• Home
  • Sumatera
    • Aceh
    • Sumatera Utara
    • Sumatera Barat
    • Riau dan Kepri
    • Sumatera Selatan
    • Jambi
    • Bengkulu
    • Bangka Belitung
    • Lampung
  • Jawa
    • DKI Jakarta
    • Banten
    • Jawa Barat
    • Yogyakarta
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
  • Kalimantan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
    • Kalimantan Utara
    • Kalimantan Timur
  • Sulawesi
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Bali NTB NTT
    • Bali
    • Lombok
    • Sumba
    • Flores
  • Maluku dan Papua
    • Maluku
    • Papua
instagram Email

dodonulis

blog catatan perjalanan

logo-dodonulis
10 Januari, anak pertama kami lahir ke dunia. Putri cantik yang memancarkan cahaya harapan bagi keluarga kami. Bagaimana mendefinisikan perasaan  saat itu? sungguh jari saya kaku untuk menuliskannya di sini, terlalu campur aduk. Seminggu pertama, bangsal dan lorong rumah sakit membuat saya belajar tentang kehidupan. Bagi saya, pelajaran ini tidak bisa dipelajari dari buku-buku yang telah dibaca dan bangku sekolah manapun. 

Putri kami lahir selamat dan sehat. Dirinya lahir bukan pada tanggal yang sudah dijadwalkan oleh dokter, bukan juga di rumah sakit kota yang sudah kami pilih. Kini Em sudah jauh lebih pulih, putri kami juga sudah memasuki usia dua bulan dengan tingkah lucu dan menggemaskan. Mereka berdua adalah perempuan kuat, Ibu dan anak yang saling menguatkan satu sama lain. Meski ketika waktu kelahiran saya tidak berada di sana, terpisah pulau.  

Setelah tiba di kampung satu hari setelah kelahiran, saya memutuskan untuk jeda dari aktivitas rutin, termasuk menulis. Jeda untuk menghela nafas panjang, meramu pikiran agar tetap tenang, dan fokus untuk merawat anugerah Tuhan yang dititipkan kepada saya dan Em. Kini, saya memiliki dua perempuan kuat yang sangat berarti lebih dari apapun. Disposisi dari tuhan yang perlu dijaga dengan baik. 

Satu bulan lamanya, setelah jeda dalam waktu yang lama, saya ingin memulai kembali menulis, membangun konsistensi yang tertinggal jauh di belakang. Memulai kembali adalah hal yang sulit, apa alasan yang membuat saya kembali bersemangat? Saya ingin bertanggung jawab atas kepercayaan yang telah diberikan oleh Em. Dia adalah orang yang paling percaya kalau saya tidak mudah menyerah. 

Saya teringat kejadian pada suatu malam di tahun 2025, setelah mengetahui naskah yang saya tulis tidak diterima oleh penerbit, saya memberitahu Em bahwa saya ingin berhenti menulis. Reaksi Em saat itu sangat terpukul, air matanya menetes, dan memeluk dengan erat. Dirinya menolak dengan tegas dan menyemangati kembali untuk jangan pernah berhenti. 

Saya terpaku, tidak menyangka respon Em seperti itu. Saat itu saya sadar, bahwa pernikahan juga membuat ikatan batin yang begitu dalam, impian dan cita-cita kini tidak hanya milik saya saja, melainkan milik bersama. 

Em tau betul bahwa saya menyukai aktivitas ini, lantas mengapa saya harus berhenti melakukan apa yang saya sukai. Dengan mengatakan niat untuk berhenti menulis, itu sama saja mematahkan hati Em yang telah mendukung penuh selama ini.

Pada tulisan ini saya ingin memberitahu suatu hal, bahwa logo Dodonulis adalah garapan yang teramat spesial yang dikreasikan dengan niat hati yang tulus dari Em. Ada jiwa dan perasaan Em di sana.  Saya masih ingat bagaimana Em sangat serius memikirkan ide dan konsep huruf yang saling terhubung membentuk kelopak bunga, menandakan harapan yang mekar.  

