• Home
  • Sumatera
    • Aceh
    • Sumatera Utara
    • Sumatera Barat
    • Riau dan Kepri
    • Sumatera Selatan
    • Jambi
    • Bengkulu
    • Bangka Belitung
    • Lampung
  • Jawa
    • DKI Jakarta
    • Banten
    • Jawa Barat
    • Yogyakarta
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
  • Kalimantan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
    • Kalimantan Utara
    • Kalimantan Timur
  • Sulawesi
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Bali NTB NTT
    • Bali
    • Lombok
    • Sumba
    • Flores
  • Maluku dan Papua
    • Maluku
    • Papua
instagram Email

dodonulis

blog catatan perjalanan


jembatan ampera malam hari

Bagi sobat pembaca yang sudah mengikuti blog ini sejak lama pasti sudah mengenal Faliq, teman penulis yang sering menjadi partner dalam perjalanan.  Pada Maret 2019 yang lalu Faliq sempat mengajak penulis pergi ke Palembang, namun saat itu penulis tidak bisa ikut karena harus menyelesaikan pekerjaan.

Pada akhirnya Faliq berangkat sendirian dan hanya mempunyai waktu satu hari saja untuk berkunjung ke Kota Pempek ini. Satu hari? ya betul, Faliq terbang dari Jakarta dengan jadwal keberangkatan maskapai Sriwijaya Air yang paling awal menuju palembang, lalu kembali ke Jakarta pada malam harinya dengan maskapai yang sama. Wah sayang banget ya cuman satu hari, berat diongkos saja. Saat itu pergi karena tiket promo juga sih, kalau harga normal mikir-mikir juga :D

Faliq sempat meminta rekomendasi kepada penulis terkait tempat-tempat apa saja yang wajib dikunjungi di Palembang dengan waktu yang singkat. Penulis mengenal Faliq sebagai seorang yang religius dan suka sekali mengunjungi masjid di saat perjalanannya keliling beberapa provinsi di Indonesia, penulis pun menyarankan pergi ke Masjid Agung Palembang. 

Selain itu penulis menyarankan untuk singgah ke beberapa tempat lain yang bisa dijadikan alternatif pilihan wisata. Oh ya Faliq juga mempunyai blog, sobat bisa mengunjungi backpack wanderer.

Beberapa tempat ini penulis rekomendasikan ke Faliq saat itu, mungkin bisa dijadikan referensi jika sobat liburan ke Palembang dalam waktu yang singkat. Berikut ulasannya.

1. Masjid Agung Palembang

Masjid Agung lokasinya berada di tengah Kota Palembang dan tidak jauh dari jembatan ikonik Ampera. Masjid ini dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badarudin I , merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Sumatera Selatan. 

Cara menuju Masjid Agung Palembang  

lrt di palembang

Dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sobat bisa menggunakan LRT tujuan stasiun Ampera. Cara menuju ke stasiun LRT yang ada di bandara sangat mudah. Sobat tinggal mengikuti papan penunjuk arah saat keluar dari pintu kedatangan. Jika bingung tinggal tanya saja dengan petugas bandara. 
 
Setelah tiba di stasiun sobat tinggal membeli tiket dengan e-money, harganya hanya Rp10.000 saja. Jika tidak ada e-money bisa bayar secara manual. Nanti bilang ke petugas tujuannya ke Stasiun Ampera. Di dalam kereta terdapat peta rute LRT, nanti jika kereta berhenti akan diberitahukan nama-nama stasiunnya.

Setelah tiba di Stasiun Ampera, sobat bisa berjalan kaki menuju Masjid Agung. Jaraknya hanya sekitar 200 meter saja, namun hati-hati saat menyeberang jalan karena lalu lintas di sekitar kawasan ini sangat ramai. Alternatif lain menggunakan ojek online jika tidak ingin berjalan kaki.
 

Keunikan Masjid Agung Palembang 

pintu masuk masjid agung palembang
Di depan gerbang utama Masjid Agung terdapat bundaran air mancur. Bentuk bangunan masjid ini disebut mempunyai perpaduan tiga arsitektur kebudayaan yaitu Indonesia, Tiongkok, dan Eropa. Ciri khas eropa terletak pada bagian pintu masuk utamanya, lalu ciri khas Tiongkok terlihat dari atap masjid yang menyerupai bentuk kelenteng, kemudian ciri khas Indonesia nampak pada bagian undakan berbentuk limas pada atap masjid. Selain itu pada ujung menara masjid berbentuk kerucut seperti tumpeng.
masjid agung palembang

foto masjid agung palembang
Masjid Agung Palembang mempunyai halaman yang cukup luas, terdapat sebuah kolam yang cukup besar di halaman masjid. Selain itu banyak pedagang makanan khas palembang yang dapat dijumpai di sekitar halaman masjid. Sobat bisa mencoba makan pempek dan es kacang merah, rasanya "Lemak Nian". 
 

2. Monpera

monpera di palembang
Seperti yang penulis katakan di awal, masjid Agung Palembang berada di tengah Kota Palembang dan dekat dengan lokasi wisata lainnya. Sobat bisa berkunjung ke MONPERA (monumen penderitaan rakyat) yaitu bangunan berbentuk menyerupai bunga melati yang bermahkota lima. Di tempat ini sobat bisa melihat koleksi-koleksi foto yang memperlihatkan perjuangan masyarakat Sumatera selatan dalam masa penjajahan. 

3. Benteng Kuto Besak

benteng kuto besak

Tempat lain yang berada di dekat Masjid Agung adalah Benteng Kuto Besak (warga palembang sering menyingkatnya dengan BKB). Dari tempat ini sobat bisa melihat Pemandangan Jembatan Ampera dan Sungai Musi. Tempat ini adalah tempat paling ramai dikunjungi saat akhir pekan di Kota Palembang. Cobalah untuk berkunjung pada malam hari untuk melihat lanskap ampera dengan hiasan cahaya.
 

4. Naik Kapal ke Pulau Kemaro

perahu di sungai musi
 
Di kawasan Benteng Kuto Besak terdapat dermaga kapal menuju Pulau Kemaro. Biasanya tarifnya berkisar antara Rp 200.000 s.d. Rp 300.000 per kapal dengan muatan bisa mengangkut enam orang. Perjalanan menuju ke Pulau Kemaro dengan kapal ketek sekitar setengah jam. 
 
pulau kemaro

Bagian terseru saat menuju pulau kemaro menyusuri sungai Musi. Kapal Ketek akan melewati beberapa tempat seperti rumah-rumah panggung di pinggir sungai, kapal atau perahu yang sedang bersandar, Pelabuhan Boom Baru, dan PT Pusri. Setibanya di Pulau Kemaro, pengunjung dapat melihat Pagoda 9 lantai yang terdapat di tengah pulau dan menghadap ke sungai.

