• Home
  • Sumatera
    • Aceh
    • Sumatera Utara
    • Sumatera Barat
    • Riau dan Kepri
    • Sumatera Selatan
    • Jambi
    • Bengkulu
    • Bangka Belitung
    • Lampung
  • Jawa
    • DKI Jakarta
    • Banten
    • Jawa Barat
    • Yogyakarta
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
  • Kalimantan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
    • Kalimantan Utara
    • Kalimantan Timur
  • Sulawesi
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Bali NTB NTT
    • Bali
    • Lombok
    • Sumba
    • Flores
  • Maluku dan Papua
    • Maluku
    • Papua
instagram Email

dodonulis

blog catatan perjalanan

museum fatahillah museum sejarah jakarta

Sebelum membahas museum Fatahillah atau museum sejarah Jakarta di Kawasan Kota Tua, Penulis akan mengawali tulisan ini dengan pertanyaan, dari sekian banyak Gubernur Jenderal Hindia Belanda ada berapa yang kalian ingat namanya dari belajar sejarah semasa sekolah dulu? honestly Penulis hanya teringat sedikit nama saja, seperti Piter Both Gubernur Jenderal yang pertama. Lalu ada J.P. Coen yang memindahkan markas VOC dari Banten ke Jayakarta. Pada masa Coen jugalah nama Jayakarta diganti menjadi Batavia.

Nama selanjutnya yang Penulis ingat adalah Daendels,  yang lekat dengan kerja rodi atas pembangunan Jalan Anyer-Panurukan (sekarang Jalur Pantura).  Nama berikutnya Van den Bosch yang terkenal dengan sistem Tanam Paksanya atau Cultuurstelsel.  Siapa lagi ya?, oh ya ada Thomas Raffles saat Inggris berkuasa dan Van Der Wijk. Nama terakhir ingat karena ada filmnya , hahaha.

Kalau dihitung-hitung hanya lima saja dari sekian banyak Gubernur Jenderal yang sempat menjabat, maklum pengetahuan sejarah masih minim. Itupun mungkin ada yang salah , correct me if i wrong. Penulis tidak akan membahas sejarah para Gubernur Jenderal itu, melainkan akan membahas salah satu bangunan yang paling menarik perhatian di Kawasan Kota Tua yaitu Museum Fatahillah.

Pintu Masuk Kawasan Kota Tua

stasiun jakarta kota

Jakarta sedang terik-teriknya saat itu, langit biru dihiasi awan bergumpal bak kapas putih. Gerbong KRL tampak lengang, sepi penumpang. Penulis bisa duduk sambil berselonjor kaki selama perjalanan dari stasiun Manggarai hingga tiba di Stasiun Jakarta Kota. Penulis lantas keluar melalui pintu utara, lalu berjalan kaki menuju Kawasan Kota Tua. Rupanya hanya ada dua pintu masuk yang dibuka, sempat membuat penulis kebingungan masuknya lewat pintu mana. 

pintu masuk kawasan kota tua

Salah satu pintu yang dibuka berada di dekat museum Bank indonesia. Pengunjung diminta untuk melakukan scan barcode pada aplikasi peduli lindungi terlebih dahulu, sama seperti ketika masuk mall ataupun transportasi publik. Saat itu pengunjung tidak terlalu ramai meski hari libur akhir pekan, mungkin saja banyak yang belum tau kalau Kota Tua sudah buka kembali sejak akhir Oktober 2021. 

museum fatahillah kawasan kota tua

Penulis berkeliling sebentar mencari sudut dan komposisi terbaik untuk memotret. Belum terlalu ramai memang, dekat pintu masuk terdapat manusia patung dan ahli ramal garis tangan yang ramah menyapa pengunjung. Para pengamen yang dulu sering berkeliaran di kawasan Museum Fatahillah kini tidak nampak satupun, pun dengan pedagang kopi bersepeda juga belum terlihat.

Sejarah Singkat Museum Fatahillah

sejarah balai kota batavia

Museum ini dulunya bernama Balai Kota Batavia atau Stadehuis van Batavia, dibangun pada tahun 1707 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Hoorn dan diresmikan pada tahun 1710 pada masa Gubernur Jenderal Abraham Van Riebeck. Hal ini diterangkan melalui sebuah tulisan yang terukir dalam Bahasa Belanda, berada di dekat pintu masuk museum. Bangunan bercat putih ini resmi menjadi museum pada tahun 1974 pada masa Gubernur Ali Sadikin.

Do's and Don'ts saat berkunjung ke Museum Fatahillah

pintu masuk museum fatahillah

"Mas, mohon maaf kameranya tolong disimpan ke dalam tas ya karena gak boleh" saya heran ketika ditegur oleh petugas di dekat pintu masuk. Lalu saya memperhatikan kembali sebuah pamflet yang berisi tata tertib museum Sejarah Jakarta. Memang terdapat larangan menggunakan flash saat mengambil foto, apakah ini diartikan sebagai tanda larangan untuk menggunakan kamera DSLR atau Mirrorless?. 