Pada Agustus 2025, saya mendaftarkan logo dan nama dodonulis mendapatkan perlindungan hak kekayaan intelektual sebagai sebuah merek. Prosesnya amat panjang, membutuhkan waktu berbulan-bulan. Hingga pada awal Maret tahun ini saya mendapatkan kabar bahagia. Sertifikatnya telah terbit. 

Buah tangan kreasi dari Em kini sudah resmi terdaftar dalam pusat data kekayaan intelektual. Apa yang akan saya lakukan setelah dodonulis terdaftar sebagai sebuah merek? Saya juga penasaran untuk menantikan jawabannya. Niat saya sederhana, setelah ini saya ingin terus menulis, terus berlatih. 

Saya ingin menghargai dan bertanggung jawab atas kepercayaan dan orang yang mendukung penuh proses demi proses yang saya jalani. Teruntuk Em dan Putri Kami.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
pengalaman-menerbitkan-buku-di-penerbit-indie

Pada tahun 2023, saya memberanikan diri untuk menerbitkan buku berjudul Menulis Cerita Perjalanan. Buku tersebut tidak diterbitkan melalui penerbit mayor, seperti grup Gramedia ataupun Bentang Pustaka yang sudah familiar. Untuk buku pertama tersebut, saya memilih penerbit Indie atau skala UMKM yang masih berkembang. 

Pengalaman tersebut membuka mata saya lebih lebar dan jauh tentang dunia penerbitan buku. Cukup lama saya mencari referensi penerbit indie yang dapat dipercaya dan mempunyai rekam jejak yang baik. Karena salah satu risiko menerbitkan buku melalui penerbit indie adalah jika mendapatkan penerbit yang curang dan culas, tidak memberikan hak yang sepatutnya dimiliki oleh penulis.

Buku Menulis Cerita Perjalanan tersebut saya percayakan untuk diterbitkan oleh penebit CV Jejak yang beralamat di Sukabumi, Jawa Barat. Meski jarak Jakarta dan Sukabumi cukup dekat, saya tidak pernah berkunjung langsung ke alamat penerbit. Pertukaran informasi dan saling berbalas pesan dengan tim penerbit semuanya melalui email dan whatsapp. 

Cara mudah membedakan penerbit mayor dan penerbit indie adalah dari sisi biaya penerbitan buku. Jika hendak menerbitkan buku melalui penerbit mayor, tidak ada biaya yang dikeluarkan oleh penulis untuk mencetak dan menerbitkan buku tersebut, semuanya ditanggung oleh penerbit termasuk biaya promosi. Namun biasanya seleksinya ketat dan panjang, bisa berbulan-bulan hingga menyentuh tahun. 

Sementara jika menggunakan penerbit indie, kita akan membayar sejumlah uang untuk menerbitkan buku. Biayanya tergantung kesepakatan dengan penerbit yang bersangkutan. Contohnya CV Jejak mempunyai berbagai paket penerbitan yang dapat kalian cek melalui halaman resminya. Saya tidak akan membocorkan paket penerbitan yang saya pilih. Jika hendak memilih sebuah penerbit indie saya sarankan baca baik-baik paket yang hendak disepakati. 

paket-penerbitan-jejak-publisher

Melalui laman resmi-nya, CV Jejak berdiri pada tahun 2016 dan mulai menerbitkan naskah-naskah yang dikirimkan oleh penulis yang baru merintis seperti saya. Sesuai dengan visi mereka yaitu memajukan dunia literasi dan meningkatkan minat membaca dan menulis serta bertekad membantu penulis-penulis baru yang mampu berkompetensi, berkualitas dan membantu mereka mencapai cita-citanya sebagai penulis profesional. 