5. Museum Balaputra Dewa Palembang

Nuansa Palembang pada uang Rp 10.000 yang lama sangat terasa. Terdapat gambar pahlawan nasional Sultan Mahmud Badaruddin II pada uang tersebut, selain itu terdapat gambar rumah khas Palembang yaitu Rumah Limas. Lokasi rumah tersebut terdapat di Museum Balaputra Dewa di Palembang.  

6. Gelora Sriwijaya Jakabaring

gelora sriwijaya jakabaring
Kota Palembang sering ditunjuk sebagai tuan rumah perhelatan olahraga internasional. Pada tahun 2018 yang lalu bersama dengan Jakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games. Lalu pada tahun 2013 menjadi tuan rumah Islamic Solidarity Games serta pada tahun 2011 juga menjadi tuan rumah Sea Games. Ditunjuknya Kota Palembang karena mempunyai komplek olahraga yang besar bernama Jakabaring Sport City.

Pada tahun 2021 nantinya Kota Palembang juga dipilih sebagai salah satu kota tuan rumah Piala Dunia sepakbola U-20. Saat ini stadion utama Gelora Sriwijaya sedang dibenahi untuk menyiapkan perhelatan besar tersebut. 

Untuk menuju komplek olahraga ini sobat bisa menaiki LRT dengan tujuan Stasiun LRT Jakabaring. Di dekat komplek olahraga ini terdapat Masjid Cheng Ho, penulis sarankan kalau waktu memungkinkan cobalah untuk berkunjung ke masjid yang berartsitektur unik itu.

7. Kulineran di Palembang

kuliner palembang
 
Rasa-rasanya kurang lengkap kalau ke Palembang tidak mencoba makanan khasnya seperti pempek, pindang, es kacang merah, kemplang, dan masih banyak lagi.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
kompleks candi muaro jambi
Berlokasi sekitar 30 kilometer dari Kota Jambi, terdapat kompleks candi Hindu-Budha yang luas bernama Candi Muaro Jambi. Diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu yang terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Penulis pada tanggal 23 Oktober 2018 yang lalu berkesempatan untuk berkunjung ke candi ini.

Tidak banyak candi-candi yang terletak di wilayah Sumatera, yang penulis ketahui diantaranya adalah Candi Muaro Takus di Riau yang diperkirakan merupakan peninggalan kerajaan Sriwijaya, Candi Bumi Ayu di Sumatera Selatan, dan Candi Muaro Jambi.

Penulis berangkat bersama Dicky dan satu orang teman lainnya yang berasal dari kota jambi. Saat itu penulis mengikuti kegiatan relawan mengajar pada hari sebelumnya, setelah selesai kegiatan penulis pun mempunyai waktu singkat untuk berpergian di sekitar Kota Jambi. Sobat bisa membaca tulisan sebelumnya mengenai Jembatan Gentala Arasy : Indahnya Jembatan Gentala Arasy.

Saat berangkat menuju lokasi candi, matahari begitu terik. Perjalanan menuju lokasi candi dengan menggunakan sepeda motor. Di tengah perjalanan teman penulis yang berasal dari Jambi mengarahkan sepeda motor menuju ke jalan sempit di pinggir sungai, melewati rumah-rumah warga. Pemandangan aliran sungai batanghari terlihat. Penulis membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk tiba di lokasi, tepatnya pada pukul sebelas siang.

Setelah memarkirkan sepeda motor, penulis pun menuju pintu masuk dan membayar tiket. Waduh lupa saat itu bayar berapa, yang pastinya terjangkau dan tidak mahal. Penulis pun berjalan mengelilingi kompleks candi yang luas. Bahkan menurut mbah wiki luasnya mencapai 3981 hektar dan merupakan kompleks percandian Hindu-Budha terluas di Asia Tenggara.

Kompleks percandian ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1824 oleh S.C. Crooke yang merupakan seorang letnan Inggris yang saat itu sedang melakukan pemetaan daerah aliran sungai. Barulah setelah itu dilakukan penelitian-penelitian dan pada tahun 1975 dilakukan pemugaran yang dipimpin oleh arkeolog R. Soekmono.
candi gumpung di muaro jambi
Candi Gumpung
candi tinggi di muaro jambi
Candi Tinggi
Candi Gumpung dan Candi Tinggi merupakan dua candi dengan ukuran yang paling besar di kompleks percandian Muaro Jambi. Sayangnya saat itu di sekitar candi tidak terdapat papan informasi mengenai kedua candi ini, hanya tulisan papan nama candinya saja. Sepertinya saat ini sudah banyak perubahan di objek wisata ini.

Candi pada umumnya dapat berfungsi sebagai tempat beribadah, pusat pengajaran agama, tempat pemujaan, dan gapura. Kompleks Candi Muaro Jambi diperkirakan sebagai tempat keagamaan pada masa lampau. Diperkirakan juga tempat ini pernah didatangi oleh I-Tsing pada abad ke-7, seorang biksu asal Tiongkok.

Terdapat pohon-pohon yang rindang di sekitar kompleks candi, penulis pun duduk beristirahat sebentar di bawahnya. Oh ya Saat di perjalanan tadi penulis melihat banyak pohon-pohon duku dan durian, sayangnya penulis datang bukan pada musim buahnya.

Sekitar satu jam mengitari kompleks candi, penulis pun kembali ke Kota dan singgah ke salah satu kedai untuk makan siang. Untuk wisata kuliner di Jambi kurang lebih sama seperti Palembang, terdapat makanan pindang, pempek, dan mie celor.




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
ampera
Palembang, Ibu Kota Provinsi Sumatera Selatan. Penulis pertama kali berkunjung ke kota ini belasan tahun yang lalu, Saat ikut rombongan keluarga dalam perayaan pernikahan kakak sepupu di Daerah Plaju atau kawasan Seberang Ulu Palembang. 

Palembang secara garis besar terbagi menjadi dua wilayah, yaitu wilayah Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Dipisahkan oleh Sungai Musi dan dihubungkan dengan Jembatan termasyhur di Indonesia, yaitu Jembatan Ampera. Melihat jembatan megah ini pertama kali 2009 yang lalu menjadi kenangan tersendiri bagi penulis.