Baiklah saya pun menuruti perintah petugas, mungkin ada alasan lain yang melarang menggunakan kamera. Toh penggunaan kamera hp masih diperbolehkan. Adapun tiket masuk ke museum sebesar Rp 5.000, namun kita harus menggunakan kartu Bank DKI. Bagi yang belum punya dapat membeli di tempat dengan biaya Rp 20.000, sisa saldonya dapat digunakan untuk masuk ke museum lainnya di Jakarta. Pada hari itu Penulis juga berkunjung ke Museum Wayang, hanya berniat memfoto taman papan nama J.P Coen saja. 

Ada Apa Saja di Museum Fatahillah?

patung hermes di museum fatahillah

Jika sobat perhatikan, terdapat sebuah patung di dekat pintu masuk museum. Patung tersebut menggambarkan sosok Hermes, dalam mitologi Yunani Hermes adalah anak dari Dewa Zeus. Di bawah patung terdapat penjelasan mengenai makna dan sejarah patung tersebut yang dulunya berada di kawasan Harmoni.

lukisan di museum fatahillah
Karya Seni di Museum Fatahillah

Museum Fatahillah banyak sekali ruangannya, tiap-tiap ruangan bagai melewati lorong waktu sejarah. Terdapat lukisan yang menggambarkan masa pra sejarah, lalu ada replika prasasti kerajaan, foto-foto pendudukan VOC, hingga sejarah balai kota batavia hingga menjadi museum. Semuanya telah dikemas menarik dengan tulisan-tulisan yang ditempelkan di dinding-dinding ruangan. Di museum ini terdapat ruang Diponegoro yang dulunya memang sempat dihuni oleh beliau saat ditahan. Terdapat juga penjara bawah tanah yang terlihat gelap dan terkesan menyeramkan. 

*Jika terdapat kekeliruan dalam informasi dan sejarah silahkan dimasukan koreksinya di kolom komentar, terima kasih :)


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
taman suropati menteng jakarta

Penulis akan membahas Taman Suropati yang beberapa hari lalu didatangi, Penulis merekomendasikan taman ini kepada kalian yang ingin berakhir pekan di ruang terbuka hijau. Saat masih rutin bersepeda dulu taman ini sering Penulis lewati. Penulis mengambil rute dari Bundaran HI kemudian masuk ke Jalan Imam Bonjol, lalu bertemu dengan Jalan Diponegoro. Terdapat Jalur sepeda khusus berwarna hijau, suasana sepanjang jalan rindang dengan pepohonan besar yang tumbuh di tengah trotoar. 

gereja bpib paulus di menteng jakarta

Lurus terus saja sampai bertemu dengan Patung Diponegoro yang sedang menunggangi kuda. Sekeliling patung dipenuhi tanaman hias bermacam warna. Tidak jauh mata memandang terdapat Gereja GPIB Paulus yang berwarna putih. Gereja ini dibangun pada tahun 1936, saat Taman Suropati masih bernama Bugremeester Bisschopplein.

Menurut buku yang Penulis baca "212 Asal Usul Jakarta Tempo Dulu", Bugremeester Bisschopplein adalah nama awal Taman Suropati pada masa pendudukan Belanda. Diambil dari nama walikota (Bugremeester) Batavia yang bernama G.J. Bisschopp (1916-1920). Sementara Plein merupakan bahasa Belanda yang artinya alun-alun/lapangan. 

Kawasan lain di Jakarta yang berakhiran plein pada masa itu adalah Waterlooplein. Mungkin sebagian dari sobat pernah mendengar Waterlooplein yang telah berganti nama menjadi kawasan Lapangan Banteng. Adapun ruang terbuka hijau di kawasan Lapangan Banteng pernah penulis ulas pada postingan Taman Lapangan Banteng yang didalamnya terdapat Tugu Pembebasan Irian Barat.

Kembali ke topik awal mengenai Taman Suropati. Ada beberapa hal yang menarik jika membicarakan taman ini, berikut ulasannya.

1. Jam Buka dan Tutup Taman

Di masa PPKM ini, aturan jam kunjungan taman-taman di Ibu Kota berubah. Mulai dibuka untuk umum pada pukul 07.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB, yang penting diketahui bagi pengunjung adalah terdapat sterilisasi area taman dari pukul 12.00 WIB - 13.00 WIB. Pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke area taman karena akan disemprot disinfektan. Siap-siap saja diusir oleh petugas jika masih berada di dalam taman pada jam tersebut.

2. Patung Diponegoro 

patung diponegoro di depan taman suropati

Patung Diponegoro yang sedang menunggangi kuda berada persis di depan Taman Suropati. Letaknya membelah kedua sisi Jalan Dipenogoro. Sekeliling patung nampak indah dengan tanaman hias beragam rupa dan warna. Patung ini diresmikan pada Desember 2005 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Bapak Sutiyoso.