Salah satu bagian paling penting dalam memilih penerbit buku adalah pastikan penerbit tersebut termasuk ke dalam anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Hal tersebut merupakan fundamental dasar dalam memilih penerbit. Pastikan penerbit berkomitmen membantu pengurusan ISBN, semacam nomor identitas buku yang diakui secara internasional. 

Mengapa pilihan menerbitkan buku pertama saya jatuh ke Penerbit Jejak? Karena sistem website mereka transparan. Setidaknya mereka mempunyai tiga website resmi. Pertama jejakpublisher.com yang berisikan profil penerbit, kalian dapat berkenalan dan mencari informasi yang lengkap tentang penerbit ini melalui website tersebut, termasuk memahami berbagai paket penerbitan yang ditawarkan.

menerbitkan-buku-di-penerbit-jejak

Website kedua yaitu www.penerbitjejak.com , website ini secara khusus dibuat untuk penulis yang sudah memantapkan hatinya untuk menerbitkan buku di Penerbit CV Jejak. Setelah membuat akun, kita dapat mengirimkan naskah dan membuat perjanjian penerbitan melalui website tersebut. Kita juga dapat memantau sudah sejauh mana naskah kita diproses oleh mereka. 

royalti-dari-penerbit-jejak

Selanjutnya adalah website penulisjejak.web.id , merupakan website khusus untuk memantau besaran royalti yang kita terima, termasuk sudah berapa banyak buku kita yang terjual. 

Dalam proses penerbitan, kita juga dapat bertanya langsung melalui whatsapp maupun email jika mengalami kesulitan atau ada hal yang hendak ditanyakan. Jangan ragu untuk bertanya, pastikan kita sudah paham dan tidak ada pertanyaan yang mengambang. Pengalaman selama proses penerbitan, saya pribadi merasa respon penerbit cepat dan baik. 

menerbitkan-buku-di-penerbit-jejak

Tangkapan layar di atas ketika buku saya dalam proses antrian untuk diterbitkan. Meski penerbit indie, kita juga harus sabar selama buku kita diproses, karena ada banyak naskah yang mereka terbitkan secara bersamaan. Pengalaman saya waktu itu, lama proses penerbitan sejak kirim naskah hingga buku diterbitkan memakan waktu tiga bulan. Nah sampai sini kalian bisa menebak saya memilih paket penerbitan yang mana, hehe.

Penerbit CV Jejak juga memberikan waktu kepada penulis untuk memeriksa kembali secara keseluruhan mengenai layout dan isi buku sebelum 'naik cetak'. Setelah semua proses penerbitan selesai, buku tersebut dikirimkan ke alamat saya, jumlahnya sesuai dengan kesepakatan paket di awal. 

Kita juga bisa meminta dikirimkan buku lebih banyak dari jumlah yang tertera di paket penerbitan, tentunya harus membayar biaya cetaknya. Saya waktu itu meminta dikirimkan lebih banyak karena sudah ada teman yang memesan langsung melalui saya. 

Dari sisi penjualan dan pemasaran, Penerbit CV Jejak mempunyai laman khusus yaitu tokobukujejak.com untuk menjual buku-buku yang mereka terbitkan. Selain itu mereka juga menjualnya melalui shopee dan tokopedia. Penerbit CV Jejak juga menjual buku versi digital di google playbook.  

Nah jika menerbitkan buku melalui penerbit indie, kita harus proaktif mempromosikan buku tersebut secara mandiri. Karena skala promosi penerbit indie tidak terlalu besar dan tidak dijual di toko buku besar. 

Pada bulan Juni 2024, buku saya dapat dibaca melalui aplikasi resmi Perpustakaan Nasional yaitu Ipusnas.  Teman-teman dapat membacanya secara gratis pada aplikasi tersebut. Selain itu buku tersebut dapat dipinjam di Perpustakaan Kota Pangkal Pinang dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 

Disclaimer : tulisan ini murni pengalaman pribadi saya, mungkin setiap penulis yang menerbitkan naskah di Penerbit CV Jejak mempunyai pengalaman yang berbeda-beda, jadi saya harap pembaca tidak menggeneralisasi proses yang saya bagikan pada tulisan ini.