Jembatan ini merupakan salah satu landmark kota palembang, Gambar jembatan dimasukkan ke dalam logo Provinsi Sumatera Selatan dan juga logo klub bola kebanggaan Sumatera Selatan yaitu Sriwijaya FC.  

Keunikan dari jembatan ini terdapat dua buah menara berwarna merah lengkap dengan tulisan "AMPERA" di menaranya. Di bawah jembatan menghampar Sungai Musi yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera.

Jembatan Ampera diresmikan pada tahun 1965, serta awal mulanya dinamakan Jembatan Bung Karno. Namun seiring berjalannya waktu namanya diganti dengan Jembatan Ampera. Panjang jembatan 1.177 meter dan lebar 22 meter.  Jembatan Ampera dulunya mempunyai teknologi canggih berupa bagian tengah jembatan bisa diangkat agar kapal-kapal besar bisa melintas, namun sejak tahun 1970 an sudah tidak dapat diangkat lagi. 

Kendaraan tidak bisa berhenti di atas jembatan. Tersedia jalur trotoar di kedua sisi jembatan yang bisa dilalui khusus pejalan kaki. Sobat bisa melihat aktivitas di sungai musi biasanya akan ramai di pagi atau sore hari, kapal-kapal tongkang, perahu warga, serta klotok sering terlihat lalu lalang. Dari atas Jembatan Ampera dapat terlihat kawasan Benteng Kuto Besak, Kampung Kapitan, dan kawasan pasar 16 ilir. Kawasan yang penulis sebutkan tadi bisa dicoba dikunjungi bila sobat datang ke Palembang. 

Lalu lintas di atas jembatan sudah sangat padat setiap harinya. Wajar saja jika pemerintah berinisiatif membangun jembatan baru agar mengurangi beban yang dipikul oleh Ampera selama puluhan tahun lamanya. Saat ini sudah ada jembatan Musi IV yang mulai beroperasi awal tahun 2019 yang lalu.

Tempat Wisata di Palembang 

Di bagian akhir tulisan penulis akan menyebutkan 7 tempat wisata yang bisa dijadikan referensi jika berkunjung ke Palembang.
1. Jembatan Ampera (ini harus di posisi paling atas)
2. Kawasan Benteng Kuto Besak (terdapat Tugu Iwak Belido)
3. Pulau Kemaro
4. Museum Balaputradewa (gambar rumah limas di uang pecahan Rp 10.000 lama)
5. Al-qur'an Al-Akbar di Gandus (berlokasi agak jauh dari pusat kota)
6. Taman Wisata Punti Kayu
7. Berburu pempek khas palembang

Tempat wisata alam di dekat Kota Palembang tidak banyak, lebih menonjol wisata kulineran. Bagi sobat yang menyukai wisata kuliner bisa mencoba makanan khas Palembang seperti Pindang, Tekwan, Model, Laksan, Es kacang merah, kemplang, Mie Celor, dan masih banyak lagi. Jika mau wisata alam cobalah berkunjung ke wilayah kabupaten di Sumsel seperti Lahat dan Pagaralam.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
tribun barat dan lapangan stadion haji agus salim padang
Sebagai seorang maniak bola dan cukup mengikuti perjalanan Liga Indonesia setiap tahunnya, membuat penulis tertarik mengunjungi stadion ini saat berada di Kota Padang. Stadion ini merupakan markas klub kebanggaan Tanah Minang yaitu Semen Padang FC. 

Tim berjuluk Kabau Sirah ini sempat menorehkan prestasi yang gemilang di kala menjadi juara Liga Premier Indonesia musim 2011-2012. Atas prestasi tersebut tim ini menjadi wakil Indonesia di Piala AFC pada tahun 2013 dan berhasil menapaki babak perempat final. Namun sayang saat itu Vendry Mofu Dkk harus tersisih dikalahkan oleh wakil India, East Bengal.

Penulis berkunjung ke Stadion Gor Haji Agus Salim Padang pada tanggal 29 juli 2018, setelah berperjalanan dari Bukittinggi (Solo Traveling ke Bukittinggi). Tiba di stadion sekitar pukul 12 siang, panitia saat itu sedang sibuk sekali mempersiapkan pertandingan. Tetapi yang bertanding bukanlah Semen Padang, melainkan Sriwijaya FC melawan Borneo FC.

"Lah kok Sriwijaya mainnya di Padang?", alasannya karena saat itu Stadion Jakabaring Palembang sedang dalam tahap renovasi persiapan Asian Games 2018.  Oleh karena itu, Sriwijaya FC harus mencari markas baru sebagai kandang. 

Sebenarnya Kota Palembang mempunyai stadion lain yang berkualitas, yaitu Stadion Bumi Sriwijaya. Tetapi stadion tersebut saat itu dalam masa renovasi juga. Pihak manajemen pun memilih Stadion Gor Haji Agus Salim di Kota Padang sebagai tempat sementara menggelar laga kandang.
tribun timur stadion haji agus salim padang
Penulis memasuki stadion melalui pintu barat dengan membawa ransel dan tas kamera kecil. Awalnya penulis mencari loket tiket tetapi saat itu pintu masuk belum dijaga ketat, jadilah penulis masuk tanpa izin :D Penulis hanya senyum saja ketika melewati beberapa panitia. Mungkin saja dikira awak media, jadi penulis dibiarkan masuk begitu saja.
kursi vvip stadion haji agus salim padang
Setelah berhasil masuk, penulis naik menuju tribun VVIP. Di dekat sana penulis melihat beberapa awak media yang sedang mempersiapkan perangkat untuk merekam pertandingan. Penulis dengan leluasa memasuki tempat duduk VVIP yang masih kosong. Dari sini terlihat jelas lapangan pertandingan dan tribun timur yang mempunyai ciri khas Minang di bagian tengah.
markas semen padang fc stadion haji agus salim padang
Penulis pun turun dan mengelilingi stadion. Saat tiba di dekat tribun timur, maka pemandangan lapangan dengan latar tribun barat akan terlihat. Kursi tempat duduk dibentuk pola "SP FC" yang memiliki arti Semen Padang FC.
tribun barat stadion haji agus salim padang
Stadion ini berkapasitas sekitar 10.000 penonton. Hanya tribun barat saja yang mempunyai atap dan single seat. Penulis melihat papan skor manual yang terletak di Tribun Selatan. Pada papan skor tersebut sudah dipasang nama Sriwijaya dan Borneo dengan skor 0-0, belum dimulai mainnya.
papan skor stadion haji agus salim padang
Pertandingan akan dmulai pada pukul 15.30 WIB, sedangkan penulis harus kembali ke Bandara pukul 14.00 WIB. Sayang sekali penulis belum bisa menyaksikan pertandingan tersebut secara langsung di stadion, penulis hanya menyaksikan melalui layar kaca saja. 

