Pendakian Gunung Gede dan Melihat Hamparan Edelweis di Alun-alun Surya Kencana

by - 10/10/2020 03:54:00 PM

puncak gunung gede di jawa barat
Pendakian Gunung Gede ini sudah lama sekali dilaksanakan yaitu tanggal 15-16 Juli 2017 yang lalu. Namun kenangannya masih teringat hingga sekarang. Cuaca selama dua hari pendakian saat itu sangat bersahabat, Bunga-bunga Edelweis sedang mekar dan menghampar luas di sekitaran Alun-alun Surya Kencana.  Gunung Gede terkenal mistis, tetapi syukur alhamdulillah penulis dan 12 teman yang lain tidak mengalami hal-hal ganjil selama pendakian.
 
Apa sih alasan orang-orang menyukai kegiatan mendaki ke atas gunung? Banyak orang-orang berkata mendaki gunung mengajarkan kita banyak hal seperti tentang kesabaran, mengenal diri sendiri, pantang menyerah, bersyukur atas ciptaan tuhan,  dan melawan sifat tidak mau mengalah atau keras kepala.

Mendaki gunung juga menuntut sang pendaki untuk siap menghadapi berbagai situasi. Seperti hujan lebat di saat pendakian, kebelet buang hajat di tengah pendakian, memikul carrier yang beratnya puluhan kilo, Kabut menggelayut saat di puncak, hingga tidak bisa menghubungi gebetan/pacar selama pendakian karena tidak ada sinyal.

Penulis pribadi masih tergolong pendaki pemula dan amatiran. Dalam catatan penulis tidak lebih dari lima gunung yang telah didaki, itupun semuanya masih di bawah 3000 Mdpl. Ada dua tempat di gunung yang ingin penulis datangi yaitu Ranu Kumbolo di Semeru dan Danau Sagara Anak Gunung Rinjani di Lombok. Entah kapan realisasinya, masih dalam angan-angan (Sembari mencari info jika sedang ada travel fair atau tiket diskon).

Kembali ke topik awal ya, Gunung Gede memiliki ketinggian 2958 Mdpl. Gunung ini secara administratif termasuk dalam tiga wilayah kabupaten yang ada di Jawa Barat (Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi). Jalur pendakiannya ada di tiga tempat juga, yaitu :

1. Gunung Putri di Kabupaten Bogor;

2.Cibodas di Kabupaten Cianjur;

3. Selabintana di Kabupaten Sukabumi.

 Untuk mendaki gunung ini para pendaki mendaftar terlebih dahulu di website www.gedepangrango.org. Di sana tertulis lengkap syarat dan aturan yang wajib dilaksanakan oleh pendaki, termasuk memilih rencana mendaki lewat jalur mana dan biaya SIMAKSI yang harus dibayar.

Perjalanan ke Basecamp

Perjalanan dari Jakarta dimulai pada Jumat malam, penulis dan 12 teman yang lain menggunakan Bus Marita dari kampung Rambutan dengan biaya Rp 30.000/orang. Sepanjang perjalanan alunan musik dangdut keroncong mengudara di ruangan bus, seperti menimang para penumpang untuk tidur lelap. 

Tibalah penulis di daerah Gunung putri pada pukul tiga dini hari. Saat keluar dari bus dan memikul tas carrier, para sopir angkot langsung menawarkan untuk mengantar kami menuju basecamp. Setelah kata sepakat, kami pun diantar.
 
Setelah tiba di basecamp kami pun mencari masjid untuk persiapan salat, setelah itu mencari warung makan terdekat untuk sarapan pagi. Suhu yang dingin menggoda penulis untuk memesan satu gelas teh hangat, sambil berbincang dengan teman yang lain. Menunggu langit lebih terang untuk memulai pendakian.

Pos-pos Pendakian

pos satu pendakian gunung gede
Pukul enam pagi, penulis dan rombongan telah siap mendaki. Sebelum berangkat kami diperiksa oleh petugas, mereka mengecek benda terlarang yang tidak boleh dibawa seperti odol, sabun, shampoo, dan barang lain yang dianggap bisa mencemari sumber air. Jika terlanjut membawa barang-barang tersebut tidak usah risau, titipkan saja ke petugas nanti ambilnya pas pulang.