"Jangan biarkan perjalananmu menguap begitu saja tidak ada bekasnya" Dodonulis, Menulis Cerita Perjalanan.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

2024 berlalu. Semakin bertambah usia, saya semakin sadar bahwa dunia ini bukanlah sebuah perlombaan belaka, menang atau kalah bukan hal yang penting lagi. Kalau ikut berlomba, mungkin saya sudah jauh tertinggal, babak belur dipukul oleh waktu yang terbuang sia-sia.  

Kadang saya merindukan sifat ambisius itu. Tak bisa dipungkiri, rasa ingin lebih dari orang lain mengendap dalam diri saya bertahun-tahun semenjak kecil hingga remaja. Beberapa tahun belakangan, saya memahami dalam dunia ini kadangkala menjadi berbeda justru lebih baik. Saya ingin fokus kepada apa yang telah saya miliki, bukan fokus kepada kepunyaan orang lain.

Pernikahan dengan Em adalah momen terbaik saya pada tahun 2024. Sungguh saya terharu, menuliskan bagian ini. Impian saya terwujud, pesta pernikahan sederhana yang hanya diadakan satu kali. Bagi orang-orang kebanyakan, merayakan pesta pernikahan dengan mewah adalah sebuah kebanggaan. Seperti kewajiban mengadakan pesta dua kali, di tempat mempelai wanita dan pria. 

Tidak ada yang salah atas pilihan itu. Hanya saja, saya ingin berbeda dari kebanyakan orang. Cukuplah acara yang sederhana saja, panggung di halaman rumah, tidak perlu gedung. Syukurlah saya mendapatkan pasangan yang juga sejalan. Pendapat orang lain memang perlu, sebagai input masukan yang membangun. Namun kadangkala kita juga harus mempunyai pendirian.  

Dibandingkan dengan pernikahan yang mewah, saya lebih tertarik untuk mengajak Em melihat keindahan alam yang belum pernah ia lihat secara langsung. Sumba menjadi pilihan pertama, sepertinya akan menarik jika mengulas cerita perjalanan di postingan selanjutnya. Ada banyak hal yang ingin diceritakan, mungkin akan lebih menarik jika sudut pandangnya dari Em.

Kalau bicara tentang tahun 2025, Saya ingin menulis buku lagi, bersenang-senang dalam prosesnya yang dapat dipastikan akan sangat panjang dan sulit. Tidak ada jalur cepat untuk menjadi penulis, demikian kalimat yang pernah disampaikan oleh seseorang. 2024 memang tahun yang begitu sibuk bagi saya, namun bukan berarti saya tidak punya waktu, saya gagal melawan rasa malas. 

Menulis seharusnya sejalan dengan membaca. Saya rasa tahun 2024 menjadi tahun terburuk bagi saya dalam hal membaca, tidak banyak buku yang saya habiskan sampai halaman terakhir. Bagaimana kualitas tulisan saya membaik kalau tidak rajin membaca. Maka dari itu tekad saya tahun 2025 adalah lebih banyak membaca. 

Lalu bagaimana dengan blog dodonulis? blog ini akan tetap ada selama tidak dihapus oleh google, sepanjang saya masih mematuhi aturan dan persyaratan mereka. Kepindahan saya ke pulau Bangka membuat ide-ide semakin banyak. Masih begitu banyak tempat-tempat menarik, indah, dan bersejarah yang belum pernah diulas oleh blogger bahkan media skala besar sekalipun. 

