• Home
  • Sumatera
    • Aceh
    • Sumatera Utara
    • Sumatera Barat
    • Riau dan Kepri
    • Sumatera Selatan
    • Jambi
    • Bengkulu
    • Bangka Belitung
    • Lampung
  • Jawa
    • DKI Jakarta
    • Banten
    • Jawa Barat
    • Yogyakarta
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
  • Kalimantan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
    • Kalimantan Utara
    • Kalimantan Timur
  • Sulawesi
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Bali NTB NTT
    • Bali
    • Lombok
    • Sumba
    • Flores
  • Maluku dan Papua
    • Maluku
    • Papua
instagram Email

dodonulis

blog catatan perjalanan

pelabuhan sunda kelapa dilihat dari menara syahbandar

Sudah pernah berkunjung ke Pelabuhan Sunda Kelapa? jika belum, bagi sobat yang suka fotografi cobalah untuk ke sana. Melihat aktivitas bongkar muat barang di kapal kayu berukuran besar, Peti kemas yang tertumpuk, lalu lalang truk besar, dan ada juga para pemancing yang terlihat sedang menunggu ikan terkena kail. Pelabuhan Sunda Kelapa saat ini terbuka untuk umum, tidak ada retribusi untuk masuk ke area pelabuhan. 

menara syahbandar jakarta

Ingin melihat suasana Pelabuhan Sunda Kelapa dari sudut yang berbeda? Penulis berkunjung ke Menara Syahbandar yang berada di Jl Pakin, Penjaringan, Jakarta Utara.  Dulunya menara ini dikenal dengan nama De Uitkijk, dibangun pada tahun 1839 oleh pemerintah Kolonial Belanda.  Menara ini berfungsi sebagai menara pemantau bagi kapal-kapal yang keluar masuk Pelabuhan Sunda Kelapa. 

koleksi di menara syahbandar

Menara Syahbandar ini juga dijuluki menara miring karena bentuk bangunannya yang terlihat miring.  Sebelum naik ke atas menara, Penulis melihat-lihat sejenak koleksi yang ada di lantai dasar.  Masuk ke dalam ruangan yang berisikan barang-barang koleksi menara Syahbandar yang digunakan pada masa lalu. Seperti Teropong, Batu Duga, Lensa, dll. 

museum menara syahbandar jakarta

Terdapat juga "prasasti kedatangan Saudagar Cina abad 17", pada dinding ruangan terdapat informasi yang menerangkan bahwa tulisan beraksara Cina ini adalah kantor pengukuran dan penimbangan serta disinilah titik nol Jakarta pada waktu itu. Sebelum akhirnya titik nol Kota Jakarta dipindahkan ke Monumen Nasional (Monas).

jendela menara syahbandar

Menara Syahbandar memiliki ketinggian 12 meter. Penulis mulai naik ke bagian atas, melewati anak tangga kayu berwarna merah, lumayan olahraga kecil-kecilan. Bagian paling atas menara merupakan tempat pemantauan kapal. Ruangannya terbuka dengan jendela-jendela berukuran besar. 

gedung voc galangan

 
museum bahari dan pasar ikan

Dari sinilah kita bisa melihat suasana sekitar menara dari segala penjuru. Gedung VOC Galangan, Museum Bahari, Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kelapa, bahkan hamparan laut di utara Ibu Kota. Di bagian sentral terdapat foto orang yang sedang meneropong atau memantau kapal. Lalu terdapat juga foto-foto lama Menara Syahbandar. Foto-foto tersebut memperlihatkan belum banyak bangunan-bangunan yang ada di sekitar menara, sungai-sungai masih terlihat lebar. 

Lokasi menara yang berada di dekat jalan yang dilalui oleh kendaraan besar membuat menara ini sering bergetar, hal ini menambah julukan lain Menara Syahbandar yaitu Menara Goyang. Pertama kali ke sini, Mulanya Penulis mengira kalau getaran tersebut karena sedang terjadi gempa. 

museum bahari jakarta

Puas memotret, Penulis pun turun kembali ke lantai dasar dan berjalan kaki menuju Musuem Bahari yang letaknya berdekatan.  Bagian depan Museum Bahari terlihat unik dengan dua buah jangkar. Lalu bangunan sebesar itu pintu masuknya berukuran kecil dengan nuansa yang kental dengan masa kolonial. Terdapat tiga gedung utama yang diberi nama alfabet, Gedung A, B, dan C. 

koleksi kapal nusantara di museum bahari

 
diorama penjelajah di museum bahari

Gedung A memiliki koleksi diorama penjelajah dunia di lantai dua. Gedung B merupakan ruangan pertemuan, cafetaria, dan toko souvenir. Gedung C berisikan Perahu-perahu khas dari beberapa daerah di Indonesia. Ada banyak koleksi-koleksi lainnya yang akan membuat kita bangga dengan Indonesia. namun karena Penulis datang saat jam tutup museum hampir usai, jadinya tidak banyak yang bisa dilihat satu-persatu. 

halaman museum bahari

Beberapa sudut bangunan Museum Bahari terlihat unik dan bagus untuk dijadikan objek foto. Seperti halaman lapang yang terdapat antara gedung A dan Gedung B. Dinding-dinding gedung yang berwarna putih, Lalu Jendela dan Pintu tiap gedung yang unik.


