmu

Lalu pertanyaan berikutnya akan terjawab di film yang kedua. Lantas kapan film yang kedua tayang? itu juga yang menjadi pertanyaan saya. Untuk film Rembulan Tenggelam di Wajahmu yang pertama kalian bisa menontont melalui layanan streaming resmi Klik Film. 

Semoga ulasan ini bermanfaat. Salam Takzim.

 


 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tiba di Bandara Adi Soemarmo pada tanggal 4 Mei 2019 pukul 10.55 WIB, penulis langsung bergegas menuju pintu keluar. Mengapa terkesan buru-buru? alasannya karena penulis hanya mempunyai waktu yang singkat di Solo.

Keesokan harinya pada jam 11.40 WIB sudah harus kembali ke Jakarta karena tiket promo yang digunakan penulis hanya berangkat pada jam itu saja. Penulis menuju loket Damri yang terletak di halte bus Bandara Adi Soemarmo. Kira-kira sekitar 100 meter dari pintu kedatangan domestik.

Setelah bertanya dengan penjaga loket, rupanya bus akan berangkat sebentar lagi.  Penulis pun naik dengan membayar ongkos Rp.25.000 menuju Terminal Tirtonadi. Penumpang damri saat itu hanya berempat saja, sepi sekali yang naik.

Penulis hanya mempunyai waktu kurang lebih 24 jam saja di Kota Solo, penulis harus memaksimalkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang menjadi tujuan utama. Kota Solo memang terkenal dengan wisata kulinernya, namun penulis bukan seorang yang maniak dengan wisata kuliner. Lalu pergi kemana saja penulis saat itu? berikut catatan-catatanya.

Keraton Surakarta Hadiningrat
keraton surakarta
Solo kerap dikaitkan dengan saudaranya yaitu Yogyakarta, tidak lepas dari sejarah Perjanjian Giyanti  pada tahun 1755 yang membagi Kesultanan Mataram Islam menjadi dua wilayah yaitu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Keraton Surakarta Hadiningrat.

Keraton menjadi tempat yang penulis kunjungi pertama. Letaknya berdekatan dengan tempat yang akan penulis kunjungi berikutnya yaitu Pasar Klewer dan Masjid Agung Surakarta. Bangunan bersejarah ini mempunyai jam buka wisatawan pada pukul 9.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB pada hari senin s.d. kamis. Lalu pada hari Sabtu dan Minggu buka pada pukul 9.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Khusus hari Jumat, Keraton Surakarta Hadiningrat ditutup untuk wisatawan.

Sobat bisa menyewa becak untuk berkeliling kawasan keraton. Becak-becak tersebut parkir di halaman depan keraton, harganya penulis tidak tahu karena tidak bertanya. Penulis mengatupkan kedua tangan tanda meminta maaf karena menolak tawaran bapak-bapak penarik becaknya.

Penulis terpukau melihat halaman depan keraton yang mempunyai ukiran khas jawa. Lalu terdapat Menara Sanggabuana yang merupakan bangunan tertinggi di Keraton. Penulis masuk ke dalam dengan membayar tarif masuk Rp.10.000. Terdapat banyak sekali ruangan museum yang ada di keraton. Seperti ruangan foto-foto raja kesultanan, ruang koleksi arca, ruang kesenian, ruangan alat angkut, dan lain-lain.

Pasar Klewer
pasar klewer solo
Selanjutnya penulis menuju Pasar Klewer dengan berjalan kaki dari keraton. Pasar ini merupakan salah satu pasar tertua yang ada di Kota Solo. Sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang, dulunya hanya berbentuk lapak-lapak kecil saja dan tidak beraturan. Setelah direnovasi dan dibuat bertingkat, pasar ini kian ramai dan menjadi tempat penjualan kain-kain batik. 

Pasar ini sempat mengalami kebakaran hebat pada tahun 2014 loh. Setelah itu pasar ini ditata kembali dan kembali seperti sedia kala, ramai dikunjungi pembeli. Penulis pun mampir sejenak di pasar ini, penjualnya ramah-ramah dan harga batiknya tergolong murah.