Gol Yogi Rahadian membawa Sriwijaya FC unggul tipis 1-0 dari Borneo FC. Skor tersebut bertahan hingga akhir pertandingan, Sriwijaya pun menang. Namun sayang cerita dan catatan menyedihkan menimpa tim ini, karena tim berjuluk Laskar Wong Kito harus degradasi ke Liga 2 pada tahun 2018. 

Sriwijaya FC finish di posisi 17, sebuah hal yang mengejutkan karena tim ini merupakan langganan juara. Konflik internal di pihak manajemen membuat penampilan Sriwijaya FC tidak stabil dan sering mengalami kekalahan. Para pemain inti mencari tim baru karena gaji yang tidak lancar. Peraih double winner tahun 2007 itu harus rela turun kasta, penulis saat itu benar-benar kecewa.

Di tahun yang sama Semen Padang FC berhasil promosi ke Liga 1, namun lagi-lagi harus turun kasta ke liga 2 satu tahun berikutnya. Akhirnya Sriwijaya FC dan Semen Padang FC kembali berlaga di wadah kompetisi yang sama di liga 2. Semoga berhasil promosi, karena "Sumatera Rindu Juara".
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
pulau lengkuas belitung
Hari kedua di Belitung, Berbicara mengenai keindahan alam di Bumi Laskar Pelangi yang didominasi oleh bebatuan granit alami, pasir putih, dan taman bawah laut yang menawan. Pada hari pertama sobat dapat membaca postingan : Laskar Pelangi Sebuah Karya Sastra yang Menaikkan Parawisata Belitung.

Nah, kelanjutan cerita penulis di hari kedua dapat di simak dalam ulasan di bawah ini, selamat menyimak :)

Pantai Tanjung Tinggi

pantai tanjung tinggi belitung
Alarm berbunyi dengan suara yang cukup kuat dan berhasil membangunkan penulis pukul lima pagi, setelah itu langsung bersiap siap untuk menuju Pantai Tanjung Tinggi yang memakan waktu sekitar 45 menit dari Kota Tanjung Pandan.
pantai tanjung tinggi tempat syuting film laskar pelangi
Pantai ini menjadi salah satu lokasi syuting Film Laskar Pelangi, hal itu dipertegas dengan berdirinya sebuah prasasti "Lokasi Syuting Film - The Film Site of Laskar Pelangi". Saat itu Ikal dkk berlarian kesana kemari dan tertawa (kok seperti lirik lagu :D). Pantai ini memiliki batu-batu granit yang tinggi dan besar, lalu air laut yang jernih beserta pasir putih semakin membuat elok pemandangannya.
sunrise pantai tanjung tinggi
Gugusan batu granit yang ada di Pantai Tanjung tinggi menarik perhatian penulis dkk untuk menaikinya, tentunya dengan memperhatikan kaki kami saat melangkah dan menginjak. Matahari pagi membuat sebuah skema alam yang menawan, cahaya menyembul diantara bebatuan. Kelembutan pasir putih yang ada di pantai ini membuat penulis melepaskan sandal, bertelanjang kaki untuk bersentuhan langsung dengan pasirnya.

Hopping Island
Menurut penulis, belum lengkap jika berkunjung ke Belitung tetapi tidak mengunjungi Pulau-pulau kecil di dekatnya. Untuk sewa menyewa kapal, semuanya telah diatur oleh teman penulis bernama Valen yang mempunyai kenalan dengan pemilik kapal. 

Lokasi keberangkatan kapal dari Pantai Tanjung Kelayang, rupanya saat berada di sana penulis bertemu dengan rekan kerja Valen yang kebetulan ingin berangkat bersama. Jadinya jumlah penumpang kapal saat itu tiga belas orang.

Pulau Pasir Timbul
pulau pasir timbul belitung
Lokasi pertama yang disambangi adalah Pasir Timbul, pulau pasir yang terbentuk karena permukaan air laut yang sedang surut. Nah, jika air laut sedang pasang maka kemungkinan pasirnya akan tenggelam dan tidak terlihat. 

Waktu terbaik untuk menuju lokasi ini adalah saat pagi hari, jangan lewatkan untuk berswafoto bersama pasir yang berwarna putih dan jernihnya air laut. Katanya sih akan terlihat bintang laut di pulau pasir ini, namun saat itu penulis belum beruntung karena tidak ada bintang laut yang terlihat.

Pulau Lengkuas

pulau lengkuas di belitung

Pulau ini merupakan tujuan utama penulis dkk, katanya sih kalau ke Belitung harus mengunjungi pulau cantik ini. Sebuah Mercusuar berwarna putih yang tinggi menjulang menjadi ciri khasnya. Usia menaranya sudah seratus tahun lebih, dibangun pada tahun 1882 saat zaman penjajahan Belanda. 

mercusuar pulau lengkuas belitung
Hal pertama yang terlintas di pikiran penulis ketika melihat Mercusuar di pulau ini adalah menaikinya. Namun sayang sejak Mei 2017 sudah tidak diperbolehkan lagi bagi pengunjung yang ingin naik ke atas puncak menara, hanya sampai lantai tiga saja. 

Saat penulis datang berkunjung ke sana, menaranya juga dalam masa pemeliharaan jadi urunglah niat penulis untuk naik. Baiklah, tidak perlu kecewa karena akan ada sebuah hiburan yang menarik yaitu bermain bersama ikan-ikan. Penulis dkk diantar oleh pengemudi kapal menuju spot snorkeling di dekat Pulau Lengkuas.
snorkeling di dekat pulau lengkuas
Tanpa berlama-lama penulis langsung mengambil peralatan dan menyeburkan diri ke dalam air laut, yang paling penting adalah membawa potongan roti untuk dibagikan ke ikan-ikan. Sontak para ikan berdatangan dan menggeromboli penulis.
 