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
jembatan gantung situ gunung

Jembatan Gantung Situ Gunung sepanjang 243 meter ini disebut-sebut sebagai jembatan gantung terpanjang di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Predikat itu menarik perhatian Penulis untuk datang ke jembatan yang terletak di Sukabumi ini. 

Cara menuju Jembatan Situ Gunung

1. Dari Jakarta menggunakan KRL tujuan Bogor terlebih dahulu. Lalu Sobat bisa berjalan kaki menuju Stasiun Paledang selama kurang lebih 15 menit (optional bisa menggunakan ojek juga). Dari stasiun Paledang terdapat Kereta Api lokal menuju Stasiun Cisaat di Sukabumi. Tiket bisa dibeli di laman resmi KAI atau Traveloka dkk. Namun saat ini Kereta Api tersebut sudah lama belum beroperasi lagi semenjak pandemi.

2. Cara kedua menggunakan angkutan Colt dari Bogor ke Sukabumi. Penulis melihat ada banyak Colt mini berwarna merah yang melintas di sepanjang jalan, di bagian depan dan belakang mobil terpampang tulisan Bogor-Sukabumi. Namun estimasi waktu tidak menentu, karena lalu lintas menuju Sukabumi itu banyak titik macetnya. 

3. Dari dua opsi di atas Penulis lebih menyarankan sobat menggunakan kereta api (jika sudah beroperasi lagi). Karena belum beroperasi jadinya Penulis menggunakan opsi yang ketiga yaitu berkendara motor dari Jakarta menuju Sukabumi. Ini cara yang paling melelahkan dan sepertinya Penulis tidak akan mengulangi cara ini lagi jika ke Sukabumi. 

Sabtu, 5 Maret 2021. Penulis berangkat dari Jakarta saat jarum jam menunjuk angka sepuluh. Sudah terlalu siang untuk berpergian. Belum sampai Bogor saja sudah berjumpa dengan kemacetan di sekitaran Lippo Kramat Jati dan kawasan pasar Cibinong. Alhasil tiba di Bogor pukul 11.30 WIB, lalu berhenti sebentar untuk makan siang di sebuah warteg. 

jalan bogor sukabumi

simpangan menuju jembatan situ gunung

Perjalanan kembali dilanjutkan pukul 12 siang. Banyak bus dan angkot yang lalu lalang, begitu juga dengan truk-truk besar, membuat penulis harus berkonsentrasi jika ingin mendahului. Indahnya Gunung Salak dapat terlihat dengan jelas di saat cuaca sedang cerah. Penulis tiba di simpangan jalan menuju Jembatan Situ Gunung pukul 14.28 WIB. jarak dari simpangan ini menuju lokasi jembatan sekitar 10 km lagi. 

Harga Tiket Masuk ke Jembatan Situ Gunung

new normal di tempat wisata situ gunung

Menurut Penulis pengelolaan tempat wisata ini sangat rapi serta turut mendukung penerapan protokol tempat wisata di masa pandemi. Tiap pengunjung diperiksa suhu, disediakan hand sanitizer di beberapa titik dan Banner himbauan untuk mematuhi protokol kesehatan yang terpajang di dekat pintu masuk.

Jembatan Situ Gunung termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) . Pengunjung akan menjumpai dua loket jika berkunjung ke sini. Loket pertama yaitu tiket masuk kawasan, setiap pengunjung dikenakan biaya Rp 18.500. Lalu yang kedua yaitu tiket masuk jembatan dengan tarif Rp 50.000, berbentuk gelang kertas yang sudah ada barcodenya.

welcome drink di situ gunung

Setelah membeli tiket masuk,  Penulis mengambil welcome drink berupa kopi hangat, sepotong rebusan ubi  dan pisang. Lalu membawanya ke tempat duduk di depan panggung Teater yang menampilkan pertunjukan musik khas Jawa Barat. 

Keindahan dan Lanskap Jembatan Situ Gunung

jalan kaki menuju jembatan situ gunung

Meski sudah menunjukkan pukul tiga sore, pengunjung masih ramai. Penulis bertanya kepada seorang petugas terkait jam tutup melewati jembatan, jawabannya adalah pukul enam sore. Masih cukup waktunya untuk bersantai.