3. Libur Akhir Pekan di Taman

denah area taman suropati
Denah Taman Suropati

Pepohonan yang rindang membuat suasana teduh terasa di taman ini, apalagi tatkala angin sepoi menyapu wajah. Setelah dibuka kembali pada 26 Oktober yang lalu, taman ini kembali ramai kedatangan pengunjung, makin ramai lagi ketika akhir pekan tiba. 

not balok di taman suropati

Fasilitas taman kian lengkap dengan adanya kursi semi permanen yang dipasang di beberapa tempat. Sisi keunikan dari taman ini terdapat sebuah spot lingkaran yang bergambar not balok berwarna keemasan, mungkin saja sebagai penanda bahwa taman ini sebagai sarana menyalurkan kreatifitas.

Keberadaan kolam hias menambah keindahan taman, terlihat juga kerumunan burung merpati yang mondar-mandir mengais makanan. Burung-burung ini dibuatkan sangkar tepat di tengah-tengah taman. Keliling taman bisa dijadikan trek berlari pagi maupun sore. 

 Bawalah perbekalan yang cukup seperti cemilan atau minuman, karena saat datang beberapa hari yang lalu pedagang masih sepi. Saat mencari penjual air mineral susah, yang ada hanyalah es teh manis, kopi, dan minuman berasa lain.

4. Monumen Pemahat dari Negara-negara ASEAN

monumen patung di taman suropati

Sisi menarik Taman Suropati adalah keberadaan enam monumen yang merupakan karya dari enam pemahat dari negara di ASEAN. Keenam Monumen tersebut selain bentuknya yang artistik, juga mempunyai arti dan makna yang berbeda pula. Ada yang melambangkan persaudaraan, keharmonisan, semangat, dan lain-lain.

5. Bookhive Jakarta

lemari perpustakaan bookhive jakarta

Perpustakaan mini bernama "Bookhive Jakarta" hadir di beberapa taman Ibu Kota sejak diresmikan bertepatan dengan hari buku sedunia pada 23 April 2021 yang lalu. Moto perpustakaan ini adalah "ambil seperlunya sumbang semampunya" yang dapat diartikan pengunjung dapat meminjam buku yang ada di dalam lemari tersebut. Selain itu bisa juga berkontribusi menyumbang buku secara sukarela. Beberapa macam genre buku terdapat di lemari buku sederhana ini, baik fiksi maupun non fiksi.

6. Berada di Dekat Masjid Agung Sunda Kelapa

masjid agung sunda kelapa
Masjid Agung Sunda Kelapa

Taman Suropati berhadapan dengan Gedung Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)  yang bercat putih. Nah , di belakang Gedung Bappenas ini terdapat Masjid Agung Sunda Kelapa yang telah dibangun pada tahun 1960-an.  Menyambung mengenai jam buka tutup taman tadi, sobat bisa Sholat Dzuhur di masjid ini saat jam sterilisasi taman. Selain itu di luar masjid terdapat kantin/warung makan, setelah selesai Ishoma bisa masuk lagi ke taman jam 13.00 WIB. 

Sekian ulasan Penulis mengenai Taman Suropati, kemungkinan beberapa postingan selanjutnya akan membahas taman lain di Ibu Kota. Penulis semangat membahasnya seiring dengan keseriusan dinas terkait dalam mengelola taman di Ibu Kota, dibuktikan dengan taman-taman yang kian bersih, terawat dan nyaman bagi pengunjung. Salam :)

 

Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
taman situ lembang menteng jakarta pusat
Taman Situ Lembang

Mobil-mobil terlihat mengantri, kemacetan panjang di Jalan Raya Puncak Bogor terlihat dari beberapa postingan foto. Lengkap dengan caption yang menyebutkan "Pantauan lalin arah Puncak pada sabtu pagi". Bagi warga Ibu Kota keberadaan akun instagram @jktinfo sangat bermanfaat untuk memberikan informasi aktual tentang Jakarta setiap harinya. Dari akun ini Penulis sadar semakin kuatnya Citizen Journalism dalam perkembangan teknologi. 

Pantauan lalin arah Puncak rasa-rasanya selalu ada setiap Sabtu atau Minggu, di mana pada akhir pekan kecenderungan warga Ibu Kota yang membutuhkan asupan hiburan setelah Senin s.d. Jumat berkutat dengan pekerjaan. Kawasan Puncak menjadi destinasi populer, alasannya suhu yang sejuk alami (bukan AC) dan pemandangan kebun teh yang menghampar luas. Sah-sah saja bagi yang ingin ke Kawasan Puncak, toh tempat wisata sudah diperbolehkan buka. Warung-warung di sepanjang jalan turut merasakan imbas baiknya, dagangan kembali laku.

Bagi yang tidak mau merasakan macet tapi ingin piknik, berkunjung ke taman-taman yang ada di Ibu Kota mungkin bisa dijadikan opsi mengisi libur akhir pekan. Memang hawanya tidak sesejuk di Puncak, tetapi nuansa "hijau"nya sama. Penulis perhatikan kegiatan piknik di taman kian populer selama masa pandemi. Beberapa "teman" Penulis di instagram pernah terlihat membuat insta story sedang berada di taman, menggelar tikar dan membawa keranjang berisi makanan.  