Pulau Kelayang
pulau kelayang belitung
Pulau terakhir yang penulis sambangi adalah Pulau Kelayang yang juga mempunyai bebatuan granit dengan ukuran jumbo. Ada sebuah spot keren di pulau ini, yaitu dua buah batu granit yang berhimpitan dan membuat celah seperti gua kecil. Air yang dangkal pun masuk ke dalam gua dan menjadi daya tarik teman-teman yang lainnya.
batu granit di pulau kelayang
Penulis hanya mengamati dari kejauhan saja dan malas untuk mengantri foto, untuk menuju lokasi ini penulis harus melewati hutan kecil yang dipenuhi pohon rambat. Penulis malah tertarik bersantai di pinggir pantai Pulau Kelayang, mengamati sebuah tumpukan batu granit di tengah laut.

Dalam perjalanan pulang, pengemudi kapal menunjukkan sebuah pulau yang unik bernama Pulau Garuda. Dinamakan seperti itu karena susunan batunya berbentuk seperti Burung Gardua. Penulis tidak singgah ke pulau ini, hanya melihat dari kejauhan saja.

Sekitar pukul dua siang, kapal merapat kembali di Pantai Tanjung Kelayang. Petualangan pun selesai. Terima kasih kepada teman-teman Belitung yang sudah menyambut dan membantu penulis selama perjalanan di Belitung. Penulis mendapatkan kabar bahwa beberapa teman-teman penulis yang ada di sana mendapatkan mutasi ke daerah lain. Turut senang mendengarnya, ada yang kembali ke kampung asal dan ada juga yang bertugas di daerah besar di Indonesia.
"Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia" - SMI
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
"Selamat datang di Bumi Laskar Pelangi, terima kasih telah memilih Sriwijaya Air dalam penerbangan anda" Flight Attendant berbicara melalui saluran komunikasi pesawat. Sebuah ucapan yang membuat penulis tertegun memikirkan sesuatu "Sebuah efek karya sastra yang luar biasa, nama Belitung erat sekali dengan kata Laskar Pelangi" tulis penulis dalam sebuah note kecil,

Perjalanan ini lagi-lagi bersama teman bernama Faliq, seorang teman yang sangat gemar berpetualang mencari cinta sejati, loh kok ngawur hahaha. Bukan-bukan maksudnya mencari pengalaman dan memenuhi segala impiannya. Sabtu pagi yang cerah, kala matahari sepenggala naik pukul delapan pagi, Pesawat Boeing 737 seri 800 Next Generation milik Sriwijaya Air berhasil mendarat dengan sempurna di Bandara H.A.S Hanandjoeddin Belitung.

Penulis dan Faliq dijemput oleh teman lama saat kuliah, bernama Adit. Setelah menyelesaikan prosesi salaman dan tanya kabar, penulis pun diantar langsung ke mess pegawai Instansi Fiskus di Tanjung Pandan. Di sanalah penulis akan menumpang menginap, tempat Adit dan yang lainnya tinggal selama berdinas di Tanjung Pandan.

Saat tiba di mess, penulis disambut oleh teman yang lainnya bernama Wisnu, Valen, dan Satria. Mereka bertiga juga merupakan teman kuliah penulis. Setelah meletakkan ransel dan beristirahat sejenak, penulis diantar berkeliling Belitung. Inilah beberapa tempat yang penulis kunjungi selama 2 hari di Belitung.

Replika Sekolah Laskar Pelangi
replika sekolah laskar pelangi
Agaknya nama tempat ini yang pertama kali penulis lontarkan ketika Adit bertanya "Mau kemana dulu kita?". Satu jam perjalanan waktu yang dibutuhkan untuk sampai di sana, menikmatinya dengan melihat sisi kanan kiri jalan yang dipenuhi hutan dan rawa-rawa. Pada beberapa titik akan terlihat bekas galian tambang timah yang menganga.

Penulis tiba di sebuah sekolah yang jelek dan nampak rapuh bangunannya, ditopang oleh sebuah kayu besar di sebelah kiri bangunan. Agaknya pemandangan ini yang terlukis di dalam Kisah Laskar Pelangi baik di Novel maupun Film.

Penulis sebenarnya menonton filmnya terlebih dahulu dibanding dengan membaca buku. Saat itu di tahun 2010 diadakan nonton bareng di tempat lembaga kursus di kampung, film yang diputar adalah film Laskar Pelangi. Barulah di tahun 2017 penulis membaca buku garapan Andrea Hirata itu, karya sastra yang mendapatkan apresiasi yang tinggi di kalangan pembaca.

sd muhammadiyah gantong belitung
Film dan Novel tersebut benar-benar menaikkan sektor pariwisata Belitung. Semenjak diputar dan diproduksi, orang-orang berdatangan untuk berlibur dan ingin melihat langsung beberapa tempat yang menjadi lokasi syuting film tersebut. Namun lokasi sekolah ini bukanlah lokasi asli tempat di langsungkan pengambilan syuting film, karena sekolah yang lama telah dibongkar.
ruangan kelas sekolah laskar pelangi
Meski begitu bangunan sekolah yang baru dibuat semirip mungkin, dalam ruang kelas terdapat papan tulis hitam lusuh. Lalu di dinding-dinding ruang kelas ditempel tokoh-tokoh pahlawan. Sinar matahari mencari celah memasuki lubang-lubang kecil yang terletak di antara dinding kelas yang terbuat dari papan.

Di luar ruangan, berkibarlah Sang Merah Putih di ujung tiang. Lalu hamparan pasir berwarna putih diletakkan di halaman sekolah. Menjorok di bagian depan sekolah terdapat ukiran bertuliskan "Replika Sekolah Laskar Pelangi" dengan bermacam warna.

Rumah Keong
rumah keong belitung
Jujur saja, ketika memasuki tempat ini penulis tidak terlalu antusias. Lokasinya berseberangan dengan Replika Sekolah Laskar Pelangi. Harga tiket masuknya sangat murah yaitu Rp 5.000 saja, Bangunan yang terbuat dari anyaman rotan berbentuk keong ini memang mempunyai estitika tinggi. 
danau rawa di dekat rumah keong belitung
Penulis lalu berjalan menuju arah dermaga, hanya beberapa puluh meter saja dari rumah keong. Sebuah danau rawa yang terlihat dangkal dan pohon-pohon rawa terlihat hidup berkoloni. Mega-mega yang menghiasi langit menambah foto landscape alam yang penulis ambil.