Jarak panggung teater menuju ke lokasi jembatan tidak begitu jauh. Hanya sepuluh menit saja sudah sampai dengan berjalan kaki. Tiap pengunjung wajib menggunakan sabuk pengaman beserta karabiner, gunanya untuk antisipasi jika terjadi angin kencang atau guncangan ketika  melewati jembatan. 

jembatan gantung situ gunung sukabumi jawa barat

Alas papan jembatan terbuat dari kayu ulin Papua, yang terkenal kuat dan tahan dari perubahan suhu dan rayap. Jenis kayu yang juga digunakan pada anak tangga di Piaynemo Raja Ampat. Lanskap perbukitan dan pepohonan rimbun menjadi sasaran objek foto Penulis. 

Terlihat juga monyet-monyet yang bergelantungan di pohon, membuat dahan-dahannya bergerak. Tips berkunjung ke sini yaitu kalau mau datang disarankan pagi-pagi sekali atau menjelang kawasan wisata tutup. Supaya area foto clear dan tidak terlalu bocor.

Pertanyaan yang masih mengawang di pikiran Penulis adalah benarkah jembatan gantung ini merupakan yang terpanjang di Asia Tenggara? Karena di Lahat, Sumatera Selatan terdapat jembatan gantung yang membentang panjang di atas Sungai Lematang tepatnya di Desa Pagar Batu, Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat. Namun Penulis belum mengetahui pasti panjang jembatan gantung di Lahat tersebut.

 Keindahan Curug Sawer

warung di dekat curug sawer

Jembatan Situ Gunung fungsinya tidak hanya sebagai penghias wisata saja, melainkan berfungsi untuk menghubungkan akses menuju Curug Sawer. Tanda penunjuk arah menuju curug ini sangat jelas, jaraknya juga tidak terlalu jauh. Di pertengahan jalan menuju curug terdapat warung-warung yang berjejer beserta musola untuk salat. 

aliran sungai di curug sawer

Aliran sungai yang mengalir jernih menjadi penanda sebentar lagi tiba di lokasi curug. Pengunjung dapat menikmati keindahan Curug dari atas Jembatan. Buncahan air curug yang jatuh membuat percikan, terasa ke badan Penulis.

curug sawer situ gunung sukabumi

Pengunjung dilarang untuk mandi di sekitar pusaran jatuhnya air terjun, sudah ada tali pembatasnya.  Jika lelah setelah berjalan, Pengunjung dapat duduk di atas batu besar sambil meluruskan kaki atau mandi di aliran sungainya saja. Pukul lima sore, penulis pun kembali ke lokasi parkiran. Bagi sobat yang tidak membawa cash yang cukup, terdapat gerai ATM BRI di dekat lokasi parkiran.

Penginapan di Dekat Situ Gunung

Di Situ gunung juga terdapat camping ground, Sobat bisa membawa tenda dan mendirikannya setelah membayar retribusi. Penulis memilih untuk kembali ke Jakarta pada hari itu juga, ide yang nekat karena motoran pada malam hari. 

Di tengah perjalanan pulang, syukurlah hujan deras mengguyur sehingga membuat ide nekat itu urung. Hujan yang berlangsung lama dan awet membuat Penulis berpikir untuk mencari penginapan terdekat. Dapatlah Hotel Rafflesia, harga yang tertera di aplikasi cukup murah sekitar seratus ribuan. Namun setibanya di sana rupanya kamar sudah habis. 

Hujan pun masih berlangsung dengan deras, baju pun sudah basah kuyup. Karena tidak ingin menunggu terlalu lama akhirnya Penulis mengikuti saran receptionist hotel untuk mencoba bertanya ke hotel Augusta yang letaknya bersebelahan dengan Hotel Rafflesia

Rp 250.000 untuk kamar yang tersisa. Tanpa pikir panjang Penulis langsung deal, daripada kembali repot balik arah ke Kota. Hujan juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda.  Setibanya di kamar hotel, Penulis langsung mengganti pakaian kering yang terlindung di dalam tas (untung saja bawa cover bag).

Keesokan harinya pukul tujuh pagi, Penulis memanfaatkan fasilitas sarapan gratis di hotel. lalu kembali memacu motor menuju Jakarta. Sebetulnya masih ada satu destinasi wisata lagi yang berdekatan dengan jembatan gantung, yaitu Danau Situ Gunung. Akan tetapi Penulis tidak ke sana.

Kapok motoran dari Jakarta ke Sukabumi lagi :D.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
kawah putih ciwidey bandung jawa barat

Hari kedua di Bandung, setelah pada hari pertama hanya berkeliling sekitar pusat kota Bandung dan kawasan Dago (Ceritanya Bisa dibaca di link : Solo Traveling ke Bandung Part 1) .  Di hari kedua, Penulis mengeksplore kawasan Bandung Selatan atau Ciwidey. Beberapa tempat seperti Kawah Putih, Situ Patenggang, dan Ranca Upas masuk ke dalam daftar yang Penulis datangi.