Oh ya, pada November 2024 saya resmi menjadi warga lokal Bangka. Sebagai warlok, saya tergerak untuk memberikan kontribusi kepada pulau ini melalui tulisan di blog, setidaknya kalau ada yang mencari informasi apapun tentang pulau ini, maka google melesat cepat merekomendasikan blog saya yang menjadi tujuan pertama.

dodonulis

Salam takzim, dodo yang masih terus berlatih menulis. 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
buku-menulis-cerita-perjalanan-di-ipusnas

Saya tidak menaruh ekspektasi yang tinggi tentang buku pertama saya yang berjudul Menulis Cerita Perjalanan. Buku ini adalah kumpulan beberapa cerita yang sudah saya tulis di blog, hanya berpindah medium saja ke versi cetak. Motivasi saya menerbitkannya adalah sebagai bentuk semangat untuk terus menulis, syukur-syukur dapat bermanfaat bagi orang lain.

Usia buku ini sudah menginjak satu tahun, sebagai bentuk perayaan, saya menulis artikel ini. Apakah ada menulis cerita perjalanan jilid II? saya rasa tidak akan ada, namun pembaca masih dapat menikmati tulisan traveling saya melalui blog ini. Alhamdulillah, saya tidak menyangka blog ini berumur panjang. Ada orang-orang baik yang terus mendukung saya untuk terus merawat blog ini. Terima kasih yang tulus juga buat semua yang sudah singgah ke blog ini. 

Salah satu yang patut disyukuri di tahun pertama buku ini adalah ketika buku ini lolos seleksi masuk iPusnas. Sebuah aplikasi perpustakaan digital yang dikelola oleh Perpustakaan Nasional. Jadi iPusnas sudah membeli buku digital ini untuk dipajang di koleksi mereka. Secara hak cipta semua buku di iPusnas sudah legal. Hal ini merupakan wujud dukungan dan kepedulian Perpustakaan Nasional dalam dunia literasi. Semua orang bisa membaca koleksi buku iPusnas secara gratis, tinggal unduh aplikasinya dan daftar saja. 

Terima kasih kepada penerbit jejak yang sudah membantu proses pengajuan sehingga buku saya bisa diterima di iPusnas. Saya akan senang jika semakin banyak yang membaca buku ini melalui iPusnas, Link buku di iPusnas bisa klik : Menulis cerita perjalanan di ipusnas. 

buku-dodonulis

Buku ini juga sudah tersedia di google playbook, namun untuk membacanya harus berbayar. Untuk linknya ada di : Menulis cerita perjalanan di playbook.

Selamat membaca :). Salam takzim dari saya yang masih belajar menulis.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
buku-menulis-cerita-perjalanan

Buku menulis cerita perjalanan merupakan kumpulan cerita pilihan yang sudah saya posting di laman blog dodonulis, hanya berpindah medium saja ke versi cetak. Teman pembaca masih bisa membaca cerita-cerita itu melalui blog ini, tidak akan saya hapus atau hide meski sudah dimasukkan ke buku.

Saya sadar buku ini belum sempurna. Kadang terlintas di benak saya tulisannya masih receh banget. Ada beberapa bagian yang story telling-nya gak nendang. Ada niat saya untuk merombak total isi buku "cerper" ini. Tapi setelah dipikir-pikir niat itu urung. Sebagai sebuah proses, saya akan jadikan kenangan belajar menulis melalui buku ini. Untuk kemudian menjadi pemicu untuk konsisten dan sebagai tameng saya melawan rasa malas untuk nulis.

Tulisan ini tidak akan beralur seperti Jesse dan Celine di trilogi berfore, sepasang orang asing yang tidak sengaja dipertemukan di sebuah perjalanan kereta api lalu berlanjut traveling bareng dan menjalin janji untuk bertemu di tempat yang sama setahun kemudian. Tulisan ini juga tidak seperti kisah Aldebaran dan Tanya di Critical Eleven, sepasang orang asing yang dipertemukan karena duduk bersebelahan ketika penerbanagan ke Sydney.