Museum Kata Andrea Hirata
museum kata andrea hirata
Penulis berekspektasi besar tentang tempat ini, terlihat dari namanya saja sudah sangat menarik perhatian yaitu "Museum Kata". Biaya untuk masuk ke dalam cukup mahal yaitu Rp 50.000, tetapi setiap pengunjung mendapatkan sebuah buku tipis mengenai Laskar Pelangi. 
foto pameran ikal laskar pelangi
Setiap sudut bangunan utama dihiasi foto-foto film Laskar Pelangi, menampakkan foto Ikal CS di film Laskar Pelangi. Kutipan Andrea Hirata terpajang di dinding ruangan, salah satunya berbunyi "Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi mimpimu" pada bagian sisi kiri kutipan terdapat foto Andrea Hirata dengan topi khasnya.
kutipan andrea hirata
Tidak hanya kutipan kata Andrea Hirata, di tempat ini juga terpajang kutipan tokoh-tokoh terkenal lainnya. Selain itu banyak sekali spot foto instagrammable di tempat ini, termasuk jendela jendela unik dan kedai kopi di bagian belakang rumah. 
buku buku adnrea hirata
Terkhusus berbicara tentang buku-buku Andrea Hirata, penulis telah menyelesaikan membaca beberapa buku beliau. Buku terakhir yang dibaca berjudul "Orang-Orang Biasa", ceritanya berlatar tempat bernama Belantik di Belitung.

Sunset Pantai Tanjung Pendam
sunset pantai tanjung pendam beltiung
Sang Surya perlahan kembali turun ke peraduannya, penulis diajak oleh teman-teman menuju spot menyimak pemandangan matahari terbenam di sebuah pantai bernama Tanjung Pendam. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kota. Sebuah kapal yang sedang parkir di pinggir laut yang dangkal menjadi sorotan penulis, bersama langit yang berwarna oranye.

Ah, pedagang pempek yang berjualan di dekat sini membuat penulis terbujuk untuk membelinya. Kuah atau cuko pempeknya memang tidak selezat yang ada di Palembang, tetapi sudah cukup mengobati kerinduan menikmati makanan khas Palembang ini.  Secangkir kopi menemani senja di Belitung kali ini, lengkap dengan guyonan khas Adit dkk. 

Langit pun semakin gelap, penulis kembali ke mess untuk beristirahat. Keesokan harinya penulis melanjutkan perjalanan berkeliling di Belitung. Sambungan cerita dapat dibaca pada : Keindahan Bumi Laskar Pelangi
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
batu malin kundang
Sobat mungkin sudah tau mengenai Legenda Malin Kundang yang durhaka terhadap ibu kandungnya sendiri, lalu cerita Siti Nurbaya yang menceritakan tentang kasih tak sampai karena perjodohan. Dua cerita yang sudah tersohor ini berasal dari Padang, lokasinya juga berdekatan. Penulis berkesempatan untuk melihat tempat yang berkaitan dengan cerita tersebut.

Karena tidak ingin repot-repot mencari sewa motor, penulis pun menggunakan jasa gojek untuk diantar menuju dua tempat tersebut. Penulis mengatur tempat tujuan ke Pantai Air Manis, merupakan tempat keberadaan batu Malin Kundang. Untuk menuju lokasi tujuan penulis melalui Jembatan Siti Nurbaya terlebih dahulu, lokasinya satu arah dengan Pantai Air Manis.

"Pak boleh mampir sebentar, saya mau ngambil beberapa foto di jembatan ini" tawar penulis kepada pengemudi. Syukurlah diizinkan, bahkan penulis diantar ke bawah jembatan untuk melihat pemandangannya dari bawah. Sekalian pengemudi gojeknya mengisi bensin di SPBU.

Jembatan Siti Nurbaya
jembatan siti nurbaya
Jembatan ini diresmikan pada tahun 2002, berdiri diatas Sungai Batang Arau. Tidak jauh dari lokasi jembatan ini terdapat sebuah makam yang konon dipercaya merupakan makam Siti Nurbaya, sehingga nama jembatan ini diambil dari sosok cerita yang terkenal itu.
pemandangan jembatan siti nurbaya
Penulis naik ke atas jembatan dan melihat sebuah landscape yang cukup indah, beberapa bangunan tua, taman, dan kapal kecil yang sedang bersandar terlihat. Lampu-lampu yang terpasang di atas jembatan menjadi salah satu yang ikonik di jembatan ini. Bentuknya sama semua dan berjejer sepanjang sisi jembatan. 
lampu jembatan siti nurbaya
Sedikit bercerita tentang Siti Nurbaya, seorang perempuan yang dijodohkan dengan saudagar tua bernama Datuk Maringgih. Perjodohan ini diakibatkan karena orang tua Siti mempunyai hutang yang menumpuk dengan si Maringgih. Padahal Siti telah mempunyai pujaan hati bernama Syamsul Bahri.

Cinta Siti dan Syamsul tidak bisa bersatu, Syamsul pun tewas dalam sebuah peperangan. Siti pun diceritakan mati bunuh diri. Cerita ini dijuluki "Romeo dan Juliet" dari Padang, cerita kasih tak sampai.

Setelah puas memotret jembatan Siti Nurbaya, penulis kembali ke tempat pengemudi gojek yang menunggu. "Loh nak, sudah puas memotretnya? tidak apa-apa loh jika masih mau motret" Bapaknya baik sekali menawarkan seperti itu, tetapi penulis sungkan untuk berlama-lama karena pengemudi gojeknya juga perlu menarik penumpang lain. 

Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis
batu malin kundang di pantai air manis
"Jangan menolak perintah mamak, mau kau dikutuk jadi batu seperti si Malin Kundang Hah!", siapa yang saat kecil pernah diancam oleh orang tuanya seperti itu? biasanya diucapkan dengan bernada bercanda karena kita menolak memenuhi permintaan orang tua, seperti menolak saat disuruh ke warung :D. Mujarab memang, setelah ucapan itu langsung terbirit birit menuju warung dan mengikuti perintah mamak. 