Keberuntungan kembali memayungi, cuaca bersahabat dan tidak turun hujan di hari kedua ini. Penulis berangkat dari hotel sekitar pukul tujuh pagi. Jarak dari Hotel Bobobox Paskal menuju Kawah Putih sekitar 48 KM, dengan perkiraan waktu tempuh kurang lebih dua jam. 

Di awal perjalanan Penulis kadang berhenti untuk melihat Google Maps, terutama saat masih di sekitar Kota Bandung. Sempat salah arah saat berada kawasan Jalan Soekarno Hatta dan Jalan Raya Kopo wkwk. Namun setelah memasuki Daerah Soreang papan penunjuk jalan sudah jelas, tinggal ikuti saja arah Ciwidey. 

Sejuknya udara pegunungan tidak membuat tubuh cepat lelah, lanskap Hutan Pinus menjadi pemandangan di sepanjang jalan. Suasana jalan Soreang-Ciwidey cukup ramai oleh mobil dan motor wisatawan, jadi tidak perlu khawatir dibegal atau dihadang orang tiba-tiba wkwk.

parkiran di kawah putih

Penulis tiba di pintu masuk Kawah Putih pukul sembilan pagi, Penulis kaget rupanya motor tidak bisa masuk jauh ke dalam dan hanya bisa sampai di parkiran bawah. Perjalanan dilanjutkan dengan naik mobil angkot (Ontang Anting)  yang telah disediakan pengelola wisata. Sisi baiknya mungkin supaya ekosistemnya lebih terjaga ya, memang sepanjang jalan dari tempat parkiran menuju kawah jarang terlihat sampah di pinggir jalan.

harga tiket masuk kawah putih

Harga tiket lumayan mahal, untuk tiket masuk ke dalam Kawasan Kawah Putih biayanya Rp 27.000. Kalau mau naik ke skywalk cantigi dan dermaga disarankan membeli tiket terusan seharga Rp 38.000. Biaya Ontang Anting PP sebesar Rp 27.000. 

"kalau jalan kaki seberapa jauh ke atas teh?" Penulis bertanya ke penjaga loket. "Jauh Aa', kurang lebih lima kilo lagi" Jawabnya. Mending ngeluarin uang untuk naik Ontang Anting aja kalau begitu :D. 

Kawah Putih

keindahan kawah putih

Kawah Putih merupakan sebuah danau yang terbentuk karena erupsi Gunung Patuha yang dahsyat sekitar abad ke-10. Kawah Putih berada di ketinggian 2194 mdpl, di sekitarnya ditumbuhi pohon-pohon Cantigi yang tumbuh subur. 

Meski tidak berbahaya, Kawah Putih mengeluarkan bau belerang yang kadang terasa menyengat. Memakai masker tidak hanya melindungi kita dari virus tetapi juga mengurangi bau belerang yang terhirup. Pengunjung sedang ramai saat Penulis datang, oleh karena itu Penulis bergegas naik menuju Skywalk Cantigi yang lebih sepi. 

skywalk cantigi di kawah putih

Terdapat tangga kayu dan bambu yang disusun sebagai jalan menuju ke atas menara pandang. Skywalk ini dibangun mengikuti kontur tanah yang menanjak,  bahkan masih ada Pohon Cantigi yang dibiarkan tumbuh di sela-sela jalan.

kawah putih ciwidey

Pemandangan dari atas Skywalk Cantigi keren banget, lanskap kawah yang dikelilingi tebing-tebing perbukitan terlihat jelas. Pucuk daun-daun Cantigi yang berwarna merah menambah kesyahduan suasana. Menikmati sisi lain dari Kawah Putih dari Skywalk Cantigi mungkin bisa dijadikan referensi jika kalian datang ke sini. 

Karena masih banyak tempat yang ingin didatangi, Penulis pun beranjak turun kembali ke parkiran. Makan siang di warung dekat parkiran dan membeli buah Strawberry seharga Rp 10.000. Awalnya satu kotak berukuran sedang ditawarkan Rp 20.000, ujung-ujungnya dikasih Rp 10.000 saja. Kata pedagangnya "buat penglaris hari ini Aa'". 

Kebun Teh Ciwidey

kebun teh ciwidey

Niat hati ingin ke Ranca Upas malah kelewatan hingga memasuki jalan dengan pemandangan perkebunan teh PTPN di Ciwidey. Jalanan menurun dan berkelok dengan hamparan kebun teh yang menghijau mengingatkan Penulis dengan kebun teh di kaki Gunung Dempo Pagaralam. Ah sudah lama tidak ke sana lagi, terakhir 2015 yang lalu.