Ada banyak sekali taman-taman di Ibu Kota, tetapi menurut yang penulis baca di berbagai media elektronik keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta masih di bawah target yang diamanatkan dalam aturan penataan ruang. Tetapi Penulis memberikan apresiasi kepada Pemda dan pihak yang membuat taman semakin indah dan nyaman. 

taman hutan kota gelora bung karno

Taman yang saat ini ramai di sosial media yaitu Taman Hutan Kota di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Pemandangan pepohonan hijau yang kontras dengan gedung-gedung perkantoran menjadi view yang menarik untuk difoto. Area rerumputan yang cukup luas bisa dijadikan tempat untuk menggelar tikar, Pengunjung bisa membawa perbekalan cemilan untuk menemani diskusi atau obrolan ringan bersama teman satu circle-nya.  Meski bernama awalan "Hutan" namun pepohonan di sekitar taman belum tumbuh besar. Jadi disarankan datang sebelum jam sepuluh pagi atau setelah jam tiga sore, saat matahari tidak terlalu terik. 

taman situlembang jakarta
 

Taman favorit Penulis adalah Taman Situ Lembang yang berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Keberadaan danau buatan di tengah taman menjadi pembeda dengan taman-taman lain di Ibu Kota. Penamaan Situ Lembang dikarenakan taman ini berada di Jalan Lembang, lokasinya berada di dekat Taman Suropati. Apakah ada hubungannya dengan daerah Lembang di Jawa Barat? entahlah, tetapi jika diperhatikan nama-nama jalan di Menteng memang banyak yang menggunakan nama daerah. Sebut saja Jalan Purwarkata, Jalan Subang, Jalan Banyuwangi, dll. Berasa keliling Indonesia deh kalau motoran keliling Menteng.

Selama masa pandemi taman ini ditutup untuk pengunjung, sempat dibuka lagi pada bulan April yang lalu. Tak berlangsung lama, merebaknya varian Delta Covid-19 membuat taman ini kembali ditutup berbulan-bulan lamanya. Pada tanggal 23 Oktober 2021, taman ini kembali dibuka bersamaan dengan taman-taman lain di Ibu Kota. 

Untuk masuk ke area taman tidak dipungut biaya sama sekali, siapkan saja uang untuk membeli minuman atau makanan yang dijual di pinggir jalan. Dulu ada penjual ketoprak dan bubur ayam, tetapi saat Penulis datang kemarin sudah tidak ada lagi. Mungkin saja pindah lapak karena tutupnya taman selama ini. Seiring dengan dibukanya taman dan banyaknya pengunjung yang datang, rasa-rasanya pedagang akan  ramai berjualan di sini lagi.

Jam buka taman yaitu setiap hari, pada pukul tujuh pagi sampai lima sore. Untuk transportasi umum taman ini tidak dilewati oleh mikrolet, Taman Suropati yang berada di pinggir jalan besar saja tidak dilalui TransJakarta. Penulis sarankan bawa motor saja, supaya mudah diparkirkan di pinggir jalan karena memang tidak ada area parkir khusus di dekat taman.

Taman kecil ini suasananya asri dan sangat bersih, terlihat petugas kebersihan yang rutin membersihkan area taman. Keberadaan Bebek dan Angsa yang bebas berkeliaran di area taman merupakan pemandangan yang jarang ditemukan Ibu Kota. Pohon-pohon di sekitar taman membuat udara menjadi sejuk, salah satu jenis pohonnya adalah Tabebuya dengan bunga berwarna kuning.

trek jogging di taman situ lembang
trek jogging di taman

Taman Situ Lembang memang tidak luas, terlebih sebagian besar merupakan area danau. Terdapat trek lari yang mengelilingi danau, terdapat juga area bermain anak, dan kursi permanen yang dipasang di banyak tempat. Penulis tidak menemukan tanda larangan menginjak rumput, jadi sepertinya area rerumputan bisa dijadikan tempat untuk menggelar tikar. 

angsa angsa di taman situ lembang
Angsa-angsa di Taman Situ Lembang

Air danau yang berwarna hijau terlihat bersih dari sampah, adanya bunga teratai yang sedang mekar membuat danau terlihat semakin indah.  Datanglah pada pagi hari untuk melihat Angsa-angsa putih yang sedang berenang di danau, pada sekitar jam 10-11 kawanan Angsa tersebut naik ke darat dan berteduh di bawah pohon. 

bookhive jakarta di taman
Bookhive Jakarta di Taman Suropati

Terdapat Perpustakaan mini yang berada di seberang taman Situ Lembang. Namanya adalah "Bookhive Jakarta". Perpustakaan ini diresmikan bertepatan dengan hari buku sedunia yaitu tanggal 23 April 2021. Ada beragam buku yang disediakan di dalam rak buku mini, seperti novel, buku anak, puisi, dan buku non fiksi. "Ambil seperlunya sumbang semampunya" artinya Pengunjung dapat bebas meminjam buku secara gratis ataupun bisa mendukung program ini dengan menyumbang buku secara sukarela.