Setelah tiba di Pantai Air Manis, penulis pun berpisah dengan pengemudi gojek dan memberikan tarif sesuai di aplikasi ditambahkan dengan tips karena rela menunggu penulis di Jembatan Siti Nurbaya. Pantai Air Manis mempunyai hamparan pasir yang cukup luas, tampak beberapa motor ATV sedang parkir di sudut pantai.
pantai air manis padang
Pengunjung tidak terlalu ramai saat itu, karena saat bulan puasa Ramadan. Siapa pula yang mau berpanas-panasan di Pantai saat bulan puasa, penulis saja karena penasaran dan belum pernah ke sini jadinya dipaksakan datang. Penulis lantas mengikuti petunjuk di jalan setapak menuju Batu Malin Kundang, melewati lorong-lorong kecil di antara beberapa warung yang saat itu sedang tutup.

Setelah tiba di lokasi batu, penulis kaget karena batu-batunya dibiarkan saja terbuka tanpa ada pagar dan terkesan tidak begitu diperhatikan. Batu-batunya terlihat sudah mulai terkikis, penulis melihat sebuah batu yang memang terlihat seperti orang yang sedang bersujud.

Batu inilah yang konon dipercaya sebagai jelmaan Malin Kundang yang dikutuk oleh ibunya. Berada di dekat batu bersujud, penulis melihat puing-puing bebatuan yang konon dipercaya sebagai kapal yang digunakan Malin Kundang saat berlabuh.
batu kapal malin kundang
Karena cuaca yang terik dan menyengat, Penulis kembali ke lokasi tempat parkir dan duduk di sebuah kursi kayu panjang. Setelah itu mencoba memesan gojek untuk kembali ke kota, tetapi tidak kunjung dapat pengemudi yang mau menjemput. Mungkin karena lokasinya yang cukup jauh. 

Suasana pantai yang sepi membuat penulis kebingungan bagaimana kembali ke kota, selang beberapa menit penulis kembali mencoba memesan dan alhamdulillah ada yang mau menjemput penulis. Penulis meminta di antar ke Stasiun Kota Padang, di sana terdapat kereta menuju Bandara Int. Minangkabau, tarifnya saat itu masih Rp 10.000.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Lawatan kedua di Tanah Minang menjadi cerita saya kali ini, sebelumnya pernah ke sini saat ke Bukittinggi (Solo Traveling ke Bukittinggi). Tujuan saya kali ini adalah Kota Payakumbuh untuk melihat kemegahan Jembatan Kelok Sembilan dan keindahan Lembah Harau. Saat itu saya berpergian sendirian saat bulan puasa Ramadan.

Tiba di Bandara Int. Minangkabau pada hari Jumat, 10 Mei 2019 pukul sembilan malam.  saya langsung mengontak salah satu teman yang bekerja di bandara, Dia telah mencari info mobil travel yang akan berangkat ke Payakumbuh pada malam hari itu juga. Syukurnya masih ada, jadi saya tidak perlu menginap di Kota Padang dan langsung berangkat ke Payakumbuh malam itu juga.

Sebetulnya agak berisiko karena berangkat pada malam hari dan saya belum pernah ke Payakumbuh sebelumnya, namun setelah memasuki mobil dan bertemu dengan penumpang lain membuat kekhawatiran itu mereda. Di dalam mobil sudah ada seorang bapak berumur sekitar 50 dan seorang perempuan kisaran 30 tahunan. Setidaknya penumpangnya terisi, tidak sendirian bersama sopir.

saya mengira mobil ini akan segera berangkat, rupanya masih menunggu lagi. "Agak sabar nunggu ya bang, nunggu lion dari jogja bentar lagi landing, mudah-mudahan dapat satu penumpang lagi" utas sopir yang saat itu menggunakan jersey klub bola Semen Padang. Pada akhirnya ada satu orang penumpang tambahan, jadi total saat itu ada empat penumpang termasuk saya.

Penginapan di Payakumbuh
Mobil pun melaju menuju Payakumbuh pada pukul sepuluh malam, sepanjang perjalanan saya hanya tertidur, beruntung saat itu posisi duduk di dekat jendela. Tidak terasa 3,5 jam perjalanan telah ditempuh, saya tiba di Payakumbuh dan langsung meminta di antarkan ke Wisma Flamboyant. Saya memilih penginapan ini atas rekomendasi abang driver. Katanya lokasinya strategis, pelayanannya bagus, dan harganya terjangkau.

Saat itu sudah tengah malam, rasa-rasanya tanggung jika langsung check in malam itu juga karena sebentar lagi waktu sahur dan subuh. Lagian saya tidak terlalu mengantuk karena sudah tidur sepanjang perjalanan tadi. Akhirnya saya hanya booking satu kamar untuk keesokan harinya, lalu saya meminta izin kepada staf penginapan supaya diperbolehkan menunggu di lobi penginapan saja malam itu.

Syukurnya diperbolehkan :D, saya pun duduk di kursi lobi sambil memainkan laptop dan gawai. Ada kejadian yang lucu saat saya menunggu di lobi, karena saya duduk berdekatan dengan meja receptionist jadi kelihatan siapa yang akan memesan kamar. Nah, datanglah seorang cowok dan seorang cewek yang ingin memesan sebuah kamar, tetapi ditolak oleh staf penginapan karena setelah ditanya mereka bukanlah pasangan suami istri. Boleh menginap asalkan berada di kamar yang berbeda, mereka pun keluar dan nampaknya mencari penginapan lain :D Sayup terdengar staf penginapannya bilang "maaf da, di sini penginapan syariah, sialhkan cari penginapan lain saja".

Jarum jam menunjukkan pukul empat pagi, saya memasukkan laptop ke dalam tas dan berjalan kaki mencari warung makan untuk sahur. Ketemulah warung makan yang letaknya tidak berjauhan dengan Masjid Ansharullah Muhammadiyah. Selepas sahur saya pun menuju masjid sana untuk salat.

Karena suasana Ramadan, terdapat kajian subuh yang diadakan oleh pengurus masjid. saya pun ikut mendengarkan sembari menunggu langit terang. Setelah pukul enam pagi, saya memesan ojek online untuk mengantarkan saya menuju Jembatan Kelok Sembilan yang terkenal dengan arsitekturnya yang megah. 

Setelah pengemudi gojek tiba menjemput, saya menawarkan ke beliau untuk menjadi tour gudie berkeliling Payakumbuh. Cara ini cukup praktis dibandingkan harus mencari sewa motor, drivernya juga bisa menjadi teman ngobrol. Sepakatlah kami di angka Rp 100.000, nama pengemudinya bernama Pak Wan.