Penulis kembali melihat maps, rupanya titik lokasi Penulis sudah lumayan dekat dengan Situ Patenggang.  Akhirnya kepalang tanggung motor pun melaju ke Kawasan Situ Patenggang terlebih dahulu, Ranca upas terakhiran saja dikunjungi. Ini enaknya jalan sendirian, fleksibel dan bebas menentukan tujuan.

Situ Patenggang atau Patengan

situ patengan

Danau yang berada di ketinggian sekitar 1600 mdpl ini bisa dimasukkan ke dalam list jika kalian ke Ciwidey atau Bandung Selatan. Situ Patenggang diambil dari Bahasa Sunda, Situ artinya Danau dan Pateangan - teangan berarti saling mencari. 

Konon katanya ada mitos yang menceritakan kisah cinta Dewi Rengganis dan Ki Santang yang terpisah sangat lama. Mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di sebuah tempat yang saat ini diberi nama Batu Cinta.  Batu Cinta ini terletak di Pulau Asmara atau Pulau Sasaka, pulau kecil yang berada di Situ Patenggang.

Harga tiket masuk ke Situ Patenggang lumayan mahal yaitu Rp 28.000 jika membawa sepeda motor. Belum lagi saat diparkiran harus membayar penitipan helm dan parkir seharga Rp 10.000. Loh kenapa gak diletak di motor saja helmnya? kata penjaganya helm wajib dititipkan, entah apa alasannya Penulis hanya manut saja.  

situ patenggang

Pemandangan di Situ Patenggang keren, suasananya sejuk dan rindang karena terdapat pohon-pohon pinus yang rimbun. Penulis tidak menyeberang ke Pulau Asmara dan tidak mampir ke Pinisi Resto, hanya duduk-duduk saja di rerumputan sambil mengambil foto. 

Kampung Cai Ranca Upas

harga tiket masuk ranca upas

Biaya masuk ke Ranca Upas yaitu Rp 28.000 (termasuk sepeda motor), ditambah dengan biaya parkir dan tempat penitipan helm seharga Rp 7.500  Datang ke tempat ini disarankan saat pagi hari saja atau cobalah untuk berkemah di sini.

ranca upas ciwidey bandung

Penulis datang ke Ranca Upas saat sudah siang hari, sudah tidak terlalu bersemangat lagi untuk berkeliling. Di sini wisata unggulannya yaitu melihat penangkaran rusa dengan latar perbukitan. Pengunjung yang datang saat itu sedang ramai, kawanan rusa yang jinak menghampiri para pengunjung yang membawa wortel. 

Stadion Si Jalak Harupat Soreang

stadion si jalak harupat

Pukul dua siang, Penulis mengarahkan google maps menuju ke Kota Bandung. Tetapi saat berada di Soreang, terpampang papan penunjuk jalan yang bertuliskan Stadion Jalak Harupat ke arah kiri. Penulis pun mengikuti arah tersebut, dan benar saja lokasinya tidak terlalu jauh.

stadion si jalak harupat soreang bandung

Sebagai penggemar bola dan mengikuti informasi Liga Indonesia membuat penulis tertarik datang ke Stadion ini.  Markas tim Persib Bandung saat menjamu lawan-lawannya selain Stadion Gedebage. Stadion ini punya kenangan manis untuk tim kebanggan Sriwijaya FC, Lokasi final Liga Indonesia 2007/2008 yang mempertemukan Tim Sriwijaya FC dan PSMS Medan di laga puncak.

Saat itu Sriwijaya FC (SFC) unggul 3-1 lewat perpanjangan waktu, dimana gol dicetak oleh Obiora, Kayamba Gumbs, dan Zah rahan. Trio asing yang menjadi andalan di lini depan Laskar Wong Kito.  Kini kejayaan itu hanya kenangan, saat ini SFC terpuruk dan turun kasta ke Liga 2.

Tes Rapid Antigen di Stasiun Bandung

antrian rapid tes antigen di stasiun bandung

Penulis tiba di Kota Bandung pukul empat sore, lalu memacu motor menuju stasiun untuk rapid tes antigen (persiapan pulang besok). Saat tiba dapat antrian 250, sedangkan yang baru dipanggil antrian ke 207. Alhasil lama nunggunya sekitar satu jam dan syukurlah hasilnya negatif.

Kenapa tidak tes di klinik saja? alasannya rapid tes antigen di stasiun lebih murah yaitu Rp 105.000 saja. Kenapa tesnya gak besok saja? alasannya karena Penulis tidak mau repot datang awal-awal ke stasiun , mau istirahat di hotel saja sampai check out pukul 12.00 WIB.

Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang wisata kuliner di blog post ini, Penulis mencoba Iga Bakar Si Jangkung di kawasan Cipaganti sebelum kembali ke Jakarta. Rasanya enak banget sih, bisa dicoba kalau kalian datang ke Bandung.

Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar

alun alun kota bandung

Serba dadakan adalah gambaran awal tentang perjalanan kali ini. Tiket kereta api yang baru dipesan tiga hari sebelum keberangkatan dan Itinerary yang serba fleksibel. Kali ini Penulis tidak membuat Itinerary secara rapi, yang biasanya tersusun detail per jam mau ngapain aja kali ini hanya sebatas daftar nama tempat-tempat yang menjadi tujuan utama.

Kenapa mendadak? Rencana berpergian ke tempat yang lain batal, alasannya tidak bisa disebutkan di sini ya :D.  Lalu setelah dipikir ulang, sayang juga momen long weekend Imlek dilewatkan hanya di kamar kos. 

Terlintas di kepala untuk mencari tempat yang jaraknya dekat, aksesnya mudah, tidak perlu mengeluarkan banyak anggaran, dan banyak pemandangan alam yang indah. Terpilihlah Bandung, Kota yang tiga tahun lalu pernah Penulis kunjungi. Saat itu Penulis baru sempat berkunjung ke Kawasan Lembangnya saja, nah kali ini Penulis mencoba ke arah Selatan yaitu kawasan Ciwidey. 

Lalu siapa partner perjalanan kali ini? tidak ada, hanya sendirian alias solo traveling. Sesekali mau coba jalan sendirian lagi. Serunya berjalan sendirian adalah melalui banyak hal yang tidak terduga selama perjalanan, penulis belajar banyak hal, tidak bergantung dengan orang lain, dan merasakan kebebasan menentukan arah dan tujuan perjalanan.

Sebenarnya di Kota Bandung ada kenalan atau teman, tetapi Penulis sama sekali tidak mengabari mereka, takut merepotkan (meskipun mereka sangat senang jika dikabari, GeEr tingkat epic). 

Perjalanan Kereta Api Jakarta - Bandung

kereta api argo parahyangan

Jumat, 12 Februari 2021. Stasiun Gambir pukul enam pagi sudah ramai. Penulis mencetak boarding pass lalu beranjak menuju peron. Terlebih dahulu ada pengecekan surat hasil tes PCR, Rapid Antigen, atau Genose sebagai syarat berperjalanan menggunakan kereta.

Biaya yang dikeluarkan untuk tiket kereta yaitu Rp 85.000, Penulis membelinya tiga hari sebelum keberangkatan melalui aplikasi tiket dot com.  Nama keretanya adalah Argo Parahyangan, terjadwal berangkat pada pukul 06:50 WIB. Kursi yang Penulis duduki saat itu berada di barisan tempat duduk C,D. Beruntung saat memesan tiket masih ada yang di dekat jendela, selama perjalanan juga tidak ada yang duduk di sebelah Penulis. Infonya selama pandemi kapasitas penumpang dibatasi hanya 70% saja. 

pemandangan kereta api jakarta ke bandung

Kereta pun melaju, melesat cepat meninggalkan Stasiun Gambir. Pemandangan gedung-gedung bertingkat Ibu Kota, berganti menjadi suasana hijau pedesaan yang asri dan menyejukkan mata. Langit pun sedang cerah, pertanda baik untuk beberapa hari ke depan. 

stasiun bandung

Pukul sepuluh pagi, kereta tiba di Stasiun Bandung. Saat berjalan di lorong pintu kedatangan, ada dua arah yaitu pintu keluar utara dan selatan. Karena tujuan penulis adalah menuju kawasan alun-alun, Penulis memilih lewat pintu keluar selatan.

Jalan Kaki Menuju Alun-alun Kota Bandung

Untuk mempermudah mobilitas selama di Bandung, Penulis menyewa sepeda motor tetapi jam sewanya dimulai pada pukul tiga sore supaya dapat hitungan total sewa 1,5 hari. Nah untuk mengisi waktu, penulis terlebih dahulu jalan kaki santai menuju Alun-alun Bandung, Jalan Asia Afrika, dan Jalan Braga. Kalau dilihat di Google Maps sih jarak dari stasiun ke alun-alun hanya satu kilometer saja. Penulis sudah seperti orang nyasar saja, berjalan sambil merunduki peta wkwk.

alun alun kota bandung tutup

Alun-alun di Kota Bandung merupakan salah satu alun-alun yang terunik di Indonesia. Areanya dipasang rumput sintetis berwarna hijau dengan pola yang menarik. Setibanya di sana rupanya area alun-alun ditutup, berbeda dengan suasana beberapa tahun yang lalu yang ramai oleh pengunjung, kali ini nampak sepi. 