Perpustakaan mini Bookhive Jakarta kini telah hadir di berbagai taman-taman lain di Ibu Kota. Seperti di Taman Suropati ini salah satunya (Penulis lupa memfoto bookhive yang ada di Taman Situ Lembang). Ide ini sangat menginspirasi dan sangat berdampak besar terhadap gema semangat literasi. Semoga terus berkembang dan dapat hadir di kota lain di Indonesia.

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
buku hujan bulan juni sapardi

Memasukkan buku ke dalam ransel ketika traveling adalah hal yang wajib bagi Penulis. Alasannya selama berperjalanan jauh pasti menemui banyak waktu luang yang kadang membuat bingung hendak melakukan apa. Misalnya saat menunggu waktu boarding yang lama, jika terjadi delay karena faktor cuaca, mesin pesawat yang bermasalah, atau mungkin kendala operasional yang membuat kening mengkerut. Di saat momen menunggu seperti itu, rasa-rasanya sayang saja jika hanya memainkan gawai.

Di dalam pesawat, buku menjadi hiburan jika tidak ada teman bicara. Jarang sekali Penulis mengobrol dengan penumpang yang duduk di samping penulis. Hanya memperhatikan wajahnya sekilas, yang penting menunjukkan gestur senyum ketika sedang bertatap muka. Padahal mungkin saja tanpa disadari penumpang di samping merupakan author buku yang sedang dibaca, meski peluangnya sangat kecil.

Ada kalanya buku yang tersimpan di dalam tas tidak dibaca sama sekali, ini sering terjadi ketika berangkat berombongan. Tentu kita akan menjadi perhatian ketika semua asik berbaur dan mengobrol satu sama lain sementara kita asik sendiri membaca. 

Saat traveling ke Baduy Dalam pada juni yang lalu, penulis sudah memasukkan buku Filosofi Teras ke dalam tas ransel. Namun sama sekali tidak dibaca. Selama perjalanan kereta dari Tanah Abang ke Rangkasbitung Penulis justru tertidur (semalamnya tidur larut malam), kebetulan saat itu penumpang sedang sepi. Mana sempat membaca buku setelah itu,  treking berjam-jam pada siang hari lalu pada malam harinya kampung Baduy gelap gulita tanpa listrik. Jadilah buku itu hanya menjadi pemberat tas, meskipun tidak berat-berat amat sih, treknya saja yang berat naik turun bukit.

Sang Alkemis, Paulo Coelho

Adapun buku terakhir yang Penulis baca ketika traveling adalah Sang Alkemis yang ditulis oleh Paulo Coelho. Bisa dikatakan buku ini wajib masuk ke list rekomendasi jika kalian hobi traveling. Penulis tidak punya buku fisiknya, melainkan membaca dengan cara meminjam buku digital/e-book di i-pusnas. Sobat pembaca masih asing dengan i-pusnas?

iPusnas merupakan aplikasi perpustakan digital yang menyediakan ribuan koleksi e-book secara gratis. Kita hanya perlu mendaftar saja, memasukan e-mail dan mengisi data diri. Selanjutnya tinggal cari buku yang kita inginkan, e-book ini tidak bisa kita download dan simpan di dalam memori handphone. Jadi kita hanya bisa membaca melalui aplikasinya saja guna menghindari pembajakan. Screenshoot tampilan isi buku tidak bisa, sepertinya aplikasi ini dirancang dengan keamanan khusus.

Masa peminjaman bukunya selama seminggu, jadi setelah lewat tenggang waktunya maka e-booknya secara otomatis hilang dari daftar buku yang kita pinjam. Terus kalau belum selesai baca gimana? ya tinggal pinjam ulang :) Sama seperti perpustakaan fisik pada umumnya, buku-buku di i-pusnas juga terbatas jumlahnya. Kadang untuk buku yang populer sering habis dipinjam dan harus mengantri untuk membacanya. 

Eh, lagi-lagi bahasannya melebar dari topik utama, moga-moga info mengenasi i-pusnas bermanfaat ya :).

Selama Road trip Makassar-Palu, Penulis menamatkan membaca Buku Sang Alkemis. Membuat perjalanan Penulis tidak membosankan meski traveling sendirian. Belasan jam di bis Penulis lebih banyak tertidur, namun diselipi dengan membaca cerita seru tentang anak gembala bernama Santiago yang berasal dari Spanyol dan hendak menuju Mesir. 

Selama perjalanan Santiago selalu menemui "pertanda" yang seolah menuntunya untuk terus melangkah maju, meski tempat-tempat yang ia singgahi membuatnya ingin menetap dan beberapa kali mendapatkan masalah-masalah hebat. Ada banyak pesan dan nasihat kehidupan yang dapat diambil dari perjalanan Santiago. 