Pemandangan Jalan Terindah di Indonesia, Kelok Sembilan
pemandangan jembatan kelok sembilan
Menurut pendapat saya pribadi, Kelok Sembilan merupakan jalan terindah yang pernah dilihat di Indonesia. Sebuah Jembatan yang megah dan memiliki tikungan-tikungan tajam yang berdiri di tengah-tengah perbukitan hijau. Suasana pagi saat itu sangat sejuk, embun belum sempurna menguap, masih ada yang menempel di rerumputan dan dedaunan.

Hanya sedikit mobil dan motor yang saat itu berlalu lalang. Warung-warung dipinggir jalan nampak kosong, tidak ada yang berjualan karena saat itu sedang bulan ramadan. saya pun agak lama duduk menikmati pemandangan indah ini, membelalakkan mata dan terkagum-kagum dengan kemegahan jembatan. Beruntung sekali saat itu datang tidak ada kabut, saya dapat melihat gugusan bukit nan jauh di ujung sana.
jalan jembatan kelok sembilan
Jembatan ini diresmikan pada Bulan Oktober 2013 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu. Jembatan ini menghubungkan Provinsi Sumatera Barat dengan Provinsi Riau, dari sini hanya sekitar empat jam saja sudah sampai menuju Pekanbaru loh :D. Seketika muncul hasrat untuk melanjutkan perjalanan ke Pekanbaru, tetapi setelah menimbang-nimbang lagi rencana tersebut urung. Alasannya karena Sriwijaya Air tidak menyediakan rute Pekanbaru-Jakarta, jadi harus balik lagi ke Padang untuk terbang ke Jakarta.

Lembah Harau, Tinggi Sekali Tebingnya !
lembah harau sumatera barat
Saya diantar Pak Wan menuju Lembah Harau sekitar pukul sembilan saat itu. saya tak terlalu memperhatikan Pak Wan yang sedang menjelaskan tentang lembah ini, saya fokus memperhatikan dinding tebing yang tinggi dan mengelilingi lembah.  Lembah Harau juga mempunyai air terjun yang mengalir dari atas tebing. Viewnya mengingatkan saya dengan air terjun yang ada di film Up.
air terjun di lembah harau
Nama "Harau" diambil dari kata lokal yang berarti "Parau". Ceritanya dulu penduduk yang tinggal di atas bukit sering dilanda banjir dan longsor yang membuat penduduk berteriak kencang ketakutan sehingga membuat suara mereka parau.
tebing di lembah harau
Setelah berkeliling lembah dengan sepeda motor, saya lalu diajak Pak Wan untuk singgah melihat Harau Dream Park yang menyajikan spot foto instagrammable. Karena saat itu sepi dan tidak ada yang menjaga pintu tiket masuk, saya langsung saja masuk dengan gratis :D 
harau dream park
menara eiffel di harau dream park
Wow ada Menara Eiffel di Harau :D, selain itu ada rumah warna-warni dengan air sungai di depannya. Refleksi warna rumahnya memantul di atas air dan membuat saya tertarik memotretnya, lalu terdapat deretan perahu dengan warna menarik sedang bersandar. 
rumah gadang di lembah harau
saya melihat sebuah Rumah Gadang yang sangat menarik di taman ini, dengan latar belakang tebing yang tinggi menjulang lalu terdapat sebuah kolam yang panjang di depannya. Saya banyak mengobrol dengan Pak Wan, driver gojek yang membawa saya keliling Payakumbuh. Dari beliau saya mengetahui kalau putrinya baru saja menyelesaikan kuliah hukum di salah satu universitas di Payakumbuh. Anaknya juga berbakat dalam bernyanyi. Salam takzim untuk Pak Wan, semoga sehat selalu dan terima kasih sudah mengantar saya keliling Payakumbuh.

Berbuka Puasa di Payakumbuh
Setelah puas mengunjungi Lembah Harau, saya meminta di antar ke salah satu loket mobil travel yang ada di Payakumbuh, memesan tiket untuk besok pagi menuju Padang. Setelah urusan travel selesai, saya pun menuju ke penginapan dan berpisah dengan Pak Wan.

Sekitar pukul empat sore, saya keluar kamar untuk mencari menu buka puasa. Tidak perlu jauh-jauh berjalan kaki soalnya di dekat penginapan tersedia banyak sekali pedagang yang berjualan. Tetapi tidak ada "Rumah Makan Padang" di sini hahaha :D

Setelah kembali ke hotel rupanya sudah disediakan menu buka puasa gratis dari pihak hotel :D wah kalau tau begitu saya tidak perlu membeli takjil. Terima kasih Wisma Flamboyant atas pengalaman menginap yang menyenangkan :D.

Keesokan harinya pada hari Minggu, saya kembali ke Padang pukul 6.00 WIB dengan menggunakan mobil travel. Cerita di Padang dapat sobat baca pada : Melihat Batu Malin Kundang dan Jembatan Siti Nurbaya di Padang.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Buku Menulis Cerita Perjalanan

Buku Menulis Cerita Perjalanan
Pada tahun 2023, buku pertama saya berjudul Menulis Cerita Perjalanan resmi diterbitkan oleh Penerbit Jejak. Melalui buku ini saya menceritakan perjalanan selama berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Saya ingin perjalanan-perjalanan tersebut, tidak menguap begitu saja tidak ada bekas dan jejaknya. Jika para pembaca tertarik membacanya dapat klik gambar buku atau melalui link berikut : Shopee : https://id.shp.ee/hXGJwGT dan Toko Buku Jejak : https://tokobukujejak.com/detail/menulis-cerita-perjalanan-FCONM.html

Popular Posts

  • Kolam Renang Bojana Tirta, Murah dan Nyaman
  • Solo Traveling ke Lahat Dengan Kereta Api
  • Perjalanan ke Banda Neira Dengan Pesawat Sam Air
  • Naik Motor ke Pik 2, Memang Bisa?
  • Stadion Taman Sari Mangga Besar Jakarta, Jejak Sepakbola di Ibu Kota

Tentang Penulis

Halo para pembaca, penulis adalah seorang pemuda kelahiran tahun ’97. isi blog ini seputar cerita dan catatan penulis ketika berkunjung di beberapa provinsi di Indonesia, tujuan membuat blog ini supaya dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama yang mempunyai hobi traveling. penulis dapat dihubungi dengan berkirim email ke dodonulis1@gmail.com

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

recent posts

    Pages

    • Privacy Policy
    • About Me
    • Disclaimer
    • Contact

    BloggerHub

    BloggerHub Indonesia

    Created with by ThemeXpose