Penulis mengambil foto dari batas tanda dilarang masuk, di sekitar kawasan ada petugas Satpol PP yang sedang berjaga.  Masjid Raya yang berada persis disebelah alun-alun tetap buka untuk beribadah.

Jalan Asia Afrika dan Gedung Merdeka

jalan asia afrika bandung

 
gedung merdeka di bandung

museum konferensi asia afrika bandung

Di tengah teriknya matahari, Langkah kaki kembali melangkah menyusuri Jalan Asia Afrika. Melewati tugu bola dunia dan melewati quote novelis Pidi Baiq yang terpajang di pinggir jalan. Setelah itu Penulis tiba di depan Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia Afrika yang bersejarah.

Jalan Braga

jalan braga bandung

Rute terakhir berjalan kaki pada siang itu adalah menyusuri Jalan Braga. Di sini banyak dijumpai gedung-gedung dengan arsitektur lama. Lokasi ini juga banyak ditemui kedai kopi hingga cafe, salah satu kawasan nongkrong yang ramai di Bandung. 

Menginap di Bobobox Paskal

Setelah lumayan capek berjalan kaki, Penulis pun memesan ojek online dari Jalan Braga menuju Bobobox Pods Paskal, tempat penulis menginap selama di Bandung. Lokasinya berada di Jl Pasir Kaliki, tidak jauh dari Stasiun Bandung. 

bobobox hotel kapsul di paskal bandung

bobobox paskal di bandung

Hotel ini berkonsep kapsul, kamar yang disediakan terbagi menjadi dua tipe yaitu single bed dengan harga Rp 125.000 dan Queen Bed seharga Rp 145.000. Harga ini Penulis lihat melalui aplikasi Bobobox langsung, bisa di download di playstore.  Harga bersifat tentatif, kadang berubah tergantung musim libur panjang atau hari biasa.

Penulis sarankan kalau mau menginap di Bobobox untuk menginstall aplikasi terlebih dahulu, karena ketika check in  akan ditanya sudah download aplikasinya atau belum. Untuk masuk ke kamar pengunjung akan mendapatkan QR Code yang ada di aplikasi, gunanya adalah sebagai akses keluar masuk kamar (berbeda dengan kamar hotel lain yang biasanya menggunakan kartu atau kunci). 

Di hotel kapsul ini terdapat share bathroom yang menyediakan air hangat untuk mandi. Setelah meletakkan ransel, Penulis pun bergegas mandi dan berganti pakaian. Lalu tepat jam tiga sore staf sewa motor datang untuk memberikan motor sewaan. 

Penulis menyewa motor di Sewa Motor Juara (dapat dihubungi melalui nomor 0895-1537-0285 dan instagram sewamotorbandungjuara). Respon dari mereka sangat cepat saat membalas pesan whatsapp, kualitas motor yang disewakan masih tergolong baru dan oke. 

Harga yang penulis keluarkan saat menyewa adalah Rp 165.000 selama 1,5 hari untuk tipe motor Beat, sudah termasuk biaya pengantaran dan pengembalian unit di hotel Bobobox serta terdapat sepasang jas hujan dan helm. 

Sore Hari dan Lanskap Hutan Pinus di Dago

hutan pinus dago

Setelah mendapatkan motor sewa, Penulis langsung gaspol menuju Tebing Keraton di kawasan Dago. Suasana sejuk terasa, lanskap deretan Hutan Pinus sepanjang mata memandang. Ada banyak kedai kopi yang berada di pinggir jalan, berada di bawah rimbunnya hutan pinus. 

Namun sayangnya Tempat wisata Tebing Keraton sedang tutup saat itu. Penulis pun berbalik arah, singgah ke kedai kopi yang berada di pinggir jalan. Meja lain ramai oleh rombongan muda-mudi yang sedang mengobrol dan tertawa, sedangkan Penulis sendirian saja hahaha.

Gedung Sate

gedung sate bandung

Selepas waktu menikmati sore hari di Dago, Penulis menuju Gedung Sate. Keperluan hanya untuk foto di depan gedung saja karena gedungnya sudah tutup. Kepalang sudah dua kali ke Bandung tetapi belum pernah melihat Gedung Sate.

Penulis tiba di hotel sekitar pukul tujuh malam, Penulis sama sekali tidak tertarik keluar pada malam harinya, memilih untuk tetap di hotel saja dan menamatkan buku Selasa Bersama Morrie karangan Mitch Albom. Keesokan harinya merupakan bagian terseru dalam perjalanan ini yaitu motoran menuju Kawasan Ciwidey. Bersambung ke : Motoran Sendirian ke Ciwidey



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Penumpang Kereta Api antar kota/ jarak jauh wajib menunjukkan surat hasil tes negatif RT-PCR/Rapid Antigen/GeNose sebagai syarat berperjalanan. Untuk biaya tes GeNose sendiri lebih murah dibandingkan dengan biaya tes lainnya, yaitu hanya Rp 20.000 saja. Tes Genose sendiri merupakan alat tes dengan sampel hembusan nafas, dibuat oleh tim Universitas Gajah Mada.
 