Tak bisa dipungkiri, ada buku yang ketika kita buka sampulnya dan mulai membaca lembar per lembar namun tidak sampai di halaman terakhir. Alasannya mungkin karena tidak sanggup karena bahasannya "berat", bisa jadi karena sudah tidak mood lagi untuk membacanya. Untuk buku Sang Akemis ini membuat Penulis penasaran mengenai apa yang akan dijumpai oleh Santiago di tempat persinggahan selanjutnya. Penulis memberikan rating bintang lima di goodreads untuk buku ini, sangat direkomendasikan untuk menemani selama traveling.

Selasa Bersama Morrie, Mitch Albom

Beberapa buku karya Mitch Albom telah Penulis baca, salah satu Penulis yang diidolakan. Selasa Bersama Morrie adalah favorit Penulis selain Meniti Bianglala, Sang Penjaga Waktu, dan Satu Hari Bersamamu. Buku-bukunya tidak terlalu tebal, kisaran 200 an halaman.

Dari buku Selasa Bersama Morrie, Penulis banyak mendapatkan pesan sederhana yang kadang luput dalam renungan. Memahami perspektif esensi menjalani kehidupan, karena suatu saat akan bertemu dengan takdir yang tak terelak. Hidup bukanlah hanya menyoal materi semata, tidak sebatas bergegas menuju pencapaian.

Penulis menyelesaikan membaca buku Selasa Bersama Morrie selama perjalanan sendirian ke Bandung pada Maret yang lalu. Mencicil halaman per halaman di kereta, di penginapan, dan saat berhenti makan siang. Bintang lima di goodreads untuk buku ini, masuk dalam rekomendasi untuk dibaca saat sengang.

Saat membaca sebuah buku khusunya non fiksi, kadang kita membayangkan bentuk visual cerita yang sedang kita baca. Latar tempat salah satu yang menarik perhatian, membuat pembacanya ingin datang langsung ke lokasi yang diceritakan. Bisa juga melihat secara virtual melalui google maps, apalagi saat ini sudah sangat canggih bisa melalui google street view.

Penulis teringat dengan novel Partikel karya Dee Lestari yang salah satu setting tempatnya ada di Taman Nasional Tanjung Puting. Dee secara detail menceritakan tentang aktivitas keseharian di sana, Penulis kagum dengan cara Beliau mendeskripsikan keindahan alam Tanjung Puting melalui rangkaian kalimat yang menarik.

Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah juga novel yang sangat khas dan lekat dengan latar tempat cerita. Menceritakan kehidupan seorang pengemudi sepit di Sungai Kapuas bernama Borno. Hampir keseluruhan isi buku bersetting tempat di tepi Sungai Kapuas, jadi kalau ingat judul buku ini pasti langsung teringat dengan Sungai Kapuas dan sepit di Pontianak, selain Borno dan Mei yang merupakan tokoh utama tentunya. 

Membawa buku sangat bermanfaat selama berperjalanan jauh. Menghilangkan bosan selama berjam-jam di bis, meredakan sebal karena menunggu lama, dan supaya tidak merasa kesepian di meja makan (di saat meja sebelah penuh canda dan tawa oleh orang2 yang sedang asik nongkrong).

Sementara itu dulu buku-buku yang pernah menemani Penulis selama traveling, mungkin saja bisa dijadikan referensi bacaan di waktu luang. Hanya dua yang penulis jelaskan dengan sub judul, tetapi ada banyak yang penulis sebutkan dan jelaskan singkat di beberapa paragraf. Ya kebanyakan buku non fiksi ya :D. Semoga bermanfaat :).

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
surat pin google adsense

Ini bukan postingan perpisahan ya, atau postingan tutup akun blog kayak yang biasa orang lakuin di youtube (pamit dari youtube). Kali ini gue bakal gunain gaya bahasa "gue-lo" dan kebanyakan non baku. Sudah 1,5 tahun ini gue mulai aktif ngeblog, hampir 100 artikel sudah terbit di web ini. 

Awal mula gue membuat blog ini atas saran dari keluarga dan temen-temen terdekat yang mendorong gue untuk membuat karya, gak cuman posting atau pamer foto di sosmed doang. Harus punya buah hasil perjalanan yang udah gue lakuin selama ini. Honestly gue posting foto bukan buat pamer sih :D, itulah kenapa gue jarang upload foto yang ada muka gue nya.

Banyak temen-temen dan keluarga yang nyaranin bikin buku, youtube, dan blog.  Dari tiga saran itu, ada yang belum gue lakuin, ada yang dalam proses dan ada yang sudah jadi. Salah satu yang udah jadi ya blog ini,  Maret 2020 blog ini lahir dan resmi masuk dalam persaingan page one di mesin pencari google . Apa sih maksudnya? gini, kita bahas satu tema misal solo traveling ke wae rebo. Nah pas orang2 ngetik di google dengan keyword itu muncul banyak web yang membahas tema itu, nah intinya gimana caranya web kita bersaing dan muncul di posisi paling atas. Kecenderungan pengguna google bakal milih web yang paling atas kan? itu istilah kerennya SEO (search engine optimazitaion) panjang deh penjelasannya, gue juga belum ngerti2 banget.