Masjid Agung Keraton Surakarta
masjid keraton solo
Bagi sobat yang beragama Islam, cobalah berkunjung ke masjid ini. Lokasinya berada di depan Pasar Klewer. Saat masuk ke kawasan masjid, terdapat gapura besar bernuansa timur tengah di hadapan penulis. Uniknya terdapat tiga pintu di gapura ini, penulis masuk melalui pintu tengah karena pintu yang lainnya tertutup.
Lalu di dalam masjid banyak sekali tiang-tiang penyanggah bangunan yang terbuat dari kayu. Terdapat menara yang dulunya difungsikan sebagai tempat azan. Ada juga bedug di salah satu sisi masjid. 

Setelah melaksanakan sholat ashar penulis tidur-tiduran di Serambi masjid yang luas. Ada banyak juga pengunjung yang melakukan hal yang sama.  Penulis hanya tidur sebentar, karena ingin menuju tempat berikutnya yaitu Kampung Batik Kauman.

Kampung Batik Kauman
Kota Solo terkenal dengan batiknya, terdapat dua kampung batik yang populer di Solo yaitu Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman. Saat itu penulis hanya berkunjung ke Kampung Batik Kauman saja, lebih dekat berjalan kaki dari Masjid Agung Keraton.
Ketika memasuki gang-gang kecil di kawasan ini, penulis melewati bangunan-bangunan kuno. Ada yang berarsitektur Eropa dan Jawa. Bisa dijadikan spot foto bagi sobat yang menyukai foto portrait. 
kampung batik kauman
Penulis hanya berjalan-jalan saja, tidak singgah apalagi membeli batik. Saat itu sedang dibangun sebuah patung seorang ibu yang sedang membatik. 

Masjid Al Wushto Mangkunegaraan
Setelah jarum jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, penulis berhenti dan duduk di salah satu sudut Jalan Slamet Riyadi. Penulis mencari referensi tujuan berikutnya sebelum menuju ke penginapan.

Sebetulnya penulis ingin mengunjungi Stadion Manahan, Stadion yang menjadi markas klub Persis Solo. Dulunya juga sempat menjadi markas klub Persijatim Solo yang merupakan cikal bakal berdirinya Klub Sriwijaya FC. Namun terlalu kesorean kalau ke sana, sudah gelap dan pasti tidak diperbolehkan masuk ke dalam.
masjid al wushto mangkunegaraan
Akhirnya penulis menuju Masjid Al Wushto Mangkunegaraan, lokasinya berada di dekat Pura Mangkunegaraan. Bentuk gapura di pintu masjid ini unik, melengkung dan dihiasi kaligrafi. 
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB saat itu, penulis akhirnya menuju ke penginapan yang telah di pesan. Harga penginapannya seratus ribu saja, yang penting nyaman. Keesokan harinya penulis bangun sudah jam delapan lebih, padahal rencanya ingin mengunjungi beberapa tempat lagi sebelum pulang. Akhirnya penulis hanya pergi mencari sarapan di dekat penginapan saja, lalu berdiam diri di kamar sebelum pulang.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Buku Menulis Cerita Perjalanan

Buku Menulis Cerita Perjalanan
Pada tahun 2023, buku pertama saya berjudul Menulis Cerita Perjalanan resmi diterbitkan oleh Penerbit Jejak. Melalui buku ini saya menceritakan perjalanan selama berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Saya ingin perjalanan-perjalanan tersebut, tidak menguap begitu saja tidak ada bekas dan jejaknya. Jika para pembaca tertarik membacanya dapat klik gambar buku atau melalui link berikut : Shopee : https://id.shp.ee/hXGJwGT dan Toko Buku Jejak : https://tokobukujejak.com/detail/menulis-cerita-perjalanan-FCONM.html

Popular Posts

  • Penitipan Barang di Stasiun Kemayoran, PopBox Solusinya
  • Solo Traveling ke Lahat Dengan Kereta Api
  • Stadion Taman Sari Mangga Besar Jakarta, Jejak Sepakbola di Ibu Kota
  • Pertama Kali Tektok Gunung Gede Via Putri
  • Kolam Renang Bojana Tirta, Murah dan Nyaman

Tentang Penulis

Halo para pembaca, penulis adalah seorang pemuda kelahiran tahun ’97. isi blog ini seputar cerita dan catatan penulis ketika berkunjung di beberapa provinsi di Indonesia, tujuan membuat blog ini supaya dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama yang mempunyai hobi traveling. penulis dapat dihubungi dengan berkirim email ke dodonulis1@gmail.com

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

recent posts

    Pages

    • Privacy Policy
    • About Me
    • Disclaimer
    • Contact

    BloggerHub

    BloggerHub Indonesia

    Created with by ThemeXpose