Penulis pun tertarik mencobanya dan setelah browsing rupanya tes GeNose baru bisa dilakukan di dua tempat saja, yaitu Stasiun Pasar Senen di Jakarta dan Stasiun Yogyakarta. Bagi sobat yang ingin berpergian dengan KA Jarak Jauh, disarankan melakukan tes Genose satu hari sebelum keberangkatan guna menghindari antrian tes yang panjang saat hari keberangkatan. Selain itu yang perlu diperhatikan adalah masa berlaku hasil tes adalah 1x24 jam sebelum keberangkatan karena musim libur panjang.
stasiun pasar senen jakarta

Tampilan depan Stasiun Pasar Senen sudah banyak berubah setelah selesai direvitalisasi pada pertengahan tahun 2020. Plaza Pedestariannya nampak lebih rapi, Monumen Tekad Merdeka berdiri di bagian sentral. Tidak sulit untuk menemukan titik lokasi tes GeNose, tinggal berjalan masuk ke area stasiun dan akan terlihat suasana ramai calon penumpang yang ingin melakukan tes. 

cara tes genose di stasiun pasar senen

Syarat untuk melakukan tes Genose adalah menunjukkan kode booking atau tiket yang telah dibeli dan kartu identitas. Lalu disarankan 30 menit sebelum tes jangan merokok, makan, dan minum (kecuali air putih). Setelah selesai melakukan pembayaran sebesar Rp 20.000, penulis diberikan sebuah kantong udara yang telah ditempelkan nama dan kode booking sebagai wadah sampel. 

"Ikuti petunjuk saya ya. Pertama katup kantongnya dibuka dulu. setelah itu lakukan tiga kali Tarik nafas, hembuskan pakai mulut. Nah dihembusan ketiga masukkan ke dalam kantong sampai penuh. Kalau sudah selesai tutup lagi katupnya." Ujar petugas sambil memperagakan tata caranya. Terdapat juga beberapa layar yang berisikan video tutorial menggunakannya. 

tes genose di stasiun pasar senen

Kantong yang sudah penuh diletakkan ke dalam box yang telah disediakan. Langkah selanjutnya adalah menunggu hasil tes, kurang lebih 15 menit sudah keluar hasilnya tergantung banyaknya antrian. Nantinya nama kita akan dipanggil satu persatu.

Alhamdulillah hasil tes Penulis negatif. Selembar kertas hasil pemeriksaan tes GeNose berisikan nama, kode booking, tanggal pemeriksaan, lokasi pemeriksaan, dan hasil pemeriksaan. Di Stasiun Pasar Senen juga menyediakan tes Rapid Antigen, harganya Rp 105.000. Selamat mencoba :).

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Buku Menulis Cerita Perjalanan

Buku Menulis Cerita Perjalanan
Pada tahun 2023, buku pertama saya berjudul Menulis Cerita Perjalanan resmi diterbitkan oleh Penerbit Jejak. Melalui buku ini saya menceritakan perjalanan selama berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Saya ingin perjalanan-perjalanan tersebut, tidak menguap begitu saja tidak ada bekas dan jejaknya. Jika para pembaca tertarik membacanya dapat klik gambar buku atau melalui link berikut : Shopee : https://id.shp.ee/hXGJwGT dan Toko Buku Jejak : https://tokobukujejak.com/detail/menulis-cerita-perjalanan-FCONM.html

Popular Posts

  • Solo Traveling ke Lahat Dengan Kereta Api
  • Perjalanan ke Banda Neira Dengan Pesawat Sam Air
  • Kolam Renang Bojana Tirta, Murah dan Nyaman
  • Naik Motor ke Pik 2, Memang Bisa?
  • Walking Tour Muntok, Hunting Foto Bangunan Tua di Bangka Barat

Tentang Penulis

Halo para pembaca, penulis adalah seorang pemuda kelahiran tahun ’97. isi blog ini seputar cerita dan catatan penulis ketika berkunjung di beberapa provinsi di Indonesia, tujuan membuat blog ini supaya dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama yang mempunyai hobi traveling. penulis dapat dihubungi dengan berkirim email ke dodonulis1@gmail.com

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

recent posts

    Pages

    • Privacy Policy
    • About Me
    • Disclaimer
    • Contact

    BloggerHub

    BloggerHub Indonesia

    Created with by ThemeXpose