Ladang perkebunan milik warga yang menghampar terlihat di awal mendaki. kontur jalannya masih cenderung datar, belum banyak tanjakan. sekitar satu jam dari basecamp, tibalah di Pos 1 yang dikenal dengan Pos Legok Leunca (pos selamat datang). 

Kami pun beristrihat sebentar di pos satu, tidak tergesa-gesa untuk sampai di camp area karena di dalam rombongan Kami terdapat dua orang perempuan yang perlu dijaga. Setelah istirahat dirasa cukup, perjalanan pun di lanjutkan menuju pos selanjutnya yaitu Buntut Lutung dengan kontur yang mulai menanjak tetapi masih ada jalur datarnya (bonus).

Pos selanjutnya adalah Lawang Sekateng dan Pos Simpang Malaber, bagian yang terberat karena jalur semakin menanjak dan jarang ada bonusnya. Larik cahaya menyembul di antara sela-sela daun-daun pohon yang rimbun.  Kami beristirahat lebih lama di sebuah warung kecil yang menyediakan minuman hangat dan menjual gorengan.

Alun-alun Surya Kencana

tenda di alun alun surya kencana gunung gede
Penulis tiba di alun-alun Surya Kencana sekitar pukul 13.00 WIB, bisa dibilang tempat ini mahkotanya gunung Gede. Hamparan padang rumput yang luas (di beberapa web menyebut sekitar 50 hektare). Tanaman edelweis banyak dijumpai di tempat ini. Beruntungnya penulis saat itu bunga-bunganya sedang mekar. Tempat ini mengingatkan penulis dengan tempat bernama Tegal Alun di gunung Papandayan di bulan Februari 2017, tempat penulis berkenalan pertama kali dengan Edelweis. 
bunga edelweis di alun alun surya kencana
Penulis dan rombongan pun mendirikan tenda dan segera mengeluarkan peralatan masak. Setelah itu Kami mengganti pakaian yang dipakai dengan pakaian kering di dalam tas. Siang itu kami tidak langsung menuju puncak gunung, hanya menyusuri alun-alun saja sambil berfoto ria. Malam harinya kami beristirahat dan makan malam, mengumpulkan energi untuk summit keesokan paginya.

Puncak Gunung Gede

Summit Attack dilangsungkan keesokan paginya. Kami berangkat pukul lima pagi setelah salat shubuh. Udara dingin terasa menusuk meski sudah memakai jaket. Headlamp menjadi penerangan kami saat menapaki jalan yang menanjak. Pohon Cantigi tumbuh rimbun di sebelah kanan dan kiri jalan setapak. Langit mulai terang dan larik cahaya mulai terlihat. Perhitungan kami salah, harusnya berangkat lebih awal jika tidak ingin momen sunrise terlewat.
sunrise gunung gede
Salah satu teman penulis bernama Faliq setengah berlari untuk menuju puncak lebih awal. Penulis pun menyusul di belakangnya. Pukul 5.45 WIB, Alhamdulillah syukur kepada tuhan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melihat keindahan ciptaannya di ketinggian 2958 Mdpl. 

Di puncak sudah ramai oleh pendaki lain, ada rombongan yang terlihat memakai seragam komunitas pendaki, mapala, hingga sebuah rombongan yang mengobrol bahasa palembang. Penjual gorengan sedang sibuk membuat adonan baru karena banyaknya yang memesan termasuk penulis.
gunung pangrango dilihat dari gunung gede
Dari atas puncak terlihat gagahnya tetangga Gunung Gede yaitu gunung Pangrango. Pemandangan kawah terlihat mengeluarkan kepul asap belerang. Kami pun kembali ke tenda dan berkemas untuk menuju ke basecamp. Alhamdulillah tiba di Jakarta dengan selamat dan sehat.

You May Also Like

0 komentar