Tulisan ini hanya sebuah catatan perjalanan tunggal yang dilakukan oleh seseorang yang ngakunya travel blogger tetapi jumlah hits kunjungan ke blognya tidak seberapa. Saya percaya setiap tulisan akan menemukan jalannya sendiri ke pembaca. Semacam takdir, ada-ada saja cara unik yang membuat orang singgah untuk membaca. 

buku-dodonulis

Selama tiga tahun aktif sebagai travel blogger, saya senang sekali mendapat komentar atau apresiasi yang positif dari pembaca. Beberapa orang menyarankan agar saya menerbitkannya ke dalam buku. Menulis cerita perjalanan mempunyai tantangan tersendiri. Tentu integritas diperlukan supaya informasi yang saya berikan terpercaya dan tidak menyesatkan. Saya tidak ingin ada kiasan atau cerita fiksi di dalam buku ini, murni apa yang saya alami pada saat perjalanan.

Saya bukanlah pejalan elit yang sanggup membayar tiket pesawat bisnis atau hotel bintang lima. Dalam perjalanan yang saya lakukan kebanyakan memanfaatkan tiket pesawat promo, hotel melati seratus ribuan, naik bus hingga belasan jam, sampai hitchhiking pernah saya lakukan. Dalam perjalanan pasti pernah merasakan hal yang tidak menyenangkan. Mulai dari beberapa barang yang hilang atau tertinggal, beselisih paham dengan teman di perjalanan, hingga ketinggalan bus atau angkutan. Biarlah itu menjadi bumbu perjalanan, tak sedap rasanya jika tidak ada dalam cerita.

Tidak ada tulisan yang sempurna. Terkadang terlalu memikirkan kesempurnaan membuat kita ragu untuk melakukan atau mencoba sesuatu, termasuk saya yang berpikir terlalu lama untuk membagikan cerita perjalanan ini. 

buku-cerita-perjalanan

Isi buku ini merupakan beberapa cerita perjalanan yang sudah saya posting di blog ini. Dengan beberapa perbaikan/editing. Pembaca bisa memesan melalui beberapa link market place di bawah ini :

1. Toko buku jejak = https://tokobukujejak.com/detail/menulis-cerita-perjalanan-FCONM.html

2. Link pembelian melalui shopee =

Selamat membaca dan selamat bercerita :) Jakarta, 28 Oktober 2023 - dodonulis.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Buku Menulis Cerita Perjalanan

Buku Menulis Cerita Perjalanan
Pada tahun 2023, buku pertama saya berjudul Menulis Cerita Perjalanan resmi diterbitkan oleh Penerbit Jejak. Melalui buku ini saya menceritakan perjalanan selama berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Saya ingin perjalanan-perjalanan tersebut, tidak menguap begitu saja tidak ada bekas dan jejaknya. Jika para pembaca tertarik membacanya dapat klik gambar buku atau melalui link berikut : Shopee : https://id.shp.ee/hXGJwGT dan Toko Buku Jejak : https://tokobukujejak.com/detail/menulis-cerita-perjalanan-FCONM.html

Popular Posts

  • Naik Motor ke Pik 2, Memang Bisa?
  • Kolam Renang Bojana Tirta, Murah dan Nyaman
  • Stadion Taman Sari Mangga Besar Jakarta, Jejak Sepakbola di Ibu Kota
  • Solo Traveling ke Bandung (Part 2 : Motoran Sendirian ke Ciwidey)
  • Solo Traveling ke Lahat Dengan Kereta Api

Tentang Penulis

Halo para pembaca, penulis adalah seorang pemuda kelahiran tahun ’97. isi blog ini seputar cerita dan catatan penulis ketika berkunjung di beberapa provinsi di Indonesia, tujuan membuat blog ini supaya dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama yang mempunyai hobi traveling. penulis dapat dihubungi dengan berkirim email ke dodonulis1@gmail.com

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

recent posts

    Pages

    • Privacy Policy
    • About Me
    • Disclaimer
    • Contact

    BloggerHub

    BloggerHub Indonesia

    Created with by ThemeXpose