Modal kepenulisan gue dapet dari beberapa seminar dan baca buku. Tekat menulis di blog semakin bulat setelah gue ikut pelatihan jurnalistik dari kantor pada bulan februari 2020. Gue mau curhat, Akhirnya kepanggil diklat yang "tatap muka" di kelas juga, bukan sekedar e-learning. Fyi gue saat itu udah 4 tahunan kerja dan "baru" kepanggil diklat lagi saat itu (setelah dua diklat wajib sebagai pegawai). Ya itulah yang gue sebelin dan kadang ngerasa iri kepada rekan yang udah kepanggil diklat berkali-kali. skip, ntar kepanjangan bahas kehidupan gue di kantor.

"Lo kenapa gak ngeyoutube?" tanya seorang temen. Gue orangnya gak pede bro kalau ngomong di kamera. Selalu itu jawaban yang gue berikan kalau ditanya perihal youtube atau vlog. "Ya kan lo bisa bikin vlog tanpa ada Lo nya. Misal nih Lo ngevlog tentang Monas, ya lo videoin aja Monasnya terus jelasin pake suara aja atau kasih penjelasan lewat teks gitu". Ya gimana ya bro, gue pernah bikin tugas bikin video gitu terus prosesnya lama banget bro. Video lima menitan bisa dari pagi ampe sore, kalau nulis udah bisa tuh buat 2000 an kata (meski kadang tergantung mood juga).

Alasan2 itu bisa dipatahkan sih, wajar Lo butuh waktu lama edit video karena lo belum mahir dan masih kikuk pake aplikasi adobe premier. Piso kalo diasah lama2 jadi tajem kan, itu peribahasa yang sering kita denger. Honestly, masukan dari seorang temen itu gue simpen dan bakal jadi pertimbangan juga. Terkait ide bikin video, gue sebenernya udah punya konsep. Gakpapa gue share di sini, silahkan juga kalau kalian mau bikin yang serupa karena ini bukan ide orisinil gue juga. Gue suka banget nontonin video walking around kota-kota di dunia, seperti london, milan, paris, dan istanbul. Gue pingin bikin video kek gitu, jalan kaki sambil videoin sudut-sudut tempat estetik dan bersejarah di Jakarta dan sekitarnya. Ya meskipun kualitas videonya bukan 4k kayak yang sering gue tonton, gue belum memprioritaskan beli kamera baru.

back to topic, gilaak panjang banget prolog gue hahaha. Gue bakal membahas tentang Konsistensi Menulis Blog. Sok-sokan banget sih lo baru juga seumur jagung ngeblog udah bahas "konsistensi", ya gue akuin ini kata yang paling berat dilakuin di kalangan blogger. Konsistensi menurut gue adalah kita masih bisa menjaga hasrat dan kebahagian ketika ngelakuin sesuatu. Menjaga konsistensi ini yang sulit dalam hal apapun di kehidupan, bukan cuman di blog doang.

Gurunda gue saat awal ngeblog si Faliq, temen yang sering berperjalanan sama gue. Yang gue sayangkan adalah blog backpackwanderer.com sudah lama tidak memunculkan postingan terbaru. Gue belum sempat nanya kenapa faliq vakum selama ini di blog, karena retoris juga sih jawabannya. Udah bisa dipastikan karena prioritas waktu luangya fokus ke belajar saham. Dulu gue yang nyekokin faliq masuk ke pasar modal, eh sekarang dia jauh lebih paham terutama di bidang teknikal. Udah bisa kali ya Lo bikin seminar saham gitu liq? hahaha.

Sebelum membuat blog, gue menentukan tema apa yang bakal dibahas di blog ini, istilahnya niche. Gue mulanya ingin membuat blog yang isinya gado-gado, campuran ada bahas perjalanan, puisi, sinopsis buku. Tetapi setelah gue pikir2 ketika membahas tema campuran seperti itu gue susah untuk konsisten, simply gue bakal sulit membagi porsi kapan gue bahas perjalanan, puisi, dan sinopsi. Gue juga baca2 tips blogger yang salah satunya lebih baik fokus ke satu niche saja.

Gue akhirnya memilih ngeseriusin bikin blog perjalanan aja, banyak ide juga dari apa yang udah gue kunjungi selama ini. Apa sih benefit yang lo dapat selama ngeblog? heemmm, heeemm ngetik ngapus lagi ngetik ngapus ngetik ngapus  ngetik. Ini berkaitan juga dengan alasan kenapa gue konsisten dalam ngeblog. Pertama, ngelatih dan mengasah Lo dalam menulis. gue baca ulang postingan2 awal di blog ini dan jujur gue ngerasa ada banyak yang perlu diperbaiki. Seiring dengan rutinnya lo nulis bakal menemukan gaya kepenulisan lo. 

Gue pribadi ngerasa tulisan gue sekarang lebih baik dibanding dengan tulisan gue di awal ngeblog. Dulu banyak kalimat yang ambigu, tidak jelas, banyak melenceng dari KBBI, dan cara gue nyusun ceritanya gak menarik banget. Gue gak mempermasalahkan SPOK nya ya, karena ini tergantung selera masing2. Sama gue gak ambil pusing terkait gen "tif" (maksudnya tipe paragraf deduktif, induktif, persuasif, dll), karena ini bukan karya ilmiah.

Benefit lainnya adalah blog kalian bisa dimonetisasi. Paham apaan lagi tuh? chuaakzz. Maksudnya adalah bagaimana blog bisa menghasilkan uang. caranya? ada banyak caranya tapi prosesnya menurut gue sulit. Gue bakal ngebahas salah satu caranya yaitu menghubungkan blog ke google adsense, platform iklan dari google. simplynya gini, blog lo dipasang iklan semisal lazida, pagipagi, bukagerai, dll. Cara dapet duitnya dari mana, ntar kalo ada yang ngeklik iklan tersebut dari blog kita maka kita dapet duit gitu.

Gue tadi bilang sulit karena udah ngerasain ditolak berkali2 oleh google, ada 15 kali wkwkwk. Jadi gak serta merta lo bikin blog terus nulis sebiji artikel lalu lo ajuin ke google adsense, ini bisa dipastikan ditolak. Ada banyak persyaratan yang harus lo penuhin, jujur gue males ngejelasinnya karena bakal panjang. bukannya pelit ilmu ya, artikel ini gue fokusin bahas tentang konsistensi menulis di blog aja. Jika kalian tertarik bisa cari di google, udah banyak blog yang ngebahas google adsense karena tema ini "gurih" banget buat digoreng.

Udah dapet berapa lo di adsense? wah gue gak bakal nyebut nominal karena jumlahnya gak seberapa. alah lo kufur banget sih, bersyukur. Lah  serius, nominalnya belum nyampe dari screenshoot penghasilan adsense Omed, baru cukup buat perpanjang domain dua tahun. lah siapa lagi tuh omed? Menurut gue beliau orang yang inspiratif, pengalamannya udah banyak keliling Indonesia, bahkan pernah ke pulau yang terdengar asing di telinga.

Terakhir cara menjaga konsistensi menulis di blog ala gue adalah jadikan blog sebagai sarana tempat lo bermain sama kayak lo lagi main mobile legend. Ketika lo main mobile legend kan perang hero tuh, lo keluarin skill satu sampe ulti. Nah pas ngeblog lo tuangkan cara berpikir atu kata-kata yang ada di otak lo, skill satu menarik perhatian pembaca dengan bahasa yang mudah dimengerti, skill dua menarik perhatian dengan alur cerita, dan skill ulti menarik perhatian pembaca karena informasi yang ada di blog bermanfaat.

Alhamdulillah gue masih bisa konsisten sampai sekarang. simplynya gini, dengan geblog timbul rasa senang. Saat jari gue menyentuh keyboard refleks tersenyum ketika menceritakan hal-hal lucu dan seru, nih gue lagi senyum nih pas ngetik paragraf ini :D.



 


Share
Tweet
Pin
Share
12 komentar
Newer Posts
Older Posts

Buku Menulis Cerita Perjalanan

Buku Menulis Cerita Perjalanan
Pada tahun 2023, buku pertama saya berjudul Menulis Cerita Perjalanan resmi diterbitkan oleh Penerbit Jejak. Melalui buku ini saya menceritakan perjalanan selama berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Saya ingin perjalanan-perjalanan tersebut, tidak menguap begitu saja tidak ada bekas dan jejaknya. Jika para pembaca tertarik membacanya dapat klik gambar buku atau melalui link berikut : Shopee : https://id.shp.ee/hXGJwGT dan Toko Buku Jejak : https://tokobukujejak.com/detail/menulis-cerita-perjalanan-FCONM.html

Popular Posts

  • Naik Motor ke Pik 2, Memang Bisa?
  • Kolam Renang Bojana Tirta, Murah dan Nyaman
  • Jasa Antar Jemput ke Basecamp Gunung Dempo, CZ Trip and Tour Pagaralam
  • Solo Traveling ke Bandung (Part 2 : Motoran Sendirian ke Ciwidey)
  • Solo Traveling ke Lahat Dengan Kereta Api

Tentang Penulis

Halo para pembaca, penulis adalah seorang pemuda kelahiran tahun ’97. isi blog ini seputar cerita dan catatan penulis ketika berkunjung di beberapa provinsi di Indonesia, tujuan membuat blog ini supaya dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama yang mempunyai hobi traveling. penulis dapat dihubungi dengan berkirim email ke dodonulis1@gmail.com

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

recent posts

    Pages

    • Privacy Policy
    • About Me
    • Disclaimer
    • Contact

    BloggerHub

    BloggerHub Indonesia

    Created with by ThemeXpose