Jeda Menulis

by - 3/07/2026 10:23:00 AM

logo-dodonulis
10 Januari, anak pertama kami lahir ke dunia. Putri cantik yang memancarkan cahaya harapan bagi keluarga kami. Bagaimana mendefinisikan perasaan  saat itu? sungguh jari saya kaku untuk menuliskannya di sini, terlalu campur aduk. Seminggu pertama, bangsal dan lorong rumah sakit membuat saya belajar tentang kehidupan. Bagi saya, pelajaran ini tidak bisa dipelajari dari buku-buku yang telah dibaca dan bangku sekolah manapun. 

Putri kami lahir selamat dan sehat. Dirinya lahir bukan di tanggal yang sudah dijadwalkan oleh dokter, bukan juga di rumah sakit kota yang sudah kami pilih. Kini Em sudah jauh lebih pulih, putri kami juga sudah memasuki usia dua bulan dengan tingkah lucu dan menggemaskan. Mereka berdua adalah perempuan kuat, Ibu dan anak yang saling menguatkan satu sama lain. Meski ketika waktu kelahiran saya tidak berada di sana, terpisah pulau.  

Setelah tiba di kampung satu hari setelah kelahiran, saya memutuskan untuk jeda dari aktivitas rutin, termasuk menulis. Jeda untuk menghela nafas panjang, meramu pikiran agar tetap tenang, dan fokus untuk merawat anugerah Tuhan yang dititipkan kepada saya dan Em. Kini, saya memiliki dua perempuan kuat yang sangat berarti lebih dari apapun. Disposisi dari tuhan yang perlu dijaga dengan baik. 

Satu bulan lamanya, setelah jeda dalam waktu yang lama, saya ingin memulai kembali menulis, membangun konsistensi yang tertinggal jauh di belakang. Memulai kembali adalah hal yang sulit, apa alasan yang membuat saya kembali bersemangat? Saya ingin bertanggung jawab atas kepercayaan yang telah diberikan oleh Em. Dia adalah orang yang paling percaya kalau saya tidak mudah menyerah. 

Saya teringat kejadian pada suatu malam di tahun 2025, setelah mengetahui naskah yang saya tulis tidak diterima oleh penerbit, saya memberitahu Em bahwa saya ingin berhenti menulis. Reaksi Em saat itu sangat terpukul, air matanya menetes, dan memeluk dengan erat. Dirinya menolak dengan tegas dan menyemangati kembali untuk jangan pernah berhenti. 

Saya terpaku, tidak menyangka respon Em seperti itu. Saat itu saya sadar, bahwa pernikahan juga membuat ikatan batin yang begitu dalam, impian dan cita-cita kini tidak hanya milik saya saja, melainkan milik bersama. 

Em tau betul bahwa saya menyukai aktivitas ini, lantas mengapa saya harus berhenti melakukan apa yang saya sukai. Dengan mengatakan niat untuk berhenti menulis, itu sama saja mematahkan hati Em yang telah mendukung penuh selama ini.

Pada tulisan ini saya ingin memberitahu suatu hal, bahwa logo Dodonulis adalah garapan yang teramat spesial yang dikreasikan dengan niat hati yang tulus dari Em. Ada jiwa dan perasaan Em di sana.  Saya masih ingat bagaimana Em sangat serius memikirkan ide dan konsep huruf yang saling terhubung membentuk kelopak bunga, menandakan harapan yang mekar.  

Pada Agustus 2025, saya mendaftarkan logo dan nama dodonulis mendapatkan perlindungan hak kekayaan intelektual sebagai sebuah merek. Prosesnya amat panjang, membutuhkan waktu berbulan-bulan. Hingga pada awal Maret tahun ini saya mendapatkan kabar bahagia. Sertifikatnya telah terbit. 

Buah tangan kreasi dari Em kini sudah resmi terdaftar dalam pusat data kekayaan intelektual. Apa yang akan saya lakukan setelah dodonulis terdaftar sebagai sebuah merek? Saya juga penasaran untuk menantikan jawabannya. Niat saya sederhana, setelah ini saya ingin terus menulis, terus berlatih. 

Saya ingin menghargai dan bertanggung jawab atas kepercayan dan orang yang mendukung penuh proses demi proses yang saya jalani. Teruntuk Em dan Putri Kami.

You May Also Like

